Anak-anak membaca buku di Bale Buku Jakarta, Dukuh, Jakarta, Jumat (12/11/2021). | Republika/Putra M. Akbar

Opini

Mengajak Anak Membaca Buku

Orang dewasa memiliki kewajiban mengenalkan buku-buku berkualitas kepada anak-anak.

ANGGI AFRIANSYAH, Peneliti di Pusat Riset Kependudukan BRIN

Pada dasarnya, anak-anak senang melihat dan mendengar orang dewasa membacakan buku untuknya. Cobalah, ambil beberapa buku dan mulailah membacakannya kepada anak-anak, adik, sepupu, keponakan, dan tetangga. Lihatlah respons dari anak-anak tersebut.

Mereka akan mendengarkan secara saksama buku-buku yang dibacakan. Untuk anak-anak usia dini, buku-buku bergambar dan berwarna akan sangat digemari.

Apalagi, jika orang dewasa yang membacakan buku tersebut melakukannya, dengan tekanan suara tertentu dan dilakukan dengan riang gembira. Mereka akan tertarik dan ikut terhanyut dengan apa yang dibacakan.

 
Selain itu, hasil penelitian keduanya menyebutkan, anak-anak lebih cenderung mengalami interaksi verbal yang kaya selama membaca buku cetak bersama.
 
 

Artikel Gulsah Ozturk & Susan Hill (2018) bertajuk ‘’Mother–child interactions during shared reading with digital and print books’’ menyebutkan, membaca buku cetak melibatkan anak dalam interaksi verbal yang kaya dibandingkan membaca buku digital.

Selain itu, hasil penelitian keduanya menyebutkan, anak-anak lebih cenderung mengalami interaksi verbal yang kaya selama membaca buku cetak bersama.

Orang tua selalu mengeluh anak-anak lebih gemar bermain gawai dibanding dengan membaca buku. Jika demikian, coba cek kembali kebiasaan orang-orang dewasa di hadapan anak-anak. Apakah para orang dewasa sudah menjadi contoh menjadi pembaca yang tekun?

Atau justru kita sebagai orang tua juga gemar mendemonstrasikan keasyikan kita terhadap gawai. Jangan-jangan, orang dewasalah yang menjadi kontributor terkuat yang membuat anak-anak menjauhi buku dan dekat dengan gawai.

Membacakan buku secara konsisten ke anak-anak, memang bukan perkara mudah dan membutuhkan konsistensi. Banyak saran menyebutkan, agar setiap orang dewasa membacakan buku kepada anak-anak sebelum tidur.

 
Membacakan buku kepada anak-anak, menurut banyak pakar menjadi pintu masuk bagi anak-anak yang gemar membaca. 
 
 

Saran ini tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Untuk mereka yang memiliki waktu luang dan tidak bekerja di kala malam, tentu akan mudah untuk membacakan buku-buku bagi anak-anak di rumah.

Namun, untuk orang tua atau orang dewasa yang harus bekerja sif malam atau para pekerja malam, misalnya pedagang makanan, tentu hal tersebut bukan perkara mudah. Pada saat anak-anak menunggu dibacakan buku, para orang tua masih harus bekerja di luar rumah.

Membacakan buku kepada anak-anak, menurut banyak pakar menjadi pintu masuk bagi anak-anak yang gemar membaca. Selain perkara mengajak anak membaca buku, di sisi lain ada soal keeratan psikologis anak dengan orang tua.

Proses membaca merupakan bagian interaktif, di mana anak dan orang tua bisa berdialog tentang buku yang sedang dibaca. Anak- anak dipantik rasa ingin tahu dan mereka dapat juga diminta untuk berpendapat mengenai buku yang sedang dibaca bersama-sama.

 
Cobalah mencari di berbagai toko daring buku-buku cerita bergambar bagi anak. Buku-buku berbahasa Indonesia saja, harganya mahal, apalagi buku-buku berbahasa Inggris.
 
 

Membangun tradisi tersebut, diperlukan perjuangan dari orang tua atau orang dewasa yang ada di rumah. Pertama, tentu kesadaran orang tua bahwa buku-buku adalah teman yang baik bagi anak-anak.

Dengan begitu, tidak ada kerugian bagi orang tua untuk membelikan buku-buku dan membacakannya kepada anak. Meski demikian juga disadari bahwa buku-buku anak di Indonesia termasuk mahal.

Cobalah mencari di berbagai toko daring buku-buku cerita bergambar bagi anak. Buku-buku berbahasa Indonesia saja, harganya mahal, apalagi buku-buku berbahasa Inggris.

Dengan kondisi tersebut, tidak mudah bagi orang tua kelas pekerja dengan penghasilan bahkan kurang dari upah minimum kota (UMK) dapat menyisihkan uangnya untuk membeli buku bagi anak-anak mereka.

Buku bukan pilihan yang baik ketika mereka harus berjuang untuk membeli kebutuhan pokok. Jika dipilih, membeli buku atau membeli minyak goreng yang sedang langka, pilihan akan cenderung jatuh pada barang kedua. Kebutuhan pokok tidak bisa menunggu, buku bisa menunggu.

 
Membaca adalah bagian dari proses budaya. Budaya tidak bisa hadir tiba-tiba. Ia hadir melalui proses panjang. 
 
 

Membaca adalah bagian dari proses budaya. Budaya tidak bisa hadir tiba-tiba. Ia hadir melalui proses panjang. Anak-anak yang gemar membaca, hadir dari internalisasi yang kokoh di ruang keluarga, sekolah, ataupun komunitas.

Jika anak-anak tidak dapat kesempatan membaca di rumah karena berasal dari keluarga miskin, mereka punya kesempatan membaca di sekolah. Jika di sekolah anak-anak tidak mendapat kesempatan yang baik membaca buku, mereka dapat membaca buku di komunitas.

Jika di tiga lokus pendidikan tersebut tidak ada buku-buku dan orang dewasa yang mengajak untuk membaca buku, jangan harap kita mendapat anak-anak yang gemar membaca.

Secara struktural, harus ada dorongan dari negara untuk dapat mendistribusikan buku-buku berkualitas ke berbagai arena pendidikan.

Tidak terbatas ke sekolah-sekolah (pendidikan formal), buku-buku tersebut juga harus disebar secara merata ke komunitas, kelurahan- kelurahan, tempat ibadah, dan ragam tempat lain, yang memungkinkan anak-anak ataupun orang dewasa mengakses buku-buku.

Ketika buku-buku itu dapat mudah diakses, harapannya orang dewasa juga akan ikut membaca, kemudian menularkan kegemaran membacanya kepada anak-anak.

 
Ketika buku-buku itu dapat mudah diakses, harapannya orang dewasa juga akan ikut membaca, kemudian menularkan kegemaran membacanya kepada anak-anak.
 
 

Ketika mudah mencari referensi di perpustakaan sekolah, guru-guru akan mengajak anak-anak turut serta membaca. Tentu proses ini akan memakan waktu lama, tetapi memang harus dimulai dan dimasifkan menjadi gerakan bersama.

Selama ini, gerakan-gerakan berbasis komunitas berupaya untuk menggerakkan masyarakat yang gemar membaca. Namun, memang gemanya masih sangat terbatas. Sebab, basis gerakan ini sangat sukarela dan bergantung keleluasaan waktu para penggagasnya.

Untuk membuat anak-anak senang membaca, perlu ada gerakan lebih masif. Sehingga di mana pun anak-anak melangkah mereka melihat buku. Buku tidak menjadi barang eksklusif yang menjadi milik kelompok tertentu saja, tetapi milik semua pihak.

Pada masa anak-anak lebih tertarik mencari informasi melalui internet, membaca tulisan-tulisan singkat, bahkan mempelajari ragam hal melalui video singkat di YouTube atau bahkan Tik Tok, membaca buku yang tebal tentu menjadi tantangan berat.

 
Maka itu, orang dewasa memiliki kewajiban mengenalkan buku-buku berkualitas kepada anak-anak.
 
 

Padahal dengan membaca buku, seseorang mendapat kesempatan untuk menggeluti sebuah persoalan secara mendalam dan reflektif. Pada saat kita ditawari oleh ragam kecepatan, membaca buku dapat menjadi tawaran menarik untuk membuat kita lebih perlahan dalam melangkah. Dan rasanya, itu yang dibutuhkan hari ini.

Membaca buku adalah pengalaman eksistensial setiap anak. Bagaimana mereka memegang buku, tertarik membaca, kemudian tenggelam dalam paparan pengetahuan yang ada di buku menjadi proses mencari diri sendiri.

Maka itu, orang dewasa memiliki kewajiban mengenalkan buku-buku berkualitas kepada anak-anak.

Larangan Berhijab yang Merenggut Identitas Aliya

Muslim India khawatir hak mereka terpinggirkan sebagai minoritas.

SELENGKAPNYA

NU dan Keadilan Agraria

Reforma agraria dilihat sebagai strategi negara dalam memperbaiki kualitas kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.

SELENGKAPNYA

Menerabas Masa Jabatan

Penundaan pemilu disebut paling populer digunakan rezim otoriter untuk terus berkuasa melampaui masa jabatan.

SELENGKAPNYA