Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

19 May 2022, 03:30 WIB

Mengonversi Harta Dunia

Harta seyogianya dikonversikan menjadi pahala besar di sisi Allah di akhirat.

OLEH FAJAR KURNIANTO

Hidup di dunia hanya sementara. Setiap manusia pasti akan mati, meninggalkan segala yang dimiliki, baik itu keluarga, teman, maupun harta bendanya. Tidak ada yang dibawanya selain beberapa lapis kain penutup jasadnya sebelum dimasukkan ke liang lahat.

Seiring berjalannya waktu, kain itu pun kemudian akan hancur, juga jasad, menyatu dengan tanah. Dari tanah kembali ke tanah. Nabi mengingatkan, “Hiduplah di dunia seakan-akan engkau orang asing atau orang yang sedang lewat” (HR al-Bukhari).

Ibarat orang yang menumpang lewat, lalu pergi melanjutkan perjalanan. Dunia hanya tempat sementara, bukan tujuan akhir. Dunia hanya tempat kita mencari dan mengumpulkan bekal untuk dibawa dalam perjalanan menuju tujuan akhir, yakni akhirat atau yaumul akhir. Akhirat adalah tempat kehidupan akhir, tujuan final manusia.

Bekal yang dibawa manusia menuju akhirat bukanlah keluarga, teman, atau harta benda, melainkan amal saleh. Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang mati diikuti oleh tiga, dua akan kembali, dan satu akan tetap menemaninya. Dia akan diikuti oleh keluarga, harta, dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali pulang, sementara amalnya akan tetap menemaninya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menjelaskan, setiap manusia pasti memiliki keluarga dan harta sebagai bekal hidup. Keduanya selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya.

Orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai sarana untuk berzikir kepada Allah dan menafkahkannya untuk kepentingan akhirat dan dia mengambil harta itu sebatas kebutuhan untuk kehidupan akhirat serta mencari istri yang salehah yang bisa menjaga keimanan. Adapun orang sibuk dengan harta dan keluarga saja sehingga melalaikan Allah, niscaya dia merugi.

Harta yang telah begitu giat dikumpulkan tidak ikut dibawa mati. Harta sejatinya adalah sarana untuk beramal saleh, bukan disimpan tanpa didistribusikan kepada orang lain, terutama yang membutuhkan.

Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Manusia berkata, ‘Wahai hartaku, hartaku.’ Allah menjawab, ‘Tidaklah engkau memiliki harta, wahai manusia, kecuali apa yang engkau makan dan habis atau engkau pakai lalu rusak, atau engkau sedekahkan lalu engkau membawanya dan apa-apa selain itu, hingga ia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain (diwariskan)’.” (HR Muslim).

Orang yang menyadari kehidupan dunia yang sementara akan menjadikan dunia berada di belakangnya, bukan di depannya. Dunia berada dalam kontrolnya, bukan sebaliknya, dunia yang mengontrol dirinya. Dengan mengontrol dunia, seseorang akan menggunakannya di jalan kebaikan.

Dikisahkan, Ibnu Umar tidak pernah merasa bangga dengan hartanya kecuali apa yang telah disedekahkan sebagai amal saleh karena Allah SWT. Suatu ketika, tatkala menunggang untanya, sontak dia merasa kagum terhadapnya.

Lalu, dia pun segera turun, menuntunnya, kemudian menyedekahkannya di jalan Allah. Ia sadar bahwa dunia hanya sementara. Harta seyogianya dikonversikan menjadi pahala besar di sisi Allah di akhirat, dan manfaat nyata bagi sesama.

Wallahu a’lam. ';

Vaksinasi Calhaj Diakselerasi Jelang Keberangkatan

Selama 10 tahun terakhir tingkat kematian jamaah cenderung datar pada angka 2 per 1.000 (mil).

SELENGKAPNYA

Jalan Terjal Transformasi Energi Jerman

Ketergantungan pasokan gas dari Rusia menjadi kendala rencana transformasi produksi energi listrik di Jerman.

SELENGKAPNYA

Wajib Masker Dilonggarkan

Pelonggaran wajib masker menjadi bagian program transisi dari pandemi menuju endemi Covid-19.

SELENGKAPNYA
×