Agama Islam melalui fikih mengatur apa-apa saja yang menjadi hak suami dan istri dalam berhubungan intim. | Pixabay

Fikih Muslimah

24 Apr 2022, 08:51 WIB

Hak Suami Istri dalam Hubungan Intim yang Diatur Agama

Hak-hak dalam hubungan intim tidak tercerabut, baik itu hak suami maupun hak istri.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

Tidak diragukan lagi, hubungan badan merupakan salah satu tujuan suami dan istri dalam berumah tangga. Untuk menata hubungan ini, agama Islam melalui fikih mengatur apa-apa saja yang menjadi hak suami dan istri dalam berhubungan intim.

Syekh Muhammad al-Utsaimin dalam kitab Shahih Fikih Wanita menjelaskan, suami maupun istri harus melakukan hubungan intim, kecuali dalam kondisi yang membahayakan dari segi agama maupun fisik.

Bahaya dari segi agama, misalnya, berdampak pada penundaan kewajiban-kewajiban dari waktunya. Untuk bahaya dari segi fisik, itu cukup jelas, seperti kondisi suami sedang sakit maupun sebaliknya.

Menurut mazhab Hanbali, suami harus melakukan hubungan intim dengan istrinya minimal empat bulan sekali. Istri tidak memiliki hak pada selain itu. Dalil ulama dari kalangan mazhab ini berdasarkan firman Allah dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 226-227.

Allah berfirman, “Lilladzina yu’luna min nisaa-ihim tarabbushu arba’ati asyhurin. Fa in faa-uu fa innallaha ghafururrahim. Wa in azamuu at-thalaaqa fa innallaha sami’un alim.” Yang artinya, “Kepada orang-orang yang melakukan ila (bersumpah untuk tidak berhubungan badan) terhadap istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian, jika mereka kembali (kepada istrinya) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka bertekad untuk cerai maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

 
Suami diharuskan memberikan kenikmatan berhubungan intim secukupnya selama dia masih kuat. Adapun jika membahayakan badannya, hal ini bukan sebagai kewajiban lagi baginya.
 
 

Makna dari melakukan ila adalah mereka bersumpah untuk tidak menyetubuhi istri mereka. Para ulama kalangan Hanbali berpendapat bahwa sesungguhnya Allah telah menetapkan batas waktu empat bulan, maka dapat diketahui bahwa dia tidak diwajibkan untuk melakukannya kurang dari kurun waktu itu.

Seandainya dia berkewajiban dalam waktu kurang dari itu, niscaya hal tersebut merupakan batas waktu dalam ila agar dia memenuhi apa yang diwajibkan Allah kepadanya. Pengambilan hujah ini dinilai cukup bagus, tetapi bertentangan dengan yang lebih jelas dalilnya, yakni firman Allah, “Dan bergaullah dengan mereka secara baik (patut).”

Jika dia berhasrat untuk melakukan hubungan intim maka dikatakan bahwa kapan pun dia menghendaki maka lakukanlah hubungan intim. Karena itu, istri harus melayaninya. Dijelaskan, bukanlah hal yang adil bila istri tidak memiliki hak dalam berhubungan intim selain tiga kali dalam setahun.

Adapun masalah orang yang bersumpah untuk tidak melakukan hubungan intim, ini adalah masalah khusus yang bersifat kasuistik. Karena itu, dia bersumpah untuk tidak menggauli istrinya, maka dibuatkan baginya batasan maksimal. Jika membuat hukum khusus terkait masalah tertentu maka hukum ini tidak berlaku umum dalam semua masalah.

 
Suami harus memperhatikan kondisi istri dan hal yang berkaitan dengannya, baik kondisi fisik maupun psikologis istri saat hendak diajak melakukan hubungan intim.
 
 

Syekh Utsaimin berpendapat, hal yang benar dalam masalah ini adalah bahwa hubungan intim termasuk mempergauli istri dengan cara yang baik. Ini merupakan puncak dari kenikmatan berhubungan badan karena, menurut Syekh Muhammad al-Utsaimin, banyak wanita yang tidak menikah kecuali untuk menikmati hal ini.

Maka dari itu, suami diharuskan memberikan kenikmatan berhubungan intim secukupnya selama dia masih kuat. Adapun jika membahayakan badannya, hal ini bukan sebagai kewajiban lagi baginya.

Adapun bagi suami yang terlalu menginginkan hubungan intim dengan kapasitas yang tidak biasa, para ulama kalangan tabiin memberikan pandangan yang beragam. Sebagian dari mereka menetapkan enam kali pada siang hari serta enam kali pada malam hari dan sebagainya.

Dalam hal ini, sekali lagi, suami pun harus memperhatikan kondisi istri dan hal-hal yang berkaitan dengannya, baik kondisi fisik maupun psikologis istri saat hendak diajak untuk melakukan hubungan intim. Kesalingan ini dimaksudkan agar hak-hak dalam hubungan intim tidak tercerabut, baik itu hak suami maupun hak istri.


Ulugh Beg dan Julukan Sang Pangeran Bintang

Hasil riset yang dilakukan Ulugh Beg tidak berbeda jauh dengan data modern.

SELENGKAPNYA

Ulugh Beg, Negarawan yang Ilmuwan

Ulugh Beg merupakan seorang penguasa dan sekaligus saintis yang cemerlang.

SELENGKAPNYA

Dari Jejak Kartini

Banyak artikel mengungkap alasan RA Kartini dianggap sebagai salah satu tokoh emansipasi.

SELENGKAPNYA
×