Menurut Sri Wulan Wibiyanti, Toko Hibah menerima alat-alat kesehatan untuk pasien Covid-19. | Istimewa

Uswah

24 Apr 2022, 14:22 WIB

Mengelola Sampah Hingga Toko Hibah

Menurut Sri Wulan Wibiyanti, Toko Hibah menerima alat-alat kesehatan untuk pasien Covid-19.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Budaya masyarakat Indonesia terhadap sampah dan barang-barang konsumsi masih memprihatinkan. Masih banyak orang yang membeli barang dengan berakhir menjadi tumpukan sampah.

Pada 2008 silam, Sri Wulan Wibiyanti yang tinggal di lingkup perkampungan Depok melihat betul bagaimana kebiasaan masyarakat setempat dalam memperlakukan sampah. Jangankan untuk memilah sampah dengan baik, warga bahkan menjadikan kebun atau lahan kosong sebagai tempat pembuangan sampah dadakan seenaknya.

“Kalau di perkampungan itu kan beda dengan lingkup perumahan kompleks. Di perkampungan masyarakat biasanya urus sampahnya masing-masing. Masalahnya, mereka punya habit buang sampah ke kali, ke lahan kosong. Jadi, belum begitu baik pemahamannya mengenai sampah. Sampai tahun 2008/2009, itu banyak warga yang kena DBD. Saya mikirnya apa jangan-jangan karena habit terhadap sampah ini, ya?” kata Wulan saat dihubungi Republika, Kamis (14/4).

 
Di perkampungan masyarakat biasanya urus sampahnya masing-masing. Masalahnya, mereka punya habit buang sampah ke kali, ke lahan kosong.
 
 

Dari kegelisahan itu, Wulan kemudian mencoba mencari cara untuk mengajak masyarakat setempat—terutama kaum ibu—untuk memperlakukan dan mengelola sampah dengan bijak. Pada awalnya, upaya Wulan untuk mengajak dan mengedukasi kaum ibu terhadap sampah dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Menurut Wulan, kaum ibu belum memiliki pemahaman yang baik terhadap sampah. Dia pun mencoba memberikan edukasi mengenai sampah dari dasar. Dia mengedukasi tentang apa itu sampah organik dan non-organik hingga menghadirkan pelatihan pengelolaan sampah menjadi kerajinan yang menarik dan bernilai ekonomi. Seiring berjalannya waktu, Wulan pun sukses mendirikan Bank Sampah Warga Peduli Lingkungan (WPL).

“Ketika sampah memiliki nilai ekonomi tersendiri, dibuat jadi tas, dompet, dan lainnya itu, ibu-ibu semakin semangat. Mereka yang tadinya buang sampah sembarangan lambat laun mulai pandai memilah sampah dan memproduksinya sebagai produk yang bernilai,” kata Wulan.

photo
Menurut Sri Wulan Wibiyanti, Toko Hibah menerima alat-alat kesehatan untuk pasien Covid-19. - (Istimewa)

Toko hibah

Sukses melakukan pemberdayaan untuk kalangan perempuan di lingkungannya, Wulan kemudian mulai gencar menyosialisasikan prinsip reuse, reduce, dan recycle (3R).

Dia berpendapat, setiap manusia setiap harinya pasti menghasilkan sampah. Untuk menekan melonjaknya sampah, harus dilakukan dengan mengubah gaya konsumsi secara lebih bijak.

“Sebelum menghasilkan sampah, ada baiknya kita harus memikirkan terlebih dahulu barang atau konsumsi apa saja yang kita perlukan? Jangan sampai kita membeli barang dan justru menjadikannya sampah begitu saja,” kata dia.

 
Jangan sampai kita membeli barang dan justru menjadikannya sampah begitu saja.
 
 

Wulan kemudian mencoba mengumpulkan barang-barang apa pun dari kolega dan lingkungannya yang sudah tidak terpakai tapi masih layak. Dia pun memasarkannya melalui bazar pada 2019. Pada 2020 akhir, seiring mulai banyaknya barang-barang yang dikumpulkan, Wulan menyewa sebuah ruko dan mendirikan Toko Hibah Babakulan.

Toko yang dikelolanya ini berada di kawasan Sawangan dengan menyediakan berbagai barang dengan sejumlah program yang dijalankan. Pada awal pandemi, Wulan menceritakan bahwa terdapat satu kursi roda dalam kondisi tak terlalu baik yang diberikan kepada Toko Hibah Babakulan.

“Awalnya kita bingung mau kita apakan ini kursi roda. Akhirnya kami coba betulkan dan ternyata ada yang butuh dan kami pinjamkan. Dari yang awalnya satu kursi roda, saat ini kami sudah menampung 81 kursi roda yang kami pinjamkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata dia.

Dari sana, kata dia, Toko Hibah Babakulan pun menerima hibah alat-alat Kesehatan, termasuk tabung oksigen—sebagaimana yang sangat dibutuhkan pada masa pandemi. Sebab, ia melihat  terdapat banyak manfaat yang dihasilkan kepada masyarakat dari masyarakat.

PROFIL

Nama lengkap: Sri Wulan Wibiyanti

Tempat, tanggal, lahir: Jakarta, 7 September 1971

Riwayat pendidikan: S-1 Fisip UI

Riwayat aktivitas: pemberdayaan masyarakat


Khubaib bin Adi, Menahan Siksa Demi Agama Allah

Setiap hari, Khubaib bin Adi harus menerima siksaan.

SELENGKAPNYA

Wanita Haid Meninggal Saat Ramadhan, Bagaimana Puasanya?

Apakah pihak keluarganya harus mengqadha dan membayar fidyah puasa Ramadhan almarhumah?

SELENGKAPNYA

Tepat Kelola Uang THR

Buatlah bujet dan patuhi agar tak ada pengeluaran di luar catatan.

SELENGKAPNYA
×