Pekerja berjalan dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/4/2022). | ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.

Teraju

15 Apr 2022, 09:20 WIB

Ekonomi Asia di Tengah Ketidakpastian

Bank Dunia pesimistis. Asian Development Bank optimistis. Asia masih menjadi kawasan ekonomi paling dinamis di dunia.

OLEH AGUNG P VAZZA

Invasi Rusia ke Ukraina tidak hanya menjatuhkan korban jiwa, tapi juga sejumlah dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi yang memunculkan risiko resesi. Harga-harga komoditas meninggi karena pasokan energi terhambat akibat perang, sehingga kebutuhan rumah tangga maupun korporasi menjadi semakin mahal. Kondisi tersebut tentu saja menjadikan prospek peretumbuhan ekonomi regional semakin tidak menentu, tak terkecuali Asia.

Lembaga multilateral seperti Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan menyebutnya sebagai 'ketidakpastian yang luar biasa' dengan konsekuensi ekonomi yang sangat serius. Harga energi dan komoditas, termasuk komoditi pangan, terus meninggi.

Ini menguatkan tekanan inflasi dari disrupsi jaringan pasokan. Dampaknya diperkirakan IMF bakal mendunia. Jika konflik dan perang berlanjut, dampak kehancuran ekonominya bakal lebih parah. Sanksi terhadap Rusia karena menginvasi Ukraina, pun sangat mungkin memberikan dampak substansial terhadap perekonomian di banyak negara.

Aroma 'ketidakpastian yang luar biasa' itu semakin terasa ketika dua lembaga bank pembangunan global, mempublikasikan prediksi berbeda soal dampak perang Rusia-Ukraina pada perekonomian Asia. Bank Dunia bersikap pesimistik dan Asian Develpment Bank (ADB) bersikap optimistik dan penuh keyakinan.

Bank Dunia, dalam laporan terbarunya bertitel 'Braving the Storms', melihat sedikitnya tiga faktor menyebabkan guncangan perekonomian Asia selama tahun ini. Ketiga faktor itu tak lain perang Rusia-Ukraina, perlambatan tajam perekonomian Cina, dan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserver (The Fed).

Ketiga faktor itu menjadi alasan Bank Dunia menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi Asia dan Pasifik 2022 dari lima persen menjadi 5,4 persen. Jika situasinya memburuk, prediksinya bisa lebih rendah ke level empat persen. Perekonomian Cina, yang terbesar kedua dunia, juga diprediksi melambat tajam dari 8,1 persen tahun lalu menjadi sekitar lima persen.

photo
Proyeksi Pertumbuhan PDB 2022 - (Bank Dunia)

 

ADB, sebaliknya, dalam laporan terbaru Asian Development Outlook (ADO) 2022, justru menunjukkan data dan proyeksi lebih optimistik. Lembaga ini memprpyeksikan perekonomian Asia sepanjang tahun ini bisa tumbuh 5,2 persen, meski menghadapi risiko seperti disrupsi jaringan pasokan global akibat perang Rusia-Ukraina.

Bahkan, pertumbuhan diprediksi berlanjut pada tahun depan menjadi 5,3 persen. Meski pertumbuhan berdasar sub-region bervariasi, namun ADO mengungkapkan pertumbuhan regional tersebut terjadi ditopang pulihnya permintaan domestik yang terus begerak menuju level sebelum pandemi. 

"Perang Rusia-Ukraina tak diragukan lagi menghambat pemulihan ekonomi. Ketiga faktor tadi akan memicu volatilitas keuangan, mengikis kepercayaan dan keyakinan pada perekonomian global," jelas Aaditya Mattoo, Kepala Ekonom Kawasan Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia, dilansir /Nikkei Asia/. Ditambah lagi dengan dampak kenaikan bunga The Fed dan perlambatan ekonomi di Cina.

Seacar terpisah, Alfred Park, Kepala Ekonom ADB, mengekspresikan optimisme dengan menunjuk data-data yang memang menrefleksikan kepercayaan dan keyakinan tinggi mengenai proyeksi potensi pertumbuhan Asia. Inflasi di Asia jauh lebih rendah dibanding kawasan lain dunia.

Bahkan sejumlah harga pangan disebutnya menurun dibanding tahun lalu. "Data itu memberikan optimisme setidaknya inflasi tidak menjadi masalah besar di Asia seperti yang terjadi di kawasan lain dunia," paparnya.

