IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

14 Mar 2022, 03:45 WIB

Turki Erdogani Menuju Nol Seteru

Turki Erdogani kini menuju nol krisis atau nol seteru terkait politik luar negerinya.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Dalam politik, tidak ada kawan atau lawan abadi, yang abadi adalah kepentingan. Itu yang kini dipegang Turki Erdogani yang dalam setahun terakhir ini sibuk memperbaiki hubungan dengan negara yang sedang berseteru dengannya.

Istilah Turki Erdogani merujuk Turki selama dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan sejak 2003. Perubahan arah kebijakan politik luar negeri Turki, antara lain, terlihat dari berbagai pernyataan Presiden Erdogan, menterinya, dan pertemuan dengan berbagai pihak.

Tujuannya, menormalisasi hubungan dengan negara yang tak akur dengan Turki. Bahkan, Turki menawarkan diri menjadi penengah atau fasilitator pihak bertikai. Turki tuan rumah sekaligus fasilitator pertemuan menlu Rusia dan Ukrania, Kamis (10/3).  

Pertemuan Rusia, Ukrania, dan Turki sebagai fasilitator digelar di Antalya, daerah peristirahatan di sebelah barat Turki. Pertemuan itu tak menghasilkan gencatan senjata, tetapi menunjukkan posisi Turki bagi kedua negara, bahkan dunia.

 

 
Pertemuan itu tak menghasilkan gencatan senjata, tetapi menunjukkan posisi Turki bagi kedua negara, bahkan dunia.
 
 

 

Hebatnya, Turki anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), tetapi berhubungan baik dengan Rusia juga Ukraina. Sehari sebelum pertemuan di Antalya, juga menjadi perhatian dunia saat presiden Turki bertemu Presiden Israel Isaac Herzog di Ankara.  

Israel menyebut, meski dalam sistem kenegaraan kewenangan presiden sangat terbatas, kunjungan itu bersejarah. Hubungan diplomatik Turki-Israel berlangsung lama, tetapi memburuk sejak Erdogan berkuasa pada 2003 sebagai PM kemudian presiden.

Erdogan salah satu tokoh Muslim paling keras mengecam kebijakan apartheid Israel. Turki Erdogani banyak membantu Faksi Hamas dan melindungi sejumlah tokohnya.

Puncaknya pada 2010, ketika 10 warga sipil Turki tewas dalam serangan terhadap kapal bantuan Mavi Marmara, yang berusaha mencapai Jalur Gaza dan menembus blokade Israel.

Pada 2016, kedua negara menandatangani perjanjian rekonsiliasi dan duta besar (dubes) masing-masing kembali bertugas. Namun, dua tahun kemudian, rekonsiliasi runtuh saat Turki memanggil dubesnya, memprotes kekerasan Israel untuk menekan protes Palestina.

 

 
Dalam upaya mempererat hubungan dengan Tel Aviv, Erdogan menggambarkan bangsa Turki dan Yahudi contoh terbaik hidup berdampingan selama ratusan tahun.
 
 

 

Dalam kunjungan kenegaraan dua hari di Turki, menurut sejumlah media di Timur Tengah, Presiden Herzog disambut hangat Presiden Erdogan. Kunjungan pejabat tinggi Israel setingkat kepala negara ini merupakan yang pertama sejak Erdogan berkuasa.

Dalam upaya mempererat hubungan dengan Tel Aviv, Erdogan menggambarkan bangsa Turki dan Yahudi contoh terbaik hidup berdampingan selama ratusan tahun. "Kami tidak akan membiarkan siapa pun menutupinya. Ini fakta sejarah," ujar Erdogan.

Pernyataan ini tampaknya merujuk masa Khalifah Utsmaniyah saat orang-orang Yahudi hidup aman dan tenteram. Kepada Presiden Israel, Erdogan juga menyampaikan, bila bangsa Israel ingin hidup aman, harus ada solusi dua negara, Israel dan Palestina.

Israel juga Rusia dan Ukraina, sedikit dari negara yang hubungan dengan mereka ingin diperbaiki Turki Erdogani. Dimulai dari Abu Dhabi, Riyadh, dan Kairo, melewati Washington, Yerevan (ibu kota Armenia), Brussels (markas Uni Eropa), lalu Athena, Tel Aviv.

 
Hubungan Turki-Arab Saudi memburuk setelah agen-agen Saudi membunuh jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat negaranya di Istanbul pada 2018. 
 
 

Terkait Uni Emirat Arab, misalnya, Turki menuduh mereka terlibat kudeta yang gagal menjatuhkan Presiden Erdogan pada 2016. Mesir mendakwa Turki mendukung Ikhwanul Muslimin, yang dianggap Mesir sebagai teroris.

Hubungan Turki-Arab Saudi memburuk setelah agen-agen Saudi membunuh jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat negaranya di Istanbul pada 2018. Ada tuduhan, Putra Mahkota Muhammad bin Salman terlibat pembunuhan itu.

Turki-AS juga tidak harmonis sejak 2021, semakin tegang ketika Turki menandatangani kontrak dengan Rusia untuk membeli sistem pertahanan udara S-400, bersamaan pelantikan Joe Biden menjadi presiden AS.

Suasana negatif sudah tampak saat Kongres AS menggunakan sebutan pada Turki sebagai ‘pelaku genosida terhadap bangsa Armenia’. Hubungan Turki-Uni Eropa selama ini pun tak bisa dikatakan baik.

Hubungan memburuk ketika negara Uni Eropa —Prancis, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Swedia, Denmark, dan Finlandia— menandatangani surat pernyataan bersama menuntut diakhirinya penahanan Osman Kavala.

 
Damai akan menguntungkan siapa pun. Sayangnya, banyak pemimpin dunia justru senang dengan perang. 
 
 

Kavala, seorang pengusaha, aktivis, dan filantropis yang ditahan di penjara Turki dengan berbagai tuduhan. Erdogan menilai, Uni Eropa mencampuri urusan dalam negeri Turki.

Saling lempar tuduhan memunculkan krisis diplomatik antara Turki dan banyak negara. Akibatnya, ekonomi Turki sempat oleng. Sejak beberapa bulan lalu, Turki Erdogani tampak ingin memperbaiki hubungan dengan negara ‘seterunya’.

Pengamat Timur Tengah, Nabi Amru, melihat perubahan Turki sebagai ‘politik nol krisis’ atau ‘politik nol seteru’, kata kolumnis Arab lain. Intinya, Turki Erdogani kini menuju ‘nol krisis’ atau ‘nol seteru’, terkait politik luar negerinya.

Bahkan, termasuk dengan Israel, yang dianggap musuh bebuyutan. Perkembangan di Turki harus disambut baik, apalagi di bagian dunia lain berkecamuk perang hebat Rusia dan Ukrania. Apa pun, perang merugikan semua pihak, baik yang menang apalagi yang kalah.

Damai akan menguntungkan siapa pun. Sayangnya, banyak pemimpin dunia justru senang dengan perang. 


Euforia Ekonomi Tahun 2022

Dinamika tahun 2022 juga akan diramaikan dengan aksi korporasi yang didorong dua hal.

SELENGKAPNYA

Sinergi ITB dan SBM

ITB dan SBM bisa melanjutkan sinergi, terus berinovasi bukan berseteru, menjadi katalisator inovasi pendidikan.

SELENGKAPNYA

Mengakhiri Konflik

AS, Rusia, Uni Eropa, dan negara lain mesti berkontribusi dalam memperbaiki konflik saat ini.

SELENGKAPNYA
×