Pedagang bumbu dapur melayani pembeli di Pasar Ulee Kareng, Banda Aceh, Aceh, Ahad (1/5/2022). | ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj.

Tajuk

Waspadai Fase Ketiga Kenaikan Harga 

Potensi harga pangan yang bertahan tinggi juga cukup besar.

Harga bahan pokok pasca-Idul Fitri masih mengkhawatirkan. Potensi kenaikan harga masih terus terjadi. Padahal, biasanya harga bahan pokok dan komoditas di pasar-pasar tradisional turun setelah mengalami kenaikan pada awal Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.

Bila setelah Idul Fitri harga kebutuhan pokok masih terus naik, ini fase ketiga kenaikan harga dalam kurun satu bulan terakhir.  

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menuturkan, daging sapi menjadi komoditas pangan yang cukup mengalami kenaikan harga signifikan hingga pasca-Lebaran. Lonjakan harga daging sapi bertepatan dengan fase ketiga puncak kenaikan harga periode perayaan Idul Fitri. 

Ketua Umum Ikappi, Abdullah Mansuri, Rabu (4/5) mengatakan, kenaikan harga daging sapi sangat mengkhawatirkan karena sudah di atas Rp 160 ribu per kilogram.

 
Bila setelah Idul Fitri harga kebutuhan pokok masih terus naik, ini fase ketiga kenaikan harga dalam kurun satu bulan terakhir.  
 
 

Data terakhir dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok, Kementerian Perdagangan, rata-rata nasional harga daging sapi di tingkat konsumen per 29 April 2022 sebesar Rp 142 ribu per kg, naik 1,72 persen dari hari sebelumnya Rp 139.600 per kg.

Selain daging sapi, komoditas lain yang punya tren kenaikan harga, di antaranya minyak goreng, bawang merah, dan daging ayam ras. Kita prihatin karena harga pangan yang masih berpotensi naik. Ini jelas memukul daya beli masyarakat.

Dalam tiga bulan terakhir, masyarakat harus merogoh koceknya dalam-dalam akibat silih bergantinya harga pangan di pasar mengalami lonjakan. Harga pangan paling dirasakan lonjakannya adalah minyak goreng yang sampai saat ini belum turun. 

Potensi harga pangan yang bertahan tinggi juga cukup besar karena distribusi dan pasokan pangan terhambat. Kita mengetahui jalur-jalur distribusi mengalami hambatan karena berbarengan dengan mudik dan arus balik.

 
Potensi harga pangan yang bertahan tinggi juga cukup besar karena distribusi dan pasokan pangan terhambat. 
 
 

Di samping itu, sejumlah sentra produksi pangan juga produksinya turun karena tidak sedikit masyarakat yang merayakan Idul Fitri. Ditambah, sejumlah pedagang yang masih libur Lebaran.

Kombinasi tiga hal tersebut akan memengaruhi pasokan barang ke pasar. Karena itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) harus menjalankan tugasnya yang ekstra selama libur Idul Fitri.

Bapanas harus tak henti memantau di mana saja persoalan pasokan pangan mengalami gangguan. Setelah itu, berkoordinasi dengan aparat terkait untuk melancarkannya, terutama terkait jalur distribusi. Sebab, persoalan distribusi akan sangat memengaruhi harga.

Belum lagi secara global potensi kenaikan harga sejumlah komoditas cukup besar. Perang Rusia-Ukraina masih berpotensi menggeret harga-harga pangan ke level lebih tinggi, yang akan ikut memengaruhi kenaikan harga fase ketiga pasca-Lebaran di dalam negeri. 

Rencana Uni Eropa memberikan sanksi baru ke Rusia terkait energi pada Rabu (4/5), misalnya menyeret harga minyak mentah dunia naik tipis di awal perdagangan Asia pada Kamis (5/5) pagi. Minyak mentah berjangka Brent naik 22 sen jadi 110,36 dolar AS per barel pada pukul 00.02 GMT. 

 
Rencana Uni Eropa memberikan sanksi baru ke Rusia terkait energi pada Rabu (4/5), misalnya menyeret harga minyak mentah dunia naik tipis di awal perdagangan Asia pada Kamis (5/5) pagi.
 
 

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat 15 sen, yang diperdagangkan di 107,96 dolar AS per barel. Kedua harga acuan melonjak lebih dari lima dolar AS per barel pada Rabu (4/5).

Kenaikan harga minyak mentah dunia tidak hanya membuat harga pangan naik akibat ongkos distribusi pangan melonjak. Harga pangan pun ikut naik akibat permintaan sejumlah komoditas untuk energi terbarukan ikut terkerek naik, mengikuti kenaikan harga minyak dunia. 

Pemerintah Indonesia harus mewaspadai hal tersebut, supaya tidak memengaruhi kenaikan harga pangan di dalam negeri, pascasanksi baru Uni Eropa di bidang energi untuk Rusia. Terutama untuk komoditas yang masih bergantung pada impor.

Kita tidak ingin fase ketiga kenaikan harga pangan ini menekan kembali daya beli masyarakat.

Apalagi, kita berharap setelah Idul Fitri, pandemi Covid-19 terus melandai dan memasuki masa-masa transisi ke endemi. Saat masa transisi ini, seharusnya pemerintah menjaga daya beli masyarakat agar pemulihan ekonomi berjalan mulus dan sesuai yang diharapkan. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Guru Jantung Pendidikan

Persoalan penting lainnya, peningkatan kesejahteraan guru. Perbaikan kesejahteraan diharapkan mendongkrak kinerja guru.

SELENGKAPNYA

Menghadapi Kelangkaan Minyak Goreng

Produksi minyak kelapa, teknologinya mudah dan setiap orang dapat melakukan di rumah dengan peralatan sederhana.

SELENGKAPNYA

WHO: Ada Dua Subvarian Baru Omikron

Menteri Luar Negeri AS dinyatakan positif Covid-19 dengan gejala ringan.

SELENGKAPNYA