Ilustrasi atlet wushu Indonesia dalam Sea Games Vietnam. | ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.

Olahraga

17 May 2022, 01:11 WIB

Jumanta, Penarik Gerobak Sampah yang Raih Perak SEA Games

Jumanta terpilih berangkat ke Vietnam bermodal prestasi perak PON Jawa Barat 2016 dan emas pada PON Papua 2020.

FITRIYANTO

Benar adanya, garis nasib manusia hanya Tuhan yang mengetahui. Siapa sangka, sosok bocah penarik gerobak, anak buruh panggul di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, kini menjadi pahlawan olahraga Indonesia di arena SEA Games Vietnam. Walau hanya meraih perak di nomor sanda (tarung) 60 kg putra, prestasi Jumanta sangat layak diapresiasi. Apalagi, ini penampilan perdananya di pesta olahraga Asia Tenggara tersebut.

"Saya tidak bisa memberikan perlawanan maksimal di final karena dengkul saya mengalami cedera saat mencoba melepaskan tendangan ke atlet Vietnam itu. Makanya, saya tidak seagresif saat tampil di pertandingan sebelumnya," kata Jumanta menjelaskan kekalahan di final dari Bui Truong Giang di Cau Giay Gymnasium, Hanoi, Vietnam, Ahad (15/5).

Jumanta terpilih berangkat ke Vietnam bermodal prestasi perak PON Jawa Barat 2016 dan emas pada PON Papua 2020. Pencapaian yang butuh pengorbanan dan kerja keras mengingat latar belakang keluarganya.

"Tentu saja perasaan saya senang dan bangga bisa membawa nama bangsa dan menyumbang medali perak," ujar pria kelahiran 22 Mei 1997 ini.

Kembali ke pertengahan 2000-an, Jumanta kecil sudah bergelut dengan kerasnya hidup di Jakarta. Terlahir dari keluarga miskin menuntutnya bekerja keras. Bermodal tenaga, ia menarik gerobak sampah di Warakas, Jakarta Utara, untuk sekadar mendapatkan uang jajan. Hingga saat usianya sekitar sembilan tahun, Jumanta kecil ditawari bergabung oleh Salim Ayuba, pelatih sekaligus pemilik Sasana Salim Ayuba Camp.

Menurut Salim, keluarga Jumanta masih terhitung tetangga karena satu RW. Ia mengajak Jumanta bergabung ke Ayuba Camp yang berlokasi di kolong tol. "Selain Jumanta juga ada anak jalanan lainnya yang saya latih. Mereka awalnya tidak tahu apa itu wushu, mereka kira tinju," kata Salim saat dihubungi Republika, Senin (16/5).

Salim tak melihat bakat. Tujuannya merekrut anak-anak di sekitarnya agar mereka dapat mengubah nasibnya keluar dari lingkaran kemiskinan. Baru setelah berlatih di camp, Salim melihat mental dan etika anak-anaknya. "Jumanta termasuk baik mental dan etikanya. Saya perlakukan semua anak latih seperti anak sendiri," kata Salim.

Meski sudah bergabung dengan Ayuba Camp, Salim tidak melarang Jumanta dan anak lainnya bekerja. Jumanta tetap menarik gerobak sampah sampai SMP. Salim membiarkan karena selain mendapatkan uang jajan Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu sehari, fisik dan mental Jumanta juga terasah.

Salim mewajibkan anak-anak asuhnya bersekolah. Ia meminta dispensasi kalau ada pertandingan. Salim mengingat, Jumanta pada usia 10 tahun sudah bertanding tinju di Monas. “Tantangan melatih anak jalanan harus sabar, tidak keras, dan mengedepankan ketulusan serta kasih sayang,” ujar Jumanta.

Tantangan lainnya, anak jalanan suka menghilang mendadak. Biasanya, kata dia, mereka kembali ke komunitas jalanan. "Untuk Jumanta, saat orang tuanya pindah ke Tanah Merah, dia juga sempat menghilang sehingga saya harus mencarinya saat mau bertanding," tutur Salim.

Ia bangga Jumanta sudah terbilang sukses setelah mendapatkan emas di PON dan perak di SEA Games. Salim juga salut Jumanta tidak melupakan asal-usulnya. "Ia perhatian terhadap juniornya. Tiap habis bertanding, beli oleh-oleh. Juga beli beras, sembako, dan lain-lain untuk tetangganya. Dia orang baik," kata Salim terharu.

Dari hasil kerja kerasnya menekuni olahraga wushu, Jumanta telah memiliki sebidang tanah di Indramayu, kampung kedua orang tuanya, dan juga di Jakarta Utara. 

';

×