Wanita haid meninggal saat Ramadhan, apakah keluarganya harus mengqadha dan membayar fidyah puasa Ramadhan? | Pixabay

Fatwa

24 Apr 2022, 09:11 WIB

Wanita Haid Meninggal Saat Ramadhan, Bagaimana Puasanya?

Apakah pihak keluarganya harus mengqadha dan membayar fidyah puasa Ramadhan almarhumah?

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Setiap Muslim sejatinya wajib untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Namun, ada kondisi di mana puasa seorang Muslim menjadi batal dan wajib mengqadhanya setelah berakhirnya Ramadhan. Misalnya, seorang Muslimah yang mengalami haid, dia harus mengganti puasanya pada hari lain di luar Ramadhan. 

Namun, bagaimana bila wanita yang sedang haid pada bulan Ramadhan itu meninggal saat masih Ramadhan atau meninggal begitu memasuki Syawal? Artinya, Muslimah tersebut tidak memiliki kesempatan untuk mengqadha puasanya.

Apakah lantas qadha puasa Ramadhan wanita itu  dilakukan oleh anggota keluarganya? Ataukah keluarganya cukup dengan mengeluarkan fidyah bagi wanita tersebut? 

Pertanyaan seperti ini juga ditanyakan oleh seorang jamaah kepada pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif atau yang lebih akrab disapa Buya Yahya, pada sesi tanya jawab dalam majelis taklimnya. Kajian ini ditayangkan melalui kanal Al Bahjah TV beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Buya Yahya menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai wanita Muslim yang batal atau meninggalkan puasa Ramadhan karena sebab mengalami haid, tetapi kemudian wafat sebelum Syawal sehingga dia tak memiliki kesempatan untuk mengqadha.

Menurut Buya Yahya, pendapat yang dikukuhkan adalah tidak wajib bagi keluarganya mengqadhakan puasa yang ditinggalkan wanita Muslim tersebut akibat mengalami haid dan meninggal saat Ramadhan. Tidak wajib juga keluarganya membayarkan fidyah atas puasa Ramadhan yang ditinggalkan wanita Muslim karena haid dan wafat saat Ramadhan.

"Jika ada orang meninggalkan puasa karena uzur (sebab tadi seperti haid) kemudian meninggal dunia dan belum sempat mengqadha karena belum punya kesempatan mengqadha, belum ketemu Syawal sudah meninggal, atau ketemu Syawal, tetapi sakit dan meninggal. Maka dia (keluarganya) tidak wajib mengqadha, tidak wajib fidyah. Karena pada dasarnya dia mestinya mengqadha, cuma tiba-tiba nggak bisa mengqadha karena tidak ada kesempatan untuk mengqadhanya. Ini adalah yang haid," kata Buya Yahya. 

Akan tetapi, ada juga ulama yang membolehkan bagi keluarganya membayarkan fidyah atas puasa Ramadhan yang ditinggalkan wanita Muslim yang haid dan meninggal sebelum Syawal.

Maka Buya Yahya menjelaskan bahwa wali dari wanita tersebut, baik anak maupun suami boleh dan sah untuk membayar fidyah berupa satu mud makanan pokok seperti beras per harinya (disesuaikan berapa hari tidak berpuasa selama Ramadhan).

 
Inilah khilafiyah yang terjadi di antara para ulama berkaitan dengan puasa Ramadhan yang ditinggalkan Muslimah yang haid dan meninggal sebelum Syawal.
 
 

Inilah khilafiyah yang terjadi di antara para ulama berkaitan dengan puasa Ramadhan yang ditinggalkan Muslimah yang haid dan meninggal sebelum Syawal. Namun, agar tidak bimbang, Buya Yahya lebih menekankan pada pendapat yang kuat, yakni tidak wajib bagi keluarganya mengqadhakan dan tidak wajib juga fidyah.

Sebab wanita yang haid tersebut tidak memiliki kesempatan untuk mengqadha. Lebih dari itu, kata Buya Yahya, meninggalkan puasa karena haid bukanlah dosa. 

Kondisi ini berbeda dengan orang tua lanjut usia yang tidak memiliki kemampuan berpuasa Ramadhan dan meninggal dunia. Buya Yahya menjelaskan, orang tua yang tidak memiliki kemampuan berpuasa Ramadhan lalu meninggal maka ulama juga berbeda pendapat.

Ada ulama yang berpendapat bahwa keluarganya cukup membayarkan fidyah saja sebanyak satu mud dari setiap hari puasa yang di tinggalkan orang tua tersebut. Pendapat lainnya, yakni tidak perlu keluarganya mengqadha puasa orang tuanya. 

Tetapi ada pendapat lain yang mengatakan boleh bagi keluarganya membayar utang puasa orang tua tersebut dengan qadha puasa. "Pendapat kedua ini adalah boleh diganti oleh keluarganya dengan puasa untuk orang tua tadi. Meninggal dunia orang tua tersebut maka boleh dipuasai oleh ahli warisnya diganti dengan puasa, cuma yang dikukuhkan adalah membayar satu mud," kata dia.


Ulugh Beg dan Julukan Sang Pangeran Bintang

Hasil riset yang dilakukan Ulugh Beg tidak berbeda jauh dengan data modern.

SELENGKAPNYA

Ulugh Beg, Negarawan yang Ilmuwan

Ulugh Beg merupakan seorang penguasa dan sekaligus saintis yang cemerlang.

SELENGKAPNYA

Kekasih Allah, Pelembut Hati

Kita harus banyak belajar dari para kekasih Allah yang berilmu luas dan berakhlak mulia.

SELENGKAPNYA
×