Sejumlah pemudik berbuka puasa sambil beristirahat di KM 102 ruas tol Cikopo-Palimanan, Subang, Jawa Barat, Kamis (28/4/2022). Padatnya sejumlah rest area di sepanjang jalan tol Trans Jawa membuat pemudik memanfaatkan bahu jalan untuk berbuka puasa dan is | Prayogi/Republika.

Khazanah

14 May 2022, 18:56 WIB

Gabungkan Puasa Syawal dan Qadha Ramadhan, Bolehkah?

Apabila waktu untuk puasa Syawal sudah habis karena digunakan untuk mengqadha puasa Ramadhan, orang tersebut dapat mengqadha puasa Syawal pada bulan Dzulqaidah.

 OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Bulan Syawal merupakan salah satu bulan yang mulia di sisi Allah. Pada bulan ini, ada ibadah yang sangat istimewa dan besar pahalanya, yakni puasa sunah selama enam hari. Nah, salah satu pertanyaan yang kerap muncul terkait hal ini adalah bolehkah puasa Syawal digabungkan dengan puasa qadha Ramadhan?

Pendakwah sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, KH Rakhmad Zailani Kiki, mengatakan, puasa sunah Syawal dan puasa qadha Ramadhan tidak bisa digabung pelaksanaannya. Sebab, kedua puasa tersebut memiliki hukum yang berbeda. Puasa qadha Ramadhan hukumnya wajib, sedangkan puasa Syawal hukumnya sunah. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa yang lebih utama dilaksanakan adalah mengqadha puasa Ramadhan.

"Bagi seseorang Muslim atau Muslimah yang memiliki utang puasa Ramadhan, dianjurkan untuk mengqadha segera utang puasanya. Setelah utang puasa Ramadhannya terbayar, dia boleh melanjutkannya dengan puasa sunah Syawal," kata Kiai Kiki kepada Republika, Kamis (12/5)

Apabila waktu untuk puasa Syawal sudah habis karena digunakan untuk mengqadha puasa Ramadhan, orang tersebut dapat mengqadha puasa Syawal pada bulan Dzulqaidah. Pendapat tersebut seperti yang dinyatakan oleh al-Khatib as-Syarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj.

Sementara, Pimpinan Quantum Akhyar Institute, Ustaz Adi Hidayat (UAH), mengatakan, puasa sunah Syawal akan menambah nilai pahala yang didapat seorang Muslim. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, ‘’Barang siapa yang melakukan puasa pada bulan Ramadhan, kemudian ia ikutkan dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa satu tahun." (HR Abu Dawud)

Dari hadis tersebut, kata UAH, dapat diketahui bahwa orang-orang beriman yang telah menyempurnakan puasa Ramadhan dan menambah enam hari puasa pada bulan Syawal, maka menjadikan nilai pahala puasanya setara dengan setahun penuh. Ustaz Adi Hidayat kemudian menjelaskan tentang rumus dilipatgandakan pahala kebaikan tersebut, yakni berdasarkan Surah al-An’am ayat 160.

"Jadi, kalau Anda yang menunaikan puasa Ramadhan yang sempurna selama satu bulan, dikalikan sepuluh, singkatnya senilai dengan sepuluh bulan. Bila kemudian sebulan, tiga puluh hari dikali sepuluh sama dengan tiga ratus. Dan, enam hari dikalikan sepuluh sama dengan enam puluh. Tiga ratus ditambah enam puluh menjadi tiga ratus enam puluh hari, bukankah ini akumulasi jumlah kurang lebih selama setahun. Maka, nilai fantastis ini diberikan Allah sebagai hadiah untuk umat Nabi Muhammad melalui kemuliaan Rasul-Nya, puasa sebulan Ramadhan plus enam hari pada bulan Syawal sama nilainya dengan puasa satu tahun penuh," papar UAH dalam tausiyah virtual yang juga disiarkan melalui kanal resmi Adi Hidayat Official, beberapa hari lalu.

Lebih lanjut, UAH menjelaskan, dalam hadis tersebut terdapat kata tsuma atba'ahu yang dipahami bentuknya dalam dua makna sehingga puasa sunah Syawal bisa dilaksanakan berurutan, yakni dari 2 sampai 7 Syawal, atau bisa juga dengan berselang-seling selama masih dalam bulan Syawal.

"Jika ada kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan secara berurutan, boleh misalnya diselang-seling dulu, selama sehari atau berdasarkan kondisi tertentu," katanya.

UAH menjelaskan bahwa banyak Muslim, khususnya wanita, yang mengalami haid saat Ramadhan sehingga wajib mengqadha. Lalu, mana yang utama untuk didahulukan antara qadha puasa dan melaksanakan puasa sunah Syawal? Menurut dia, lebih diutamakan untuk mengqadha puasa Ramadhan terlebih dulu. Setelah selesai, dapat mengoptimalkan waktu yang tersisa pada bulan Syawal untuk melaksanakan puasa sunah tersebut.

"Memang betul yang puasa qadha ini masanya panjang. Tapi, penting diingat, kita tidak bisa menentukan kapan ajal tiba atau datang, karena itu daripada pulang kepada Allah membawa status berutang, mending selesaikan qadhanya, kemudian selesainya kita masuk ke puasa Syawal, dilakukan ikhlas," katanya.


Kembali kepada Fitrah

Semoga kita berusaha bersama-sama menjaga kedua makna fitrah tersebut.

SELENGKAPNYA

Waspadai Potensi Tsunami Anak Krakatau

Pemerintah klaim telah berupaya membuat program mitigasi tsunami dari tingkat hulu hingga hilir.

SELENGKAPNYA

Harapan Setelah Lebaran

Saat silaturahim Lebaran, keluarga besar berkumpul, duduk berdekatan, makan minum satu meja.

SELENGKAPNYA
×