Cover Islam Digest edisi Ahad 27 Maret 2022. Riwayat Keruntuhan Baghdad. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

Ketika Mongol ‘Menyapu’ Dunia

Wilayah kekuasaan Imperium Mongol setara 17,81 persen dari seluruh dataran Bumi.

OLEH HASANUL RIZQA

Pada awal abad ke-13, dunia menyaksikan ekspansi Kekaisaran Mongol di Asia. Keturunan Jengis Khan menebar ancaman bagi daulah Islam. Pusat Kekhalifahan Abbasiyah akhirnya tidak selamat dari kebengisan mereka.

Pada abad ke-13 Masehi, dunia menyaksikan lahirnya sebuah kerajaan yang sangat berpengaruh. Wilayah kekuasaannya meliputi 24 juta kilometer persegi atau setara 17,81 persen dari seluruh dataran Bumi. Imperium yang dimaksud adalah Mongol.

Kerajaan tersebut berjaya lebih dari satu setengah abad, yakni antara tahun 1206 dan 1368. Selama itu, Mongol mengendalikan sebagian besar Eurasia. Daya ekspansinya didukung pasukan yang berwatak nomadik serta beragam persenjataan canggih pada masanya. Sebut saja, baju besi, bubuk mesiu, atau bola peluru.

Di pelbagai negeri yang dikuasainya, Mongol membentuk pemerintahan serta birokrasi yang efektif dan efisien. Mereka juga merancang sistem perpajakan. Walaupun terkenal suka membunuh dan menjarah, para pemimpinnya menerapkan kebijakan yang cenderung toleran terhadap kemajemukan agama-agama dan kebudayaan lokal.

Kegemilangan Imperium Mongol bermula dari Temujin (1162-1227). Sejak berusia 30 tahun, ia diakui luas sebagai pemersatu suku-suku nomaden yang menghuni dataran tinggi Asia timur-laut.

Sekira 10 tahun kemudian, dewan musyawarah klan-klan Mongol (khural) sepakat untuk mengangkatnya sebagai jenghis khan atau pemimpin universal bangsa Mongol. Gelar tersebut akhirnya melekat sebagai nama dirinya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Dengan kekuasaan di tangan, Jenghis Khan mengubah suku-suku Mongol menjadi mesin militer yang solid dan tangguh. Loyalitas mereka tidak lagi terarah pada klan masing-masing, tetapi sang khan seorang.

Pada 1210 M, Jenghis Khan memobilisasi pasukannya untuk menghadapi musuh bebuyutan, yaitu Cina. Wilayah Cina utara saat itu dikuasai Dinasti Jin. Selama beberapa tahun, pasukan Jenghis terus merangsek ke berbagai daerah kekuasaan wangsa tersebut.

Pada akhirnya, ibu kota Jin, Zhongdu (kini Beijing), dapat direbutnya. Selama konflik berlangsung antara tahun 1211 M dan 1215 M, tercatat sebanyak 15 juta jiwa melayang. Puluhan ribu orang mengungsi dari Cina utara ke selatan demi menghindari serbuan Mongol.

Target berikutnya adalah Dinasti Qara Khitai, yang telah menyerang salah satu negeri bawahan Mongol di Almaliq. Jenghis Khan pada 1218 M menugaskan jenderalnya, Jebe, untuk memimpin dua tumen pasukan—kira-kira sebanyak 20 ribu prajurit.

Pemimpin Qara Khitai, Kuchlug, awalnya beragama Kristen Nestorian, tetapi kemudian memilih Buddha. Begitu menguasai Almaliq, raja ini memaksa seluruh penduduk setempat—mayoritas Muslim—untuk murtad dan menjadi penganut Buddha.

Maka kedatangan Jebe ke Almaliq disambut rakyat kota tersebut pada umumnya. Walaupun sempat bertahan, Kuchlug tidak kuasa menahan serangan. Ia pun kabur hingga ke kaki Pegunungan Pamir, Afghanistan. Usai ditangkap, dirinya dijatuhi hukuman mati oleh jenderal Mongol tersebut.

photo
Peta yang menunjukkan sejumlah ekspedisi militer yang dilakukan bangsa Mongol pada masa Jenghis Khan dan anak cucunya. - (DOK COLUMBIA EDU)

Insiden Khwarazmi

Hingga tahun 1220, Jenghis Khan menguasai seluruh Cina utara hingga Asia tengah. Di sisi sebelah barat, wilayah kekuasaannya berbatasan dengan Dinasti Khwarazmi. Wangsa Muslim tersebut pada mulanya adalah vasal Kerajaan Seljuk, tetapi kemudian menjadi independen sejak tahun 1194.

Jenghis Khan ingin membuka hubungan diplomatik dengan Khwarazmi. Tujuannya untuk menghidupkan Jalur Sutra, yang menghubungkan arus perniagaan antara Cina dan Asia barat. Kebetulan, rute itu melewati wilayah negeri Muslim tersebut.

Pada 1218, sang khan mengirimkan 500 orang delegasi ke Ortar, sebuah kota yang termasuk kekuasaan Khwarazmi. Namun, gubernur kota setempat, Inalchuq, mencurigai para utusan itu sebagai mata-mata.

Karavan mereka kemudian diserang. Semua yang dituding melakukan spionase lantas dihukum mati oleh sang gubernur. Kemungkinan besar, eksekusi itu terjadi atas perintah raja Khwarazmi saat itu, Shah Muhammad II.

Begitu menerima kabar kematian para dutanya, Jenghis Khan menjadi amat murka. Ia lantas mengirimkan sejumlah utusan lagi untuk mendesak Muhammad II agar menyerahkan si gubernur kepadanya. Akan tetapi, para delegasi Mongol ini juga dibunuh sang shah.

Setelah itu, Jenghis Khan mengerahkan 200 ribu personel pasukannya untuk menyerbu Khwarazmi. Muhammad II tidak menyangka jumlah balatentara musuh begitu besar. Dengan panik, shah tersebut berusaha menyelamatkan diri.

Sementara itu, satu per satu kota-kota penting Khwarazmi di Asia Tengah jatuh ke tangan Mongol. Termasuk di antaranya adalah Bukhara, Samarkand, dan bahkan Urgrench yang tidak lain adalah ibu kota negeri Muslim tersebut.

Bukan hanya pasukan Khwarazmi yang dibabat habis. Penduduk sipil juga dibantai dengan keji. Jutaan orang menemui ajalnya di ujung pedang pasukan Mongol.

photo
Bangsa Mongol dikenal sering memenangkan pertempuran berkat kelincahan pasukan berkuda. - (DOK FLICKR)

Shah Muhammad II tewas saat berupaya kabur ke Khurasan pada 1220 M. Putranya, Jalaluddin Mingburnu, sempat meneruskan perlawanan, tetapi satu tahun kemudian dirinya ikut terbunuh dalam sebuah pertempuran di dekat Sungai Indus.

Beatrice Forbes Manz dalam buku The New Cambridge History of Islam (2011) menjelaskan, jatuhnya Dinasti Khwarazmi mengawali ancaman Mongol terhadap dunia Islam, termasuk Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Bagaimanapun, hingga akhir hayatnya Jenghis Khan cenderung berfokus pada “mengamankan” Jalur Sutra untuk kepentingan bangsanya.

Sesudah mengoyak habis Khwarazmi, sang khan mengumpulkan seluruh balatentaranya di Persia. Awalnya, ia berniat untuk memimpin mereka pulang ke dataran Mongolia.

Namun, atas saran seorang ahli taktik perang (subutai), Jenghis Khan kemudian membagi dua pasukannya. Yang pertama dipimpin langsung oleh dirinya untuk menjalankan misi penaklukan atas Afghanistan dan India utara sebelum tiba di Mongolia.

Kelompok yang kedua terdiri atas dua tumen. Mereka dipimpin jenderal Jebe untuk menembus Pegunungan Kaukasus serta merangsek ke Rusia. Sebanyak 20 ribu personel pasukan tersebut sukses menguasai Kerajaan Georgia dan Krimea, tetapi kemudian tertahan oleh kekuatan Volga Bulgaria di Pertempuran Kernek pada 1223.

Seandainya tidak terkalahkan dalam perang tersebut, boleh jadi invasi bangsa Mongol dapat sampai ke dataran Eropa.

photo
Patung besar Jenghis Khan di Mongolia. Hingga kini, lokasi makam sang penakluk itu masih menjadi misteri. - (DOK PIXABAY)

Era horde

Pada akhir tahun 1222, Jenghis Khan memindahkan pusat kekuasaan dari Mongolia ke Asia tengah, tepatnya daerah subur yang bernama Transoxiana, antara Sungai Amu Darya dan Syr Darya. Selanjutnya, ia masih memimpin misi penaklukan atas Xia Barat atau Kerajaan Tangut di Cina tengah. Sesudah berhasil merebut ibu kota Tangut, Yinchuan, kesehatannya terus menurun.

Pada Agustus 1227, Jenghis Khan mengembuskan nafas terakhir. Penyebab kematiannya tidak diketahui dengan pasti. Bahkan, lokasi kuburannya terkesan misterius hingga saat ini.

Pada saat sang penakluk meninggal dunia, Kekaisaran Mongol telah mencakup Mongolia, Cina utara, Siberia selatan, seluruh Asia Tengah, dan Afghanistan utara. Wilayah yang amat luas itu kemudian dibagi-bagi menjadi empat khanate atau horde (harfiah: ‘gerombolan’).

Jumlah tersebut sesuai dengan total anak laki-laki yang dilahirkan istri resmi sang mendiang, Borte. Keempatnya adalah Chaghadai, Tolui, Ogedei, dan Jochi. Dengan pembagian daerah kekuasaan itu, dimulailah era horde dalam sejarah Imperium Mongol.

Chaghadai dan Tolui masing-masing mendapatkan Asia Tengah dan Mongolia. Adapun yang paling unggul di antara keempat putra Jenghis Khan, Ogedei, meneruskan misi ekspansi bapaknya secara signifikan.

Tidak seperti ayahnya, Ogedei memilih untuk dirinya gelar qaghan, titel yang menunjukkan khas budaya Turki. Hal itu mengindikasikan besarnya pengaruh kultur non-Mongol di lingkaran elite.

 
Kelak, seorang putra Jochi yang bernama Batu Khan akan mengawali fase Islamisasi Mongol.
 
 

Jochi wafat sebelum Jenghis Khan tiada. Karena itu, hak-haknya atas takhta kemudian diambil alih anak-anaknya. Mereka menguasai sekitar Siberia selatan, yakni wilayah utara Imperium. Kelak, seorang putra Jochi yang bernama Batu Khan akan mengawali fase Islamisasi Mongol.

Ogedei memiliki putra sulung, yaitu Guyuk. Cucu Jenghis Khan tersebut ikut serta dengan Batu Khan dalam misi penyerbuan ke Eropa timur dan tengah. Karena aksi militer itu, Paus Gregory IX pada 1240 sampai-sampai memaklumkan Perang Salib terhadap bangsa Mongol.

Akhirnya, negeri-negeri Kristen di Benua Biru selamat dari invasi balatentara dari timur itu karena “kebetulan” belaka. Para jenderal Mongol tersebut mendapatkan kabar wafatnya Ogedei sehingga harus kembali ke Transoxiana.

Sekira tujuh tahun pascamisi ke Eropa, Guyuk meninggal dunia. Sesudah kematiannya, perhatian para elite Mongol mulai berkurang terhadap Benua Biru dan semakin tercurah pada Cina selatan. Karena tidak memiliki seorang pun anak kandung, kekuasaan sang mendiang lantas diteruskan oleh keponakannya, Mongke Khan.

photo
ILUSTRASI Baghdad yang ratusan tahun menjadi pusat peradaban dunia, porak poranda akibat diserang pasukan Mongol. - (DOK WIKIPEDIA)

Putra sulung Tolui itu berambisi melebarkan ekspansi hingga ke Mesir. Kala itu, wilayah antara Mesopotamia dan Sungai Nil dikuasai daulah-daulah Islam. Semua negeri Muslim tersebut mengakui Dinasti Abbasiyah sebagai kekhalifahan yang sah.

Baghdad, jantung pemerintahan Abbasiyah, saat itu dipimpin Khalifah al-Musta’shim Billah. Walaupun Mongol sudah menyapu habis wilayah Islam di Khurasan dan Asia tengah, sang khalifah masih yakin kerajaannya sukar ditembus balatentara dari Asia timur itu. Bahkan, putra al-Mustanshir itu sempat menawarkan bantuan militer ke Dinasti Mamluk Mesir yang kerepotan menghadapi Pasukan Salib dari Eropa.

Belakangan, rasa terlalu percaya diri terbukti menjerumuskan. Al-Musta’shim tidak kuasa menahan serangan Mongol yang dikomandoi Hulagu Khan, panglima kebanggaan Mongke Khan.

Baghdad—kota kosmopolitan sekaligus mercusuar peradaban dunia abad pertengahan— luluh lantak pada Februari 1258. Sang khalifah ikut menjadi sasaran kebengisan agresor. Jumlah korban jiwa diperkirakan mencapai 800 ribu hingga dua juta jiwa.

Serbuan Mongol dan Kejatuhan Baghdad Kota 1.001 Malam

Pasukan Hulagu Khan dapat menembus benteng Kota Baghdad pada 10 Februari 1258.

SELENGKAPNYA