Agus Wiyanto Tan adalah seorang mualaf yang juga mantan pendeta mengagumi konsep tauhid dalam ajaran Islam. | DOK IST

Oase

08 May 2022, 09:48 WIB

Agus Wiyanto Tan dan Kisah Islamnya Mantan Pendeta

Bagi Agus, melepaskan iman dan Islam hanya akan membuatnya kosong.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Allah Ta’ala Maha Membolak-balikkan hati manusia. Ada yang dahulu menyimpan syak wasangka terhadap Islam, tetapi kini justru teguh meyakini tauhid. Dan, mungkin saja di tempat lain yang terjadi adalah sebaliknya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya sebuah doa, “Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinika.”

Agus Wiyanto Tan mengaku bersyukur. Sebab, Allah SWT telah menetapkan hatinya dalam cahaya iman dan Islam. Sebelumnya, mualaf tersebut merupakan seorang pemuka agama non-Islam.

Lelaki yang kini berusia 45 tahun itu menuturkan kisahnya dalam menerima hidayah Illahi. Agus Wiyanto mengatakan, dirinya berasal dari keluarga yang terbiasa akan kemajemukan. Kebanyakan anggota keluarga adalah non-Muslim. Namun, ada pula di antaranya yang berislam.

Warga Surabaya, Jawa Timur, itu mengungkapkan, masa kecilnya penuh dengan berbagai dinamika. Sayangnya, ia sempat terjerumus dalam dunia gelap. Kondisinya saat itu jauh dari tuntunan moral dan agama.

 
Agus Wiyanto berasal dari keluarga yang terbiasa akan kemajemukan. Kebanyakan anggota keluarga adalah non-Muslim. Namun, ada pula di antaranya yang berislam.
 
 

Menapaki usia 25 tahun, Agus mulai tersadar. Ia memahami, kalau terus menerus menyiakan waktu, masa depannya akan semakin tidak pasti. Kira-kira setahun kemudian, pria berdarah Tionghoa itu menunjukkan komitmennya untuk berubah menjadi pribadi yang lebih terarah.

Saat berumur 26 tahun, ia mulai menempuh jenjang pendidikan nongelar. Lembaga yang menjadi tempatnya belajar bukanlah sekolah biasa, melainkan sekolah kaderisasi pemuka agama. Cita-citanya ketika itu adalah menjadi seorang pendeta yang dihormati di Kota Pahlawan.

Selama dua tahun, Koh Agus menjalani proses pendidikan di sana. Sembari bersekolah, ia menerima tugas untuk mengabdi pada sebuah gereja lokal. Begitu lulus, ia langsung dikirim ke tempat-tempat ibadah di berbagai wilayah.

Tugas pertamanya adalah menjadi pemuka agama di sebuah gereja di Kalimantan Timur. Koh Agus mengenang, masa itu mulai memunculkan banyak tantangan. Ia bahkan pernah berjalan masuk hingga ke pedalaman hutan rimba. Hal tersebut dilakukannya untuk diseminasi ajaran agama non-Islam yang dianutnya kala itu.

Misinya di Kalimantan Timur menuai pujian dari rekan-rekan di Jawa. Selanjutnya, Agus diberi tugas baru, yakni menyiarkan khutbah keagamaannya ke Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Seperti yang sebelumnya, aktivitasnya pun mendapatkan apresiasi dari pemberi tugasnya. Berikutnya, ia bertugas di berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) dan Bandung (Jawa Barat).

Di Kota Kembang, ia mulai mengenal dan jatuh cinta pada seorang perempuan kemudian dilamarnya. Pasangan tersebut sama-sama menekuni bidang diseminasi keagamaan. Namun, istrinya itu cenderung memilih spesialisasi musik.

Menjalani peran baru sebagai seorang suami, membuat Agus sering berefleksi diri. Ia ingin menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menghadapi problem apa pun dalam hidup. Baginya, apa-apa mesti dikenal lebih dekat sebelum diberikan penilaian atau penghakiman.

Tertarik Islam

Koh Agus semakin rajin membaca banyak hal, termasuk yang berkaitan dengan perbandingan agama. Ia pun mendalami ajaran religinya sendiri saat itu. Ternyata, keraguan demi keraguan mulai muncul dalam hatinya.

