Menteri Keuangan AS Janet Yellen. | AP/Evan Vucci

Internasional

20 Apr 2022, 03:45 WIB

AS Bahas Ketahanan Pangan Dunia

Indeks harga pangan FAO berada di titik tertingginya sejak 1990.

WASHINGTON — Pemimpin keuangan global menempatkan krisis lonjakan harga dan ketahanan pangan sebagai pusat pembahasan dalam pertemuan mereka di Washington. Amerika Serikat (AS) yakin krisis tersebut merupakan dampak invasi Rusia ke Ukraina.

Pada Selasa (19/4) pagi Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengadakan pertemuan dengan pemimpin Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, Group of Seven (G-7) dan Group of 20 (G-20).

"(Pertemuan ini untuk) meminta institusi keuangan internasional mempercepat dan memperdalam respons mereka pada negara-negara yang terdampak oleh masalah pangan yang diperparah agresi Rusia," kata Kementerian Keuangan AS dalam pernyataan mereka.

Berdasarkan data PBB, Rusia dan Ukraina memproduksi 14 persen pasokan gandum dunia. Hilangnya komoditas itu karena perang mendorong kenaikan harga pangan dan menimbulkan ketidakpastian ketahanan pangan di masa depan terutama bagi negara-negara miskin.

Indeks harga pangan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) berada di titik tertingginya sejak 1990. FAO mengatakan indeks itu mencerminkan tingginya harga minyak sayur, sereal, dan daging.

Pada laporan yang dirilis Maret lalu FAO mengatakan jumlah masyarakat yang kekurangan gizi dapat meningkat dari 8 juta menjadi 13 juta orang pada 2023.

"Dengan peningkatan paling nyata di Asia-Pasifik, diikuti sub-Sahara Afrika, dan Afrika Utara dan Timur, bila perang berlanjut dampak akan terus sampai 2022/23," kata FAO dalam laporan tersebut.

Pakar manajemen bencana University of Massachusetts Amherst Anna Nagurney mengatakan, pertemuan pemimpin global cukup penting. "Dan membicarakan tumbuhnya ketakutan dan meningkatnya pemahaman dunia bahwa dunia mungkin berada di ambang bencana kelaparan," katanya. 

photo
Keluarga pengungsi menanti di dalam stasiun kereta di Lviv, Ukraina, Ahad (17/4/2022). - (AP/Rodrigo Abd)

Nagurney memprediksi, negara-negara yang belum memberikan dukungan berarti kepada Ukraina akan sadar gangguan ketahanan pangan yang disebabkan perang Ukraina. Perang itu, katanya, berdampak pada stabilitas nasional dan kesejahteraan warga mereka sendiri.

Rusia merupakan anggota G-20 yang merupakan kelompok negara industri dan pasar menengah atas. Tapi Kementerian Keuangan mengatakan Rusia tidak berpartisipasi dalam rapat ketahanan pangan.

Tahap baru

Dalam perkembangan berbeda, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, pada Selasa mengatakan, Moskow memulai tahap baru operasi militer khusus di Ukraina. Lavrov memprediksi tahap baru operasi ini akan menjadi perkembangan yang signifikan.

photo
Perempuan memeluk putrinya saat menanti bus keluar dari Sloviansk city di Donets, Ukraina, Sabtu (16/4/2022). - (AP/Petros Giannakouris)

"Tahap lebih lanjut dari operasi ini (di Ukraina timur) sedang dimulai, dan saya yakin ini akan menjadi momen yang sangat penting dari seluruh operasi khusus ini," kata Lavrov.

Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan, pasukan Rusia telah melancarkan serangan ofensif baru di sebagian besar sisi timur Ukraina pada Senin (18/4). Pertempuran di Donbas telah dimulai dan tentara Ukraina telah disiapkan untuk serangan terbaru itu, sejak pasukan Rusia menarik diri dari sekitar Kiev.

"Kami sekarang dapat mengatakan bahwa pasukan Rusia telah memulai pertempuran di Donbas, yang telah lama mereka persiapkan," kata Zelenskyy.

Rusia telah meningkatkan kekuatannya di timur Ukraina menggunakan pasukan yang ditarik keluar dari utara Ukraina dan Belarusia, yang merupakan sekutu dekat Rusia. Komando angkatan bersenjata Ukraina mengatakan, kekuatan militer utama Rusia sedang berkonsentrasi untuk menguasai seluruh wilayah Donetsk dan Luhansk yang membentuk petak tanah yang dikenal sebagai Donbas.

Selama ini Presiden Vladimir Putin menekankan, Moskow tidak memiliki rencana untuk menduduki wilayah Ukraina. Dia menegaskan, operasi itu ditujukan untuk denazifikasi dan demiliterisasi di Ukraina. 

Sumber : Reuters


Saudi Kecam 'Penyalahgunaan' Alquran

Setidaknya tiga orang terluka dalam aksi menentang pembakaran Alquran di Swedia.

SELENGKAPNYA

Alquran Kitab Terbuka

Dengan sikap keterbukaannya itu, justru hingga sekarang tidak ada satu pun yang berdaya menandingi Alquran.

SELENGKAPNYA

Erdogan: Turki Selalu Dukung Palestina

Erdogan bertelepon dengan Guterres membahas perkembangan di al-Aqsha.

SELENGKAPNYA
×