Pengojek mengangkut karung berisi gabah di area persawahan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Jumat (20/3/2022). | ANTARA FOTO/Arnas Padda/rwa.

Opini

26 Apr 2022, 03:45 WIB

Pertanian dan Presidensi G-20

Forum presidensi G-20 dapat memastikan kedaulatan benih suatu negara.

PRIMA GANDHI; Dosen Manajemen Agribisnis, Sekolah Vokasi IPB

Indonesia menjadi presidensi di 2022 setelah 23 tahun bergabung dalam G-20. Presidensi bermakna kepemimpinan dan kepercayaan. Indonesia diharapakan dapat mengatur agenda sekaligus fasilitator konsensus pembahasan ekonomi makro global satu tahun ke depan.

Posisi sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara menjadikan Indonesia representasi Asia Tenggara dalam G-20. Tujuan pembentukan G-20, menciptakan pertumbuhan ekonomi kuat, berkelanjutan, dan seimbang.

Negara-negara G-20 menguasai 85 persen PDB dunia, 80 persen investasi global, 75 persen perdagangan dunia, dan 66 persen populasi dunia. Sebagai presidensi, Indonesia memfasilitasi pertemuan finance dan sherpa track.

Pertemuan jalur finance membahas isu bidang ekonomi, fiskal, keuangan, dan moneter. Sedangkan jalur sherpa membicarakan isu ekonomi nonkeuangan seperti energi, pembangunan, pariwisata, ekonomi digital, pendidikan, perubahan iklim, dan pertanian.

 

 
Negara-negara G20 menguasai 85 persen PDB dunia, 80 persen investasi global, 75 persen perdagangan dunia, dan 66 persen populasi dunia.
 
 

 

Tujuh harapan

Tema sherpa track bidang pertanian yaitu balancing production and trade to fulfill food for all. Setidaknya ada tiga isu, pertama membangun sistem pangan dan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

Kedua, mempromosikan perdagangan pangan terbuka, adil, dapat diprediksi, dan transparan. Ketiga, mendorong bisnis pertanian yang inovatif melalui pertanian digital untuk memperbaiki kehidupan pertanian di wilayah pedesaan.

Menyikapi pelaksanaan presidensi G20 Indonesia di bidang pertanian, setidaknya ada tujuh harapan penulis terhadap rangkaian pertemuan kelompok kerja G20 bidang pertanian yang akan dihelat di Bali, Bogor dan Yogyakarta.

Pertama, forum Presidensi G20 dapat menaikkan derajat petani baik skala internasional maupun lokal.  Petani harus menjadi  subjek bukan objek dalam membuat kebijakan pertanian. Posisi petani yang menjadi objek cenderung berada pada posisi lemah.

Petani juga harus diberi kepastian. Selama ini, ada kesan bertani identik ketidakpastian, mulai dari persiapan menanam, memelihara tanaman, memanen dan memasarkan. Pada masa tanam, petani terjerat biaya produksi tinggi mulai pengadaan benih, pupuk, dan pemberantas hama.

 

 
Menyikapi pelaksanaan presidensi G20 Indonesia di bidang pertanian, setidaknya ada tujuh harapan penulis terhadap rangkaian pertemuan kelompok kerja G20 bidang pertanian yang akan dihelat di Bali, Bogor dan Yogyakarta.
 
 

 

Pada masa pertumbuhan tanaman, petani masih mendapatkan ancaman perilaku iklim yang tak menentu, dan ketidakberdayaan petani membaca dan melawan mekanisme pasar. Ditambah, turunnya harga panen akibat kebijakan impor beberapa komoditas pertanian.

Kedua, forum presidensi dapat memastikan kedaulatan benih suatu negara. Benih merupakan fondasi pembangunan pertanian. Kedaulatan benih menjadi syarat mutlak apabila tiga isu pertanian dalam G-20 hendak terwujud.

Di Indonesia, kedaulatan benih mulai lemah sejak lahirnya UU Nomor 12 Tahun 1999 tentang sistem budi daya tanaman. UU ini memberikan peluang kepada perusahan multinasional menguasai pasar benih Indonesia. Bisa dikatakan UU ini pintu masuk liberalisasi benih.

Sebelum perusahaan benih multinasional masuk ke Indonesia, yang digunakan merupakan benih produksi petani, perusahaan swasta, dan pemerintah. Jika kedaulatan benih tak diperkuat, dominasi korporasi multinasional akan menyulitkan pencapaian kedaulatan pangan pokok.

 

 
Sebelum perusahaan benih multinasional masuk ke Indonesia, yang digunakan merupakan benih produksi petani, perusahaan swasta, dan pemerintah. 
 
 

Ketiga, diharapakan presidensi di bidang pertanian mendorong regenerasi petani lokal dan global. Minimnya ketertarikan terhadap pertanian salah   satu   penyebab  lambatnya regenerasi  petani Indonesia.

Persepsi usaha tani masih kurang menguntungkan ditambah citra sektor pertanian yang kurang bergengsi dan berisiko tinggi harus dapat diubah. Fakta sektor pertanian menjadi jangkar ekonomi di berbagai negara saat pandemi Covid-19 harus jadi pemantik regenerasi petani. 

Di Indonesia, data time series BPS menunjukkan, sepanjang 2021 sektor pertanian menjadi lokomotif ekonomi dengan tumbuh positif di level 1,84 persen. Bahkan pada Januari 2022, nilai tukar petani (NTP) naik di angka 108,67. Kedua hal ini harus digaungkan.

Keempat, presidensi kesempatan emas bagi pelaku usaha sektor pertanian dan pangan Indonesia untuk berpromosi. Presidensi G20 membuka peluang bagi Indonesia meningkatkan ekspor dan investasi di bidang pangan.

 
Persepsi usaha tani masih kurang menguntungkan ditambah citra sektor pertanian yang kurang bergengsi dan berisiko tinggi harus dapat diubah.
 
 

Kelima, konsumsi stakeholders G-20 yang menghadiri presidensi G-20 di Indonesia wajib berasal dari produk pangan lokal. Kurangi konsumsi pangan impor seperti buah-buahan impor. Misalnya, jeruk sunkist pada menu makanan diganti jeruk pontianak atau jeruk medan.

Keenam, terciptanya kesepakatan pertukaran teknologi pertanian baik off farm dan on farm. Pertukaran teknologi dalam sektor pertanian dapat dilakukan melalui employee exchange antarnegara G20 dan kerja sama penelitian antarperguruan tinggi pertanian.

Ketujuh, tercapainya kesepakatan pemulihan sistem pangan, untuk  menjamin agar produksi pangan meningkat dan rantai pasok pangan yang terdisupsi saat pandemi Covid-19 kembali normal. 


Tiktok, Bagaimana Fikihnya?

Pemilik akun Tiktok memastikan penampilan dan kontennya sesuai tuntunan fikih dan adab.

SELENGKAPNYA

Abdullah bin Rawahah Penyair yang Gagah di Medan Perang

Abdullah bin Rawahah tampil membawa pedang ke medan tempur Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, dan Khaibar.

SELENGKAPNYA

Menghayati Mekanisme Kerja Otak

Sampai sekarang para ilmuwan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar 94 persen.

SELENGKAPNYA
×