Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

12 Apr 2022, 18:46 WIB

Jangan Merasa Keberatan Berpuasa

Siapa pun yang merasa dirinya manusia seharusnya berpuasa.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Ibadah puasa adalah fitrah manusia. Karena itu, sejak dahulu kala ibadah puasa ini sudah Allah SWT wajibkan: “Kutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum" (Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana juga diwajibkan atas manusia sebelum kamu), (QS al-Baqarah ayat 183).

Kata “kutiba” artinya ditulis atau ditetapkan. Siapa pun yang merasa dirinya manusia seharusnya berpuasa. Tujuannya untuk mengantarkan manusia agar merasakan lezatnya ketakwaan kepada Allah SWT: “La’allakum tattaquun.” Sebab, hanya dengan kesadaran takwa seorang hamba akan maksimal melakukan segala kebaikan.

Dahulu Nabi Daud AS berpuasa sepanjang tahun dengan cara sehari puasa sehari tidak. Ini menunjukkan, puasanya umat terdahulu sangat berat, tetapi itu sesuai dengan kemampuan fisik mereka. 

Rasulullah SAW bersabda: “Ahabbush shalaati ilallahi shalaatu dauud, wa ahabbush shiyaami ilallahi shiyaamu dauud, kaana yanaamu nisfallaili wa yaqumu tsulutsahu wa yanaamu sudusahu wa yashuumu yauman wa yafthuru yauman,” (shalat yang paling Allah SWT cintai adalah shalatnya Nabi Daud, ia tidur separuh malam, lalu bangun sepertiganya, lalu tidur lagi seperenamnya. Adapun puasanya sehari puasa dan sehari tidak). (HR Bukhari). 

Di zaman jahiliyah disebutkan dalam riwayat yang sahih bahwa masyarakat Quraisy juga mengenal puasa Asyura. Ibunda Aisyah menceritakan, Nabi waktu itu ikut berpuasa.

Ketika hijrah ke Madinah, Nabi menemukan masyarakat Yahudi berpuasa Asyura. Ketika ditanya, mereka menjawab bahwa itu hari kemenangan Nabi Musa atas Fir’aun. Karena itu --kata orang Yahudi lebih lanjut-- kami berpuasa.

 
Tidak pantas seorang hamba merasa keberatan dengan ibadah puasa.
 
 

Mendegar itu, Nabi bersabda: “Nahnu ahaqqu bimuusa minkum, fashaama wa amara bi shaumihii,” (Kami lebih berhak dari kamu untuk mensyukuri kemenangan Nabi Musa, maka Nabi berpuasa dan menyuruh sahabatnya berpuasa). Jadi, tidak pantas seorang hamba merasa keberatan dengan ibadah puasa.

Apalagi, kewajiban ibadah puasa tersebut hanya sebulan Ramadhan: “Ayyamam ma’duudaat" (Hanya beberapa hari saja). Maksudnya Allah SWT tidak mewajibkan kita berpuasa setahun. Cukuplah sejumlah hari selama Ramadhan.

Kata “ayyaam” menggambarkan, jumlah hari dalam sebulan bisa berbeda karena perputaran musim. Nabi menjelaskan, dalam sebulan bisa jadi 30 hari dan bisa jadi 29 hari. Bila ibadah puasa Ramadhan masih dalam batas antara kedua hitungan tersebut, puasanya masih lengkap sebulan. 

Syeikh Ibn Asyur menjelaskan, ibadah puasa merupakan cara Allah SWT untuk mencuci jiwa kita sehingga benar-benar bersih dari segala penyakit hati, maka dengan ibadah puasa akan tercapai kebaikan personal dan sekaligus kebaikan sosial.

Dengan diundangnya kita oleh Allah agar berpuasa ini jelas betapa Allah SWT sangat memperhatikan kita, sehingga kita dijaga dengan melakukan ibadah puasa. Sebab, jika tidak, kerusakan di tengah masyarakat akan mudah terjadi dan merajalela. ';

Darah Haid Hanya Tinggal Bercak, Wajibkah Puasa Ramadhan?

Bila darah haid hanya tinggal bercaknya saja atau flek, wajibkah menjalankan puasa?

SELENGKAPNYA

Cara Menjawab Salam dari Non-Muslim

Bagaimana sebaiknya menjawab salam dari non-Muslim yang mengucapkan dahulu?

SELENGKAPNYA
×