Satu hal membuatnya sangsi, yakni adanya perintah untuk tidak sekadar bergaul dengan umat agama lain, termasuk kaum Muslimin. Interaksi sosial yang dilakukan itu pun mesti dengan tujuan, yakni mengajak umat tersebut agar beriman kepada ajaran agamanya—non-Islam.

Apa yang selama ini dipelajari dari kitabnya justru membuatnya semakin dekat dengan Islam. Ditambah lagi, banyak kesangsian yang ditemukannya sesudah membaca kitab agamanya saat itu. Agus saat itu merasa, keimanan terhadap agamanya semakin tergerus atau bahkan hilang sama sekali.

“Saya membahas keadaan ini dengan istri saya dahulu (kini mantan). Hanya saja, dia tidak menanggapi serius. Dan, bukan waktu yang sebentar saya berkompromi dengan ini, setidaknya selama 12 tahun,” kata Koh Agus dalam siaran Mualaf Center Aya Sofia yang disimak Republika via YouTube baru-baru ini.

 
Bukan waktu yang sebentar saya berkompromi dengan ini, setidaknya selama 12 tahun.
 
 

Ya, belasan tahun lamanya Agus menghadapi pergolakan, baik dengan orang terdekatnya maupun dirinya sendiri. Pada akhirnya, hati dan pikirannya mantap menerima Islam. Baginya, kebenaran adalah sesuatu yang harus dipegang kuat walau bagaimanapun.

Ia pun mulai menunjukkan secara terang-terangan keberpihakannya pada ajaran Islam. Lantas, istrinya saat itu mulai protes. Berbagai cara dilakukan Agus untuk menjawab protes itu, yakni menjelaskan pokok-pokok akidah Islam kepada pasangannya itu.

Menurut pendapat beberapa ulama, boleh bagi seorang Muslim untuk memiliki istri yang non-Muslim. Namun, Agus merasa bahwa peran suami adalah imam atau pemimpin. Maka istri haruslah menjadi makmum yang mengikutinya.

Karena perbedaan di antara keduanya tidak lagi bisa dijembatani, maka pasangan suami-istri itu berpisah. Kemudian, pada Maret 2021 Agus secara resmi masuk Islam usai mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di Bandung, Jawa Barat.

 
Pada Maret 2021 Agus secara resmi masuk Islam usai mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di Bandung.
 
 

Setelah berislam, mualaf tersebut berpikir untuk kembali rujuk dengan mantan istrinya. Sebab, mereka memiliki dua anak yang perlu kasih sayang orang tua lengkap. Upaya-upaya dilakukan. Akan tetapi, pihak mantan istrinya meminta syarat, Agus harus kembali ke agama lamanya.

Mendengar pengajuan syarat itu, Agus dengan tegas menolaknya. Sebab, dirinya telah berkomitmen untuk menjadi seorang Muslim. Melepaskan iman dan Islam hanya akan membuatnya seakan-akan manusia kosong.

Keputusan tersebut bagi Koh Agus, merupakan adalah petunjuk dari Allah SWT. Karena jika rujuk adalah jalan terbaik tentu Allah SWT akan mempermudahnya. Namun, pada kenyataannya keimanan dia justru ditawar-tawar pihak istri.

Agus mengenang masa-masa awalnya sebagai Muslim. Sebelumnya, ia menjalani kehidupan yang makmur. Sejak memeluk Islam kondisi finansialnya didera masalah.

Memang, selama ini sumber penghasilan hanyalah dari memenuhi tugas kependetaan, yakni berkhutbah. Ia tidak memiliki pekerjaan lain. Dengan kegiatan itu saja, kemampuan finansialnya telah tercukupi atau bahkan melampaui kebutuhan. Misalnya, ia dibolehkan mendapat fasilitas kendaraan roda empat.

Begitu menjadi Muslim, semua fasilitas itu ditarik kembali, termasuk rumah dan mobil. Mualaf tersebut kemudian pergi dari kediaman itu dengan membawa sekeranjang baju. Ia menghuni sebidang kamar kontrakan yang seluas dua kali satu meter persegi.

Dan keranjang ini menjadi pengingatnya, bahwa dahulu sebelum berekonomi cukup. Dia pernah memiliki usaha laundry walaupun kemudian tutup.

Keranjang yang luasnya mirip dengan luas kuburan itu, baginya, juga menjadi sebuah pengingat. Ke manapun dan di manapun nanti dirinya berada, pasti kematian akan dijumpainya. Kelak, “rumah” baginya adalah lubang di dalam tanah seluas 2x1 meter kubik.

photo
Agus Wiyanto Tan bersama keluarga tercinta. - (DOK IST)

Turut dakwah

Sejak menjadi Muslim, Koh Agus berkomitmen untuk ikut berjuang dalam jalan dakwah. Dahulu, ia berdakwah agar masyarakat—termasuk umat Islam—menjadi pemeluk agamanya, yang mengajarkan bahwa tuhan berjumlah banyak.

Namun, kini Agus bukanlah sosok yang alergi terhadap Islam. Mualaf tersebut mendukung syiar demi tegaknya agama Allah.

Ia justru menjadi seorang yang selalu tekun mengaji dan belajar. Hal itu dilakukannya dalam rangka menguatkan iman di dalam hati. Kadang kala, beberapa hal dijadikannya tolok ukur. Sebagai contoh, kumandang azan.

Apabila panggilan shalat itu tidak menggetarkan hatinya atau tidak membuatnya merenung, maka saat itulah imannya sedang rendah. Bila sudah menyadari demikian, Agus akan banyak-banyak beristighfar.

 
Kini Agus bukanlah sosok yang alergi terhadap Islam. Mualaf tersebut mendukung syiar demi tegaknya agama Allah.
 
 

Memang, keimanan perlu ditingkatkan (upgrade) setiap saat. Sebab, seseorang tidak akan bisa memastikan, kapan saja imannya berada pada titik terendah. Untuk melakukan upgrade ketakwaan kepada Allah, Agus biasa berkumpul dengan orang-orang saleh atau para pencari ilmu agama.

Bersama dengan mereka membuatnya nyaman. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga. Misalnya, kesadaran bahwa Islam merupakan agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia.

Menanggapi itu, beberapa rekan di dunia kerja yang mengenalnya sejak masih non-Muslim kemudian mengejeknya. Mereka menganggap, Islam terlalu ribet sehingga tidak praktis. Koh Agus lalu menjelaskan kepadanya, agama memang seharusnya mengatur secara komprehensif agar hidup manusia jelas terarah.

Saat ini, keadaan menjadi semakin baik bagi Koh Agus. Ia pun bersyukur karena kedua anaknya sekarang telah menerima keputusannya berislam. Hubungan dengan mereka sudah cair dan komunikasi pun terjalin hangat.

Malahan, anak-anaknya kerap memuji perubahan sikap ayahnya yang kini menjadi lebih baik. Agus sendiri selalu berupaya menjadi seorang bapak yang penyabar dan peka terhadap para buah hati.

Untuk mencari nafkah, Agus pantang berputus asa. Mualaf tersebut sempat menjadi pengemudi ojek daring. Kini, ia merintis usaha kecil yang menyediakan makanan dan minuman.

Saat ini, dirinya juga telah menikah dengan seorang Muslimah. Sang istri pun berkomitmen kuat untuk mendukungnya dalam belajar agama.

 


Kiat Syaiful Islam Al Payage dalam Menjaga Spirit Ramadhan

Menurut Syaiful Islam Al Payage, Ramadhan menjadi momen untuk menumbuhsuburkan semangat beribadah.

SELENGKAPNYA

KH Muhammad Idris, Mursyid Pejuang dari Boyolali

Kiai Idris yang pernah menuntut ilmu di Haramain ini memimpin tarekat Syadziliyah.

SELENGKAPNYA

Onrust: Dari Westerling ke Kartosuwirjo

Pemimpin DI/TII yang ingin mendirikan negara Islam melalui perjuangan bersenjata itu dihukum mati di Onrust pada 1962.

SELENGKAPNYA
×