Warga melintasi jembatan yang dihancurkan serangan Rusia di Irpin tak jauh dari Kiev, Ukraina, Senin (7/3/2022). | AP/Efrem Lukatsky

Internasional

10 Mar 2022, 03:45 WIB

AS Larang Impor Minyak dan Gas Rusia

Krisis pasokan LNG ke Eropa menguntungkan segelintir eksportir raksasa, termasuk asal AS.

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah resmi memutuskan melarang impor minyak dan gas dari Rusia. Dia memperingatkan, rakyat AS akan menanggung konsