Sejumlah anak membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan keliling di Pabuaran, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (20/3/2022). | ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/YU

Opini

17 May 2022, 03:45 WIB

Pesan Membaca di Harbuknas

Secara teoretis membaca akan memacu kecerdasan dan kinerja otak.

EDY PURWO SAPUTRO, Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Peringatan Hari Buku Nasional (Harbuknas)  17 Mei 2022 secara tidak langsung menjadi pertanda pentingnya membaca. Terkait hal ini surah al-'Alaq 1-3 merupakan wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, dan surah itu disebut juga sebagai ayat Iqra karena mengandung perintah untuk membaca ('Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang

menciptakan'). Artinya, perintah membaca sudah ada sejak lama karena memang dengan membaca akan semakin menambah wawasan.

Secara teoretis membaca akan memacu kecerdasan dan kinerja otak sebab ini bisa berkaitan dengan kemampuan mengasah daya ingat. Sejarah juga membuktikan, para ilmuwan terlahir dari kebiasaannya membaca, yang kemudian mampu melakukan transformasi ke bidang yang sesuai kompetensinya.

Oleh karena itu, tidak ada alasan mengabaikan pentingnya membaca. Sayangnya, perkembangan zaman mengubah perilaku membaca dan tentu ini berdampak sistemis terhadap semuanya. Pada masa lalu jamak dijumpai orang membaca koran atau buku di berbagai tempat, tetapi saat ini semakin langka ditemui karena faktanya yang dibaca saat ini adalah smartphone.

 
Secara teoretis membaca akan memacu kecerdasan dan kinerja otak sebab ini bisa berkaitan dengan kemampuan mengasah daya ingat.
 
 

Perubahan

Jika dicermati, sejatinya tidaklah perlu untuk menyalahkan kehadiran smartphone yang memang multifungsi dengan kemampuan yang sangat luar biasa. Di satu sisi, kehadiran smartphone berdampak sistemis pada perilaku, meski di sisi lain juga dimungkinkan untuk mendukung literasi dan kemampuan baca pada era kekinian.

Persoalan yang muncul adalah masih rendahnya minat baca di masyarakat. Hal ini justru kontras dengan fakta ramainya medsos. Artinya, keriuhan pada medsos tidak berbanding lurus dengan minat baca. Padahal, secara teoretis seharusnya keriuhan dan keramaian di medsos mampu mendukung minat baca sehingga berdampak positif terhadap niat belajar dan peningkatan kecerdasan akademik.

Ancaman riil rendahnya minat baca, yaitu budaya literasi juga semakin rendah. Mengacu survei Program for International Student Assessment atau PISA, tingkat literasi Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara.

Yang justru menjadi pertanyaan, dari mana harus memulainya? Pastinya kebiasan ini tidak bisa terlepas dari usia dini, terutama PAUD-TK-SD karena pada tahap golden age ini memberikan keleluasaan dalam membangun budaya membaca dan literasinya. Selain itu, secara medis pertumbuhan otak terjadi pada rentang 0-5 tahun (mencapai 50 persen), lalu di usia 8 tahun (mencapai 80 persen), sedangkan maksimal pada usia 18 tahun.

 
Ancaman riil rendahnya minat baca, yaitu budaya literasi juga semakin rendah. Mengacu survei Program for International Student Assessment atau PISA, tingkat literasi Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara.
 
 

Membangun kebiasaan membaca sedari dini menjadi penting dan kebiasaan ini akan terbangun secara sistematis dan berkelanjutan, karena menjadi habit pada perilaku kesehariannya. Tanpa disadari memang terjadi perubahan perilaku membaca karena dukungan teknologi dan pastinya internet. Artinya, keberadaan teknologi dan tuntutan adopsinya saat ini telah  menjadi kebutuhan dan sekaligus tantangan.

Oleh karena itu, generasi milenial atau Z pada era kekinian ditantang untuk tetap terjaga kebiasaan membacanya, meski dengan cara atau format yang berbeda. Di sisi lain, generasi sebelum generasi milenial atau Z pastinya juga tidak bisa abai, dengan pentingnya tetap membangun budaya membaca.

Terkait hal ini secara teoretis, ada sejumlah manfaat membaca, pertama: menstimulasi mental. Membaca memang berdampak positif terhadap keyakinan dan pemahaman terkait sesuatu sehingga menguatkan persepsian terhadap sesuatu hal. Artinya, membaca buku bisa menambah kekuatan mental dalam menghadapi semua permasalahan hidup.

Kedua: mengurangi stres. Beban hidup dan kehidupan pada era kekinian jelas semakin berat dan semuanya pasti harus diuraikan. Kemampuan mengurai persoalan itu hanya bisa dilakukan jika menguasai permasalahannya.

Padahal, kemampuan itu pastinya harus didukung dengan banyak membaca literatur. Artinya, membaca banyak akan dapat menguasai semua kemungkinan ilmu yang muncul, dan pastinya keterbaruan menjadi sisi penting dari kenikmatan membaca buku. Membaca dalam hal ini, memberikan dampak positif terhadap kemungkinan untuk mereduksi ancaman stres.

 
Oleh karena itu, generasi milenial atau Z pada era kekinian ditantang untuk tetap terjaga kebiasaan membacanya, meski dengan cara atau format yang berbeda. 
 
 

Ketiga: kualitas memori dan kemampuan analisis. Membaca akan memberikan pemahaman terhadap semua acuan yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan di semua bidang tanpa terkecuali. Manfaat dari kebiasaan membaca dapat meningkatkan kecerdasan memori dan meningkatkan kemampuan menganalisis atas semua permasalahan, sehingga bisa mengambil tindakan secara bijak dan arif.

Komitmen

Mengacu pentingnya membaca dan semua persoalan yang semakin berkembang saat ini maka tidak ada salahnya, kebiasaan membaca menjadi acuan untuk meningkatkan iman dan keimanan seseorang. Jika ini mampu dipraktikkan, kualitas hidup akan semakin meningkat sehingga menjadikan seseorang semakin arif dan bijaksana dalam menyikapi tantangan dan persoalan hidup, yang muncul dan berkembang.

Meski tidak mudah, membangun budaya membaca memang harus dilatih dari dini secara sistematis dan berkelanjutan. Oleh karena itu, peran orang tua di rumah dan para guru di sekolah, juga akademisi pada semua tingkatan sangat diharapkan bisa berperan aktif untuk mendukung gerakan cinta buku, dan pastinya gemar membaca.

Ini agar generasi muda bisa semakin tergugah untuk hobi membaca karena yang bisa menaklukkan dunia  adalah mereka yang menguasai iptek dan pastinya, penguasaan ini bisa dicapai dengan banyak membaca. Bukankah ajaran Alquran juga menyerukan urgensi iqra ('Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan').


Cerita Jenazah di Tempat Sampah

para tokoh setempat kemudian menunjukkan lokasi tempat pembuangan jenazah. Orang-orang mengikuti Nabi Musa dari belakang.

SELENGKAPNYA

Sarinah, Revolusi Fisik, dan Lebaran 1966

Toserba Sarinah merupakan obsesi Sukarno dalam revolusi fisik seusai revolusi kemerdekaan.

SELENGKAPNYA

Menghapus Kemiskinan Ekstrem

Pandemi telah melonjakkan permasalahan kemiskinan, jenis, dan dimensinya.

SELENGKAPNYA
×