Meski menampilkan data dan proyeksi berbeda, baik Bank Dunia maupun ADB, sepakat soal perang Rusia-Ukraina memberi dampak signifikan pada beberapa negara. Secara keseuluruhan, invasi Rusia ke Ukraina dipastikan mempengaruhi seluruh sendi dan pertumbuhan ekonomi global, sekaligus mendongkrak inflasi. Dampaknya sangat mungkin menghantam fundamental perekonomian global dan regional dalam jangka panjang.

Selain faktor kemanusiaan dan arus pengungsi, perang jelas meroketkan harga pangan dan energi, serta menggerus nilai pendapatan. Pada saat bersamaan juga mendisrupsi perdagangan, jaringan pasokan global yang berimbas pada perekonomian kawasan.

photo
Layar televisi menayangkan perang Rusia-Ukraina di salah satu restoran di Hong Kong, Kamis (24/2/2022). - (AP/Vincent Yu)

Dinamis

Semua risiko-risiko itu terjadi saat banyak perekonomian Asia masih harus meredam dan menjaga kembali meluasnya pandemi. Juga menghadapi semakin ketatnya kondisi keuangan. "Semua kalangan saat ini mungkin sedang memperhitungkan dampaknya di berbagai sektor, tapi sampai saat ini belum ada prediksi yang jelas karena ketidakpastian masih tinggi," ungkap Changyong Rhee, direktur Asia Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF) dalam wawancara dengan Xinhua.

Rhee menjelaskan salah satu isu penting yang perlu diperhatian adalah seberapa lama perang berdampak pada harga komoditas, terutama energi. Jika perang berlangsung lama, dampaknya bisa mengubah banyak perekonomian Asia.

Pandangan berbeda dilontarkan Chairman Standard Chartered, Jose Vinals. Menurutnya perekonomian Asia masih berada dalam posisi cukup baik untuk menghambat dampak kenaikan harga energi dan komoditas akibat perang. Tekanan besar yang terjadi pada Eropa lebih karena tiga faktor yaitu sanksi pada Rusia, penurunan kepercayaan, dan tingginya ketergantungan pada minyak dan gas Rusia.

"Tanpa mengabaikan tantangan yang ada, meski di tengah ketidakpastian, Asia masih menjadi kawasan ekonomi paling dinamis di dunia, jangka menengah maupun jangka panjang," papar Vinals dilansir South China Morning Post.

Vinals menambahkan dalam waktu dekat ini isu kenaikan suku bunga The Fed perlu mendapat perhatian. Diungkapkannya, Chairman The Fed, Jerome Powell memberikan sinyal kuat untuk menaikkan kembali suku bunga sampai sebesar 50 basis poin. Tujuannya tak lain menghambat laju inflasi di AS yang Februari lalu mendekati level delapan persen.

Sebelumnya, The Fed sudah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, yang tercatat sebagai kenaikan pertama setelah lebih dari tiga tahun. Tahun ini disebut-sebut The Fed bakal menaikkan suku bunga secara agresif sampai enam kali.

Kondisi tersebut bakal menghadirkan tekanan inflasi yang lebih besar. Tekanan inflasi, sambungnya, pasti meningkat akibat kenaikan harga energi dan minyak serta komoditas lain secara umum. Ini akan mengurangi daya beli masyarakat, sehingga menghambat konsumsi dan invetasi yang bertahan lama.

"Situasi seperti itu tidak bisa dihindari ikut menyuramkan prospek pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan boleh jadi lebih rendah, tapi seberapa pastinya baru akan diketahui sejalan dengan berlangsung perang. Semakin lama, dampaknya akan semakin besar." 

Perang Rusia-Ukraina harus diakui cukup mengguncang perekonomian di Eropa. Tapi, pesimistis atau optimistis, di tengah ketidakpastian, ada kawasan lain dunia yang lebih memiliki ketahanan, dan Asia adalah salah satunya. 


Meraih Nikmatnya Ramadhan

Nikmati juga membaca Alquran sehingga tidak ada sedikitpun waktu yang terbuang.

SELENGKAPNYA

Zakat Perusahaan

Potensi zakat perusahaan itu besar dan signifikan, lebih besar dari zakat individu.

SELENGKAPNYA

Belajar Sabar dari ‘Menghilangnya’ Jalangkote

Jalangkote sudah menjadi salah satu ikon dari 10 daftar menu kuliner resmi Kota Makassar.

SELENGKAPNYA
×