Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

19 Mar 2022, 03:45 WIB

Mengejar Popularitas Langit

Selebritas yang terlibat rupanya tak puas hanya terkenal di bumi, melainkan berharap meraih popularitas di langit.

OLEH ASMA NADIA

Dulu, wajah mereka lebih sering saya kenali di media massa; tabloid, koran, majalah, selain infotainment. Nama-nama yang malang melintang sebagai pembawa acara, sosok influencer, dan artis terkenal di dunia hiburan; musik maupun layar sinetron dan film.

Bertatap muka langsung dengan mereka? Dulu sama sekali tak terbayang. Rasanya, popularitas mereka berbanding lurus dengan kesibukan, kejaran para wartawan, dan keglamoran. Jauh dari jangkauan rakyat jelata seperti saya.

Baru setelah adaptasi novel, antara lain, trilogi "Surga yang Tak Dirindukan", "Assalamu’alaikum Beijing 1", "Cinta Laki-laki Biasa", dan "Jilbab Traveler", serta beberapa judul buku yang disinetronkan, seperti "Catatan Hati Seorang Istri", "Istri Kedua", saya berkesempatan sesekali berpapasan dengan aktor aktris yang terlibat dalam produksi. 

Tentu hanya di wilayah syuting atau rangkaian promo. Maka, hal baru bagi saya saat diajak almarhum Hilman Hariwijaya berada dalam grup Whatsapp Kajian Musawarah. Tak ada gosip, potret kemewahan, atau apa pun kecuali ikhtiar berbagi keilmuan dan proyek kebaikan.

 
Rasanya, popularitas mereka berbanding lurus dengan kesibukan, kejaran para wartawan, dan keglamoran. Jauh dari jangkauan rakyat jelata seperti saya.
 
 

Saat pertama bergabung mengikuti kajian secara langsung, saya sontak tergugu. Dude Harlino, Teuku Wisnu, Arie Untung, Dimas Seto, keempatnya seperti anggota kajian lain seolah menanggalkan atribut keartisan kala menyimak penuturan para guru.

Saya melihat para selebritis terkenal berebut menghapus white board untuk memudahkan ustaz yang mengisi atau memindahkan kursi dan meja, kerja fisik yang tidak tertangkap kamera.

Secara pribadi, saya beberapa kali bertemu Dude Harlino juga istri, Alyssa Soebandono. Sedikit pertemuan cukup untuk mencatat betapa rendah hati keduanya.

Ketika saya mengunjungi lokasi syuting sinetron "Sakinah Bersamamu" dulu, Dude paling sibuk menanyakan apakah saya ingin minum atau makan sesuatu, bahkan mengantar hingga ke kendaraan saat saya meninggalkan tempat. 

 
Mengikuti gerak gerik para artis hijrah di sana, berkali-kali saya tertampar melihat mereka bergerak cepat saat bencana alam terjadi di wilayah Tanah Air. 
 
 

Bertahun berlalu, sosok ramahnya yang kini dipercaya menjadi Ketua Kajian Musawarah, tak berubah. Bahkan terlihat makin berkhidmat terhadap berbagai agenda Kajian Musawarah.

Mengikuti gerak gerik para artis hijrah di sana, berkali-kali saya tertampar melihat mereka bergerak cepat saat bencana alam terjadi di wilayah Tanah Air. Mereka memberi bantuan nyata, berada lebih dulu di lokasi, jejak kebaikan yang sering dilakukan tanpa ingar bingar.

Salah satu yang tumbuh dalam keheningan adalah Rumah Quran Musawarah (RQM) yang belum lama menggelar wisuda santri. Acara sederhana yang dipenuhi kelucuan juga isak tangis dan keharuan.

Melihat anak-anak muda dari Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua selama setahun digembleng untuk menghafal Alquran 30 juz. Alhamdulillah.

“Kami berusaha memberikan makanan terbaik selama mereka belajar. Sebab, mereka calon-calon penghafal Quran,” tutur Dimas Seto didampingi istrinya, Dhini Aminarti, tak ubahnya ayah dan bunda di RQM mengurusi bukan hanya makanan, tapi berbagai kebutuhan termasuk ketika mereka sakit.

Di RQM, selain menghafal Alquran, mereka dibekali aneka keterampilan. Para artis hijrah bergantian sedekah ilmu, berbagi wawasan serta keterampilan yang mereka miliki.

 
Saya berkali-kali menyusut air mata. Haru bercampur malu.
 
 

Saya berkali-kali menyusut air mata. Haru bercampur malu. Sebab, para selebritas yang terlibat mencurahkan pikiran, waktu, tenaga, dan dana rupanya tak puas hanya menjadi terkenal di bumi melainkan berharap meraih popularitas di langit.

Sebagaimana ucapan Dimas saat saya berterima kasih kepadanya dan sang istri karena telah mengawal para santri RQM layaknya anak sendiri. “Ini kerja bersama, kerja semua, Mbak. Delapan puluh persen dari program kebaikan di Musawarah disupport anggotanya sendiri.”

Nama demi nama yang tentu sangat familier bagi penikmat panggung hiburan Tanah Air, disebutkan pasangan Dimas dan Dhini, yang kekompakan mereka beradu peran insya Allah bisa kita saksikan juga melalui film Hayya 2 yang mulai 24 Maret di bioskop.

 
Lewat para artis hijrah yang terus bergerak ini, saya belajar banyak tentang semangat menuntut ilmu.
 
 

Selain RQM, Kajian Musawarah menggelar Sedekah Beras sebagai respons setelah pandemi mengancam banyak perusahaan termasuk kelangsungan pondok-pondok pesantren. Setiap bulannya, 13 ton beras dihimpun dan disalurkan melalui 80 pesantren dan 5.000 santri.

Beberapa artis bahkan ikut menggotongnya sendiri. Jangan heran jika terdapat nama yang kerap berperan sebagai tokoh antagonis bagi penonton sinetron Tanah Air, ternyata aslinya saleh dan sangat rendah hati.

Selain beras ada sedekah roti dari santri untuk santri. Tidak berhenti di sana gerakan wakaf Alquran telah lama pula berjalan. Setiap bulannya rutin sekitar  6.000 Alquran disalurkan ke berbagai area hingga ke Aceh. 

Lewat para artis hijrah yang terus bergerak ini, saya belajar banyak tentang semangat menuntut ilmu, menghormati para ustaz yang membimbing, juga semangat belajar dan menghafal Alquran, selain ketulusan dan kepedulian yang terus dihidupkan.  

Usia tidak ada yang tahu, tapi semoga keikhlasan para perindu surga, penggerak kebaikan bahkan dari ranah paling senyap, Allah terima.


Pelonggaran Saat Ramadhan Tergantung Capaian Vaksinasi

Aktivitas selama Ramadhan dilonggarkan jika capaian vaksinasi Covid-19 dosis lengkap mencapai 70 persen.

SELENGKAPNYA

Tobat Hakiki

Berbagai langkah untuk bertobat ini bisa dilakukan kapan saja, di bulan Sya'ban sangat dianjurkan.

SELENGKAPNYA
×