ILUSTRASI LGBT tidak sesuai dengan prinsip maqashid as syariah. Keluarga adalah basis utama perlindungan anak dari LGBT | Reuters

Khazanah

14 Mar 2022, 12:01 WIB

ICMI: LGBT Penyakit Sosial

ICMI mendorong berbagai pihak untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan, dari bahaya LGBT.

JAKARTA — Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Arif Satria menegaskan, lesbian, gay, biseksual, dan transeksual (LGBT) merupakan penyakit sosial. Fenomena ini terjadi di lingkungan masyarakat hingga sekarang. Menurut Arif, perilaku ini dapat menghilangkan kehormatan bagi pelakunya. 

"LGBT merupakan penyakit sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat pada hari ini. Perilaku ini adalah perilaku yang tidak bermoral dan dapat menghilangkan kehormatan bagi pelakunya," ujar Arif saat menyampaikan sambutan dalam webinar yang mengangkat tema “Zina, LGBT, dan Ketahanan Keluarga” pada Jumat (11/3). 

Arif menjelaskan, tatanan dunia sedang mengalami masa transisi dari industri 4.0 menuju industri 5.0 atau lebih dikenal dengan sebutan metaverse. Pada masa transisi ini, dia menjelaskan, masih banyak permasalahan dan penyimpangan sosial yang belum selesai hingga sekarang. Contohnya, yakni perzinaan dan fenomena LGBT.

Ketua Departemen Kesehatan MPP ICMI dr Taufan Ichsan Tuarita menjelaskan fenomena tersebut sambil mengutip QS al-Araf ayat 80-81. Artinya: “(Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Apakah kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini?” Sesungguhnya kamu benar-benar mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan, bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.”

Taufan menjelaskan, dua ayat ini bercerita bahwa Allah telah mengutus Nabi Luth untuk mengingatkan umatnya yang pada saat itu banyak yang melakukan perilaku seksual secara menyimpang. “Istilah yang sering kita dengar hari ini adalah LGBT," ujar Taufan.

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr Dewi Inong Irana, perilaku seks bebas berupa LGBT dan zina menyebabkan meningkatnya infeksi menular seksual. Infeksi menular yang tak kunjung sembuh dapat membuat terjangkitnya HIV dan menyebabkan AIDS. "Hingga semester I tahun 2020, jumlah penderita terus meningkat  dan sebanyak 69 persen adalah laki-laki," ujar dr Inong. 

Dia menjelaskan, sebanyak 26 persen di antara penderita penyakit tersebut adalah homoseksual. Penyebab homoseksual ini bukan gen bawaan lahir. Menurut dia, mereka menjadi homoseksual akibat pergaulan bebas, perilaku, lingkungan, budaya, keluarga yang hancur, dan korban kejahatan seksual.

Dampak dari laki-laki yang memiliki masalah kesehatan ini, yakni pemimpin keluarga yang semakin rentan. Apalagi, ujar Dewi Inong, mereka adalah warga usia produktif sehingga jam kerja banyak hilang karena tidak sehat dan tidak masuk kerja.

Dia menjelaskan, lambat laun penderita penyakit ini akan menjadi beban negara mengingat mereka harus minum obat seumur hidup yang ditanggung negara. "Biaya obat HIV-AIDS sebesar Rp 500 ribu per orang. Pada tahun 2019 saja pemerintah mengucurkan Rp 2,5 triliun," ujar dia.

Untuk menurunkan perilaku zina dan LGBT, dia meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk membuat modul pendidikan kesehatan reproduksi nasional sesuai Pancasila dan UUD 1945 untuk berbagai tingkat pendidikan. Dia pun meminta MUI untuk lebih semangat dalam mensyiarkan fatwa haram zina dan zina LGBT. 

Ketua Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (Aila) Rita Hendrawati Soebagio menjelaskan, setidaknya terjadi 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya. Menurut dia, sebesar 30 persen aborsi dilakukan oleh remaja.

Dia menegaskan, hal tersebut menjadi wajah buruk bagi moralitas warga negara Indonesia yang menjadi negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Agar penyimpangan itu tidak terjadi, dia menjelaskan, hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan edukasi dan memberikan keharmonisan dalam keluarga.

Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikbud Zulfikri Anas menjelaskan bahwa terputusnya mata rantai pada aspek pendidikan, keluarga, lingkungan mengakibatkan banyak terjadi penyimpangan sosial. Hal tersebut  berakibat pada banyaknya pelaku-pelaku zina dan LGBT di negara Indonesia. 

';

×