Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

09 Apr 2022, 04:18 WIB

Mendaki Kelezatan Iman

Berpuasa cara Allah SWT supaya sang hamba naik tingkat dalam merasakan kelezatan iman.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Allah SWT memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa: “Ya ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaam,” (Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa,) (QS al-Baqarah ayat 183).

Ini adalah cara Allah SWT supaya sang hamba naik tingkat dalam merasakan kelezatan iman. Sebab, puasa adalah ibadah mengendalikan nafsu. 

Bila nafsu terkendali, setan tidak akan berdaya untuk menggodanya. Sebaliknya, ketika nafsu merajalela, setan merasa berkuasa. Dalam kondisi ini, seorang hamba akan selalu terputus dengan Allah SWT.

Ibarat handphone yang sering kehilangan sinyal maka keterputusan jaringan komunikasi akan selalu terjadi. Bila komunikasi tidak lancar, otomatis akan muncul berbagai gangguan psikologis, ketidaktenangan, perasaan emosional, sampai terjadinya kesalahpahaman yang akan menyebabkan percekcokan bahkan permusuhan.

Bayangkan apa yang akan terjadi ketika manusia terputus dari Allah SWT? Inilah sebenarnya yang akan dicapai melalui ibadah puasa. Bahwa selama sang hamba dalam keadaan berpuasa, selama itu pula hawa nafsu akan terjaga. 

Ketika hawa nafsu aman, otomatis keindahan hubungan dengan Allah SWT akan terjalin. Dari sini iman akan terasa indah, ketenangan akan menyebar dalam jiwa, lebih dari itu kebahagiaan akan tercapai. 

Allah SWT mencontohkan bagaimana seorang hamba mencapai kelezatan iman dengan kisah tukang sihirnya Fir’aun. Ketika mereka melihat dengan mata kepala bahwa apa yang diperbuat Nabi Musa adalah mukjizat, bukan sihir. Di situ mereka langsung beriman dan bersujud: “Wa ulqiyas sharatu saajidiin, qaaluu aamanaa birabbil ‘aalamiin, rabbi muusaa wa haarun." (Para penyihir itu seketika langsung bersujud. Mereka berkata kami beriman kepada Tuhan pemilik alam semesta. Tuhan yang disembah Musa dan Harun) (QS al-Araf ayat 120-122). 

Subhanallah, dalam hitungan detik para penyihir itu langsung mencapai puncak iman yang tidak tergoyahkan. Sekalipun Fir'aun mengncam dengan sadis. Karena bagi Fir’aun sikap para penyihir itu adalah kesalahan besar.

Mereka telah beriman sebelum meminta izin kepadanya: “Aamantum bihii qablaa an aadzan lakum?” Fir'aun menganggap itu adalah makar: “Inna hadzaa lamakrun makartumuuhu” (QS al-Araf: 123).

Di puncak kemurkaannya, Fir’aun memutuskan akan memutilasi mereka: “Lauqaththi’anna aidyakum wa arjulakum min khilaafin tsumma laushallibannakum ajma’iin” (pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang, kemudian sungguh akan aku salib kamu semua) (QS al-Araf: 124)

Tetapi semua ancaman tersebut tidak menggoyahkan iman para penyihir tersebut. Para penyihir menjawab dengan tenang bahwa kami pasti akan kembali kepada Allah Tuhan kami: “Qaaluu innaa ilaa rabbina munqalibuun” (QS al-Araf: 125).

Masya Allah, kebalikannya masih banyak orang yang sudah bertahu-tahun beriman, tetapi kenyataanya mudah goyah imannya hanya kerena godaan harta, takhta, dan wanita.


Mudik Ujian Menuju Status Endemi Covid-19

Bila sudah masuk status endemi, potensi peningkatan kasus Covid-19 bukan berarti tidak ada

SELENGKAPNYA

Manggapai Rahmat, Meraih Maghfirah

Kasih sayang Allah ada yang diberikan di dunia dan ada yang diberikan nanti di akhirat.

SELENGKAPNYA

Perangkap Bisnis di Bulan Suci

Di tengah gempuran badai bisnis Ramadhan yang bertubi-tubi, perlu kesadaran kualitas puasa kita.

SELENGKAPNYA
×