Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

20 Apr 2022, 21:57 WIB

Beli Paket Kuota Unlimited, Ghararkah?

Beli paket kuota unlimited tersebut dibolehkan karena sejumlah alasan.

 

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

 

Paket kuota unlimited adalah paket internet yang ditawarkan kepada pelanggan tanpa batas kouta, tetapi masa aktifnya terbatas (seperti satu bulan).  Paket kuota unlimited itu persisnya adalah promo agar bisa mendapatkan konsumen yang banyak karena kuota unlimited tersebut.

Contohnya, beli paket kouta unlimited Rp 150 ribu, bebas akses media sosial selama satu bulan. Atau beli paket kouta unlimited Rp 100 ribu, bebas akses Instagram, Facebook, dan Whatsapp selama satu bulan. Sedangkan, jika membeli paket internet saja (seperti 10 GB), saat kouta 10 GB tersebut habis, tidak lagi bisa mengakses internet.

Beli paket kuota unlimited tersebut dibolehkan karena pertama, paket yang diperjualbelikan diketahui kadar maksimumnya. Karena jika ditelaah, sebenarnya tidak ada istilah unlimited, tetapi sebenarnya limited atau terbatas karena promo, benefit, dan layanan juga sudah dikalkulasi oleh penjual. Lebih tepatnya unlimited ini melebihi dari reguler, tetapi tetap limited.

Kedua, transaksi tersebut bukan bagian dari gharar (ketidakpastian). Karena sesungguhnya gharar itu dilarang apabila termasuk gharar berat. Sedangkan, gharar ringan itu gharar yang tidak bisa dihindari dan dimaklumi oleh para pihak.

 
Karena sesungguhnya gharar itu dilarang apabila termasuk gharar berat. Sedangkan, gharar ringan itu gharar yang tidak bisa dihindari dan dimaklumi oleh para pihak.
 
 

Sebagaimana Standar Syariah AAOIFI No 31 tentang Gharar bahwa gharar ringan itu diperkenankan dengan merujuk pada hadis Rasulullah SAW: “Rasulullah SAW melarang jual beli yang mengandung gharar” (HR Muslim). Gharar (ketidakpastian) ringan tersebut tidak bisa dihindarkan dan semua pihak ridha serta memakluminya.

Ketiga, sebagai perbadingan, dalam fikih Islam klasik, ada beberapa transaksi yang diperkenankan walaupun jumlah dan besaran objek yang diperjualbelikan itu tidak ketahui. Di antaranya adalah jual beli jizaf, yaitu jual beli barang yang ditaksir jumlahnya tanpa diketahui secara pasti jumlahnya.

Walaupun jumlah barang yang diperjualbelikan tersebut tidak diketahui, para ahli fikih sepakat bahwa jual beli jizaf diperbolehkan sebagai pengecualian karena hajat masyarakat. Ad-Dasuqi mengatakan bahwa jual beli jizaf diperbolehkan sebagai keringanan dan pengecualian untuk barang-barang yang sulit diketahui jumlah, takaran, atau timbangannya.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa yang membeli makanan, janganlah ia menjualnya kembali sehingga ia memilikinya secara sempurna”. Ibnu Umar berkata: “Kami pernah membeli makanan langsung dari rombongan dagang secara acak tanpa ditakar (secara jizaf), maka setelah itu Rasulullah SAW melarang kami menjualnya hingga bahan makanan tersebut dipindahkan dari tempat pembelian” (HR Muslim).

Juga ada beberapa masalah sejenis yang bisa dianalogikan (di-ilhaq-kan) di antaranya beberapa promo yang diberikan oleh perusahaan tertentu: harga satu kamar selama Ramadhan itu normal tetapi bonus fasilitas kolam renang dan fitness. Namun, jika pada bulan lain seperti Syawal itu harga normal dan tanpa ada benefit tambahan.

Selama Ramadhan bisa makan di resto dan dapat benefit Wifi gratis serta permainan anak-anak free. Beberapa tempat wisata menawarkan paket Ramadhan itu seluruh fasilitas boleh digunakan, tetapi hanya tersedia di Ramadhan dan lainnya tidak.

Contohnya juga all you can eat, jadi dengan membayar Rp 250 ribu per orang di resto bisa makan minum sepuasnya dalam durasi tertentu. Wallahu a’lam. ';

Habib bin Zaid, Syahid Membawa Pesan Rasulullah

Ketika sakratul maut datang, dalam kepedihan yang tak tertahankan, Habib tetap mempertahankan syahadatnya.

SELENGKAPNYA

Titik Kritis The Gunners Arsenal

Arsenal harus mengamankan tiga poin dari markas Chelsea, Stadion Stamford Bridge.

SELENGKAPNYA
×