Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

13 Apr 2022, 21:22 WIB

Puasa Membangun Jiwa Responsif

Bisa menumbuhkan sikap responsif dalam menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Dibuka dengan panggilan iman: “Yaa ayyuhalldziina aamanuu” (QS al-Baqarah ayat 183), ayat tentang puasa ini sejatinya adalah test case sejauh mana iman yang terdapat dalam diri seorang hamba benar-benar terhunjam dalam dada.

Terhunjam dalam arti bisa menumbuhkan sikap responsif dalam menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Responsif maksudnya tidak tawar-menawar, tetapi langsung menjalankannya: “Sami’na wa atha’na”. Sebab, tabiat iman adalah menggerakkan sehingga lahirlah kehidupan yang penuh hikmah dan berkah. Ibarat air hujan yang menyirami bumi, tiba-tiba bumi itu bergerak menumbuhkan pepohonan di atasnya. 

Allah berfirman: “Wa taral ardha haamidatan faidza anzalnaa ‘alaihal maa’a ihtazzat wa rabat wa ambatat minkulli zaujin bahiij” (Kamu lihat bumi itu tampak gersang, tetapi ketika diturunkan air hujan di atasnya tiba-tiba bumi itu bergerak, menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan yang indah) (QS al-Hajj ayat 5).

Seperti itulah iman, sehingga masyarakat Arab yang tadinya jahiliyah, hidup dalam kegersangan rohani, seketika dengan datangnya cahaya iman, mereka menjadi umat yang bermartabat, penuh kebaikan akhlak, dan membawa cahaya peradaban bagi dunia.

 
Seketika dengan datangnya cahaya iman, mereka menjadi umat yang bermartabat, penuh kebaikan akhlak, dan membawa cahaya peradaban bagi dunia.
 
 

Seperti Ibn Najjar, seorang pengikut Nabi Isa, yang bersegera datang dari ujung kota: “Min aqshal madiinati”, hanya untuk membela para utusan yang diusir dari sebuah perkampungan karena mereka berdakwah di jalan Allah SWT. Padahal, baru saja iman masuk ke dalam hatinya, Ibn Najjar seketika bergerak untuk meyakinkan kaumnya agar segera ikut ajakan para utusan itu.

Ibn Najjar tidak ingin kaumnya masuk neraka, ia berkata kepada mereka: “Ittabi’ul musrasaliin, ittab’uu man laa yasalukum ajraw wa hum muhtaduun” (Ikutilah para utusan itu yang tidak minta imbalan dalam berdakwah kepadamu) (QS Yasin ayat 21).

Inilah makna istijabah (sikap responsif) yang disebutkan pada ayat selanjutnya tentang Ramadhan: “Falyastajibuu lii wal yu’minuubii” (QS al-Baqarah ayat 186). Artinya, bahwa selama Ramadhan kita harus belajar menempa diri membangun kesigapan responsif dalam menaati Allah SWT. 

Hindari sikap menunda-nunda amal saleh atau mencari-cari alasan: “At taswiif”, tetapi katakanlah: “Aku siap amalkan sekarang: “Sami’naa wa atha’na”. Allah berfirman: “Innamaa qaulal mu’miniina idzaa du’uu ilallahi wa rasuulihii liyahkuma bainahum ay yaquuluu sami’naa wa atha’naa” (QS an-Nur ayat 51). 

Maksudnya adalah tabiat orang-orang beriman apabila dikatakan kepadanya ayo ikut Allah dan Rasul-Nya dalam suatu perkara, mareka langsung patuh dan berkata “sami’naa wa atha’na” (kami siap mendengar dan patuh).

Dalam Surah al-Ahzab ayat 36 dijelaskan bahwa tidak pantas mengaku beriman jika kemudian masih berusaha menghindar dan mencari-cari alasan dalam menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Jadi, saatnya dari puasa ini kita belajar responsif tanpa sedikit pun menunda dalam ketaatan.


Adab Utang-Piutang

Ada beberapa adab yang harus diperhatikan saat melakukan utang-piutang.

SELENGKAPNYA

Spiritual Childish

Kekanak-kanakan secara psikologis ketika seorang dewasa masih labil di dalam menjalani kehidupan. Ia gampang gembira tetapi juga gampang marah.

SELENGKAPNYA

Julaibib: Dicibir Manusia, Dimuliakan Allah

Julaibib yang sering dihina manusia, tapi dimuliakan derajatnya di sisi Allah.

SELENGKAPNYA
×