Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pertemuan di Istanbul, 2019 lalu. | Kantor Kepresidenan Turki

Internasional

19 Mar 2022, 03:45 WIB

Putin Telepon Erdogan

Putin menyampaikan lima tuntutan terkait Ukraina.

ISTANBUL -- Presiden Rusia Vladimir Putin menelpon Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Kamis (17/3) siang. Saat itu, Putin membeberkan lima tuntutannya terkait Ukraina.

Erdogan juga kembali menawarkan menjadi tuan rumah pembicaraan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. "Perang tidak akan menguntungkan pihak mana pun dan kita harus memberi kesempatan pada diplomasi," kata Erdogan kepada Putin, dalam keterangan tertulis Kepresidenan Turki yang dimuat Hurriyet Daily News, Jumat (18/3).

Kepada Putin, Erdogan menekankan pentingnya memperhatikan masalah kemanusiaan agar koridor kemanusiaan dapat berjalan efektif dan lancar. Ia yakin, deklarasi gencatan senjata permanen akan membuka penyelesaian jangka panjang.

Juru bicara Erdogan, Ibrahim Kalin, hadir dalam percakapan telepon yang berlangsung setengah jam itu. Kalin memaparkan kepada BBC tentang lima tuntutan Putin untuk penyelesaian damai Ukraina.

Dalam empat tuntutan, kata Kalin, antara lain Ukraina menjadi negara netral dan tidak akan bergabung dengan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Tuntutan ini tampaknya tidak akan sulit. Alasannya, topik ini pernah diungkap Zelenskyy beberapa hari lalu yang menyatakan Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO.  

Ukraina juga diminta melucuti diri agar tidak menjadi ancaman bagi Rusia. Selain itu, Ukraina harus melindungi bahasa Rusia di wilayah Ukraina.

Tuntutan berikut adalah "de-Nazifikasi" atau melucuti pemikiran-pemikiran sejumlah elemen di Ukraina yang dinilai seperti Nazi. Penggunaan istilah de-Nazifikasi diperkirakan menyengat Zelenskyy, seorang Yahudi yang sejumlah sanak kerabatnya adalah korban Holocaust.

Namun, Turki yakin poin tuntutan ini akan dengan mudah diterima Zelenskyy. Ukraina dapat saja melakukannya dengan cara mengecam semua bentuk ideologi neo-Nazi dan berjanji untuk menumpas mereka.

photo
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (kiri) menyambut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pertemuan di Kiev, Kamis (3/2/2022). - (AP/Ukrainian Presidential Press Off)

Menurut Kalin, kategori kedua mungkin sulit. Kepada Erdogan, Putin mengatakan perlunya bertemu tatap muka dengan Zelenskyy sebelum meneken kesepakatan Rusia dan Ukraina.

Pertemuan ini memungkinkan karena sebelumnya Zelenskyy pun mengatakan siap bertemu Putin. Namun, topik bahasannya mungkin akan berat karena menyangkut teritori Ukraina.

"Mr Kalin tidak terlalu detail soal ini, hanya menyebutkan bahwa ini terkait status Donbas di Ukraina timur, (yaitu) wilayah yang sudah memisahkan diri dari Ukraina dan mempertahankan sifat ke-Rusia-annya serta status Krimea," tulis BBC.

Untuk poin ini, tampaknya Ukraina diminta menerima bahwa wilayah tersebut lepas. Namun, isu ini tentu tidak akan mudah bagi Ukraina.

Keamanan kolektif

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu juga berbicara melalui telepon dengan Menlu Ukraina Dmytro Kuleba, Jumat. Kuleba meminta Turki menjadi penjamin jika kesepakatan Ukraina dengan Rusia terjalin kelak.

Peran Turki ini bersama dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB dan Jerman. Lima anggota tetap DK PBB atau disebut 5P adalah Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Rusia, dan Cina.

"Ukraina menawarkan kesepakatan keamanan kolektif: 5P, Turki, dan Jerman," kata Cavusoglu yang pada Rabu dan Kamis berkunjung ke Rusia dan Ukraina. "Saya melihat, Federasi Rusia tidak keberatan dan akan menerima tawaran semacam itu," katanya yang dikutip Hurriyet Daily News.

Turki memegang peranan unik antara Rusia dan Ukraina. Sebagai anggota NATO, Turki mengecam invasi Rusia ke Ukraina, tapi juga mengkritik sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia. Sedangkan drone buatan Turki menjadi salah satu alat pertahanan yang dipakai Ukraina.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden dijadwalkan menjalin percakapan telepon dengan Presiden Cina Xi Jinping, Jumat malam WIB. Biden diperkirakan meminta Cina agar tak mendukung Rusia.  

Rusia melakukan invasi ke Ukraina sejak 24 Februari 2022 lalu. Sejak saat itu, Rusia dihujani sanksi Barat. Lebih dari 3,2 juta warga Ukraina mengungsi ke negara terdekatnya di Eropa.  ';

Mafia Minyak Goreng Diburu

Kemendag telah menyerahkan data-data mengenai dugaan mafia minyak goreng ke KPPU.

SELENGKAPNYA

Mayoritas Penduduk Miliki Antibodi Covid-19

Sejumlah daerah yang antibodinya masih rendah diminta menggenjot vaksinasi Covid-19.

SELENGKAPNYA

Quartararo Tercepat di Latihan Bebas Kedua, Marquez Jatuh

Menjelang pelaksanaan balap MotoGP yang akan digelar pada Ahad (20/3), berbagai persiapan masih terus dilakukan.

SELENGKAPNYA
×