Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

13 May 2022, 14:05 WIB

Satu Amal dengan Multiniat

Satu amal dengan multiniat akan mendapatkan multipahala.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Di antara makna “bismillah” (dengan nama Allah) adalah berniat ikhlas karena Allah. Karena itu, setiap amal hendaklah dimulai dengan “bismillah”. Ini supaya semua perbuatan benar-benar dilakukan karena Allah.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Kullu amrin zii baalin laa yubadau bibismillahi fahuwa aqtha (Semua urusan penting yang tidak dimulai dengan nama Allah maka itu terputus)” (HR Ibn Hibban). Maksudnya, terputus dari rahmat-Nya sehingga amal tersebut tidak mendapatkan pahala dari-Nya. Bukankah kebahagiaan seorang hamba adalah ketika amalnya diakui oleh-Nya?

Benar, kita juga merasa eksis dan bermakna ketika hasil kerja kita ada yang mengapresiasi. Alquran penuh dengan ayat-ayat yang mengapresiasi kerja para nabi dan orang-orang saleh terdahulu. Misalnya, ketika mengapresiasi Nabi Zakaria, Yahya, dan Ilyas, Allah menyebutkan: “Kullun minash shaalihiin” (QS al-Anam: 85).

Ketika menyebutkan Nabi Daud dan Sulaiman, apresiasinya adalah: “//Ni’mal abdu innahuu awwaab// (Hamba terbaik yang banyak kembali dan bertaubat kepada Allah)” (QS Sad:30).

Ini bukti bahwa Allah menghargai hamba-hamba-Nya yang saleh agar mereka bahagia. Untuk mendapatkan pengakuan tersebut, syaratnya hanya satu niat ikhlas selalu dalam segala amal.

Surah al-Ikhlas diturunkan sebagai deklarasi keharusan beramal karena Allah. Di sini sang hamba menyatakan seperti dalam surah al-Fatihah: “iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (hanya kepada-Mu aku beribadah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan)”.

Niat ikhlas ini menjadi penting. Karena itu, para ulama dalam setiap buku yang mereka tulis selalu dibuka dengan “babul ikhlash”. Alasannya khawatir jangan sampai dalam menulis atau membaca buku tersebut terjatuh dalam riya. Jadi, bab tersebut berfungsi sebagai pengingat supaya hati tetap teguh dalam niat yang sama, yaitu ikhlas karena Allah.

Lebih dari itu, dalam berniat para ulama sangat cerdas sehingga dalam satu amal mereka tidak mencukupkan satu niat, tetapi memperbanyak niat. Ini diambil dari hadis Nabi Muhammad SAW: “Innamal amaalu binniyaat wa innama likullim riin maa nawaa (Sesungguhnya setiap amal bergantung niat dan setiap amal akan mendapatkan apa yang diniatkan)” (HR Bukhari Muslim).

Maksudnya bahwa sebuah amal dikatakan ibadah ketika niatnya untuk ibadah, lebih dari itu bahwa satu amal dengan multiniat akan mendapatkan multipahala.

Ambil contoh misalnya: “menuntut ilmu” dengan niat yang banyak seperti untuk mendapatkan ilmu nafi, untuk menguatkan ukhuwah, agar istiqamah, untuk silaturahim dengan ulama, dan sebagainya, maka semua niat tersebut dihitung pahala. Padahal amalnya hanya satu.

Begitu juga “puasa enam hari bulan Syawal”. Silakan perbanyak niat, misalnya untuk melaksanakan anjuran Nabi, untuk mendapatkan pahala puasa setahun, untuk mengendalikan nafsu, dan sebagainya.

Para ulama mengatakan: “ata’jazuuna anin niyah” (hanya untuk berniat Anda tidak bisa)?


Kurban dengan Niat Akikah

Akikah itu waktunya luas dan lebih senggang sehingga dapat dilakukan di waktu lain.

SELENGKAPNYA

Bijak dalam Implementasi IoT 

SELENGKAPNYA

PBB Himpun Fakta Pembunuhan Abu Akleh

Israel menarik dugaan bahwa Abu Akleh gugur akibat tembakan dari militan Palestina

SELENGKAPNYA
×