Petugas PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk area Lampung melakukan pengecekan rutin jaringan gas (jargas) pelanggan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Warung Makan Yanto di Kaliawi, Bandar Lampung, Lampung, Kamis (28/1/2021). Pemilik usaha terbantu deng | ANTARA FOTO/Ardiansyah

Ekonomi

29 Apr 2022, 09:49 WIB

PGN Raih Laba Bersih Rp 1,7 Triliun 

Kenaikan ICP yang tinggi berkontribusi terhadap kinerja keuangan PGN pada kuartal I 2022. 

JAKARTA —  PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk berhasil melanjutkan tren kinerja positif operasional pada kuartal I 2022. Subholding Gas PT Pertamina (Persero) itu meraih laba bersih 118,5 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,7 triliun (kurs Rp 14.345 per dolar AS). 

Laba bersih PGN berasal dari pendapatan sebesar 836,9 juta dolar AS. Dari pendapatan tersebut, PGN mencatatkan laba bruto sebesar 186 juta dolar AS, laba operasi sebesar 154,3 juta dolar AS, dan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 313,4 juta dolar AS.

“Alhamdulilah PGN berhasil melanjutkan kinerja positif pada 2022. Pemulihan kinerja operasional dari pemulihan ekonomi dan keberhasilan pengelolaan pandemi pemerintah berhasil menopang kinerja keuangan PGN sampai dengan kuartal I 2022,” kata  Direktur Utama PGN M Haryo Yunianto di Jakarta, Kamis (28/4).

Haryo menyebutkan, volume niaga gas periode Januari sampai Maret 2022 mencapai 915 billion British thermal unit per day (BBTUD). Sedangkan, volume transmisi kuartal I pada tahun ini sebesar 1.325 million standard cubic feet per day (MMSCFD).

Haryo mengatakan, peningkatan volume lifting minyak dan gas bumi (migas) pada kuartal I 2022 meningkat menjadi 25.557 barel setara minyak per hari (BOEPD) dari 16.562 BOEPD. Adanya kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau ICP yang tinggi termasuk hal yang signifikan berkontribusi terhadap kinerja keuangan PGN pada kuartal I 2022. 

Adapun transportasi minyak juga menunjukkan kenaikan kinerja yang sangat signifikan yang mencapai 2,1 juta barel setara minyak (MMBOE) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 0,8 MMBOE. Begitu juga, kinerja LPG processing mencapai sebesar 139 Ton per hari meningkat signifikan dibandingkan periode tahun sebelumnya sebesar 121 ton per hari.

“Sampai dengan Maret 2022, total pelanggan PGN telah mencapai 750.660 pelanggan dengan perincian 746.307 rumah tangga, 2.446 industri dan komersial, serta 1.907 pelanggan kecil,” ujar Haryo.

Haryo menambahkan, PGN dalam perannya sebagai subholding gas, secara berkelanjutan akan menjalankan kegiatan operasional dan investasi agar dapat menciptakan multiplier effect perekonomian nasional. Selain itu, PGN juga memiliki fokus dalam pengembangan utilisasi gas bumi yang ramah lingkungan pada masa transisi energi menuju energi baru dan terbarukan (EBT).

“Kami menjalankan peran yang cukup challenging dalam rangka era transisi energi dari fosil ke EBT. Dengan posisi kunci sebagai salah satu aggregator gas bumi di Indonesia, harapan kami adalah dapat mengisi masa transisi ini melalui penyediaan gas bumi sebagai energi bersih kepada masyarakat,” kata Haryo.

Komisaris Utama (Komut) PGN Arcandra Tahar menyebutkan, kinerja bisnis hulu migas PGN melalui anak usahanya PT Saka Energi Indonesia (Saka Energi) akhirnya berhasil meraih keuntungan. Keberhasilan Saka Energi menaikkan lifting minyak, meningkatkan efisiensi, dan lonjakan harga minyak dunia sepanjang 2021 menjadi pendorong utama kinerja positif anak perusahaan PGN itu. 

"Setelah sekian lama mengalami kerugian, pada 2021, Saka Energi berhasil mencatatkan laba bersih sekitar 6 juta dolar AS," kata Arcandra dalam akun Instagram miliknya yang dikutip di Jakarta, Selasa (26/4).

Arcandra menjelaskan, kinerja keuangan yang membaik itu berdampak positif terhadap PGN sebagai induk perusahaan karena pada tahun-tahun sebelumnya, kerugian yang dialami Saka Energi telah menjadi beban keuangan PGN. 

Kinerja Saka Energi yang membaik itu dipengaruhi peningkatan volume lifting minyak menjadi sekitar 25 ribu barel per hari selama tahun 2021. Kenaikan lifting tersebut berkat eksplorasi di beberapa sumur baru, khususnya di Blok Pangkah yang berhasil menemukan minyak dan kenaikan harga minyak 2021 turut mendongkrak pendapatan Saka Energi.

"Bisnis hulu migas memiliki potensi yang besar jika mampu dikelola dengan mengoptimalkan teknologi dan efisien dalam proses bisnis yang dijalankan. Komitmen itu yang terus diwujudkan oleh Saka Energi saat ini dan ke depan," kata Arcandra.

Arcandra menambahkan, Saka Energi telah mempercepat pelunasan utang obligasinya senilai 220 juta dolar AS pada 25 Maret 2022. Pasca-buyback obligasi tersebut, nilai surat utang obligasi Saka Energi yang masih beredar 405 juta dari AS dan akan jatuh tempo Mei 2024. ';

Kemenhub: Pemudik Masih Terus Meningkat

Peningkatan volume kendaraan pemudik juga terjadi di jalur pantura dan pansela.

SELENGKAPNYA

Patuhi Larangan Ekspor CPO

Kebijakan larangan ekspor sementara CPO dan produk turunannya diyakini akan berakhir pada Mei 2022.

SELENGKAPNYA

Pelita Air Mendarat Mulus di Bali

Pelita Air menggunakan pesawat baru Airbus tipe A320-200 dengan kapasitas 180 penumpang.

SELENGKAPNYA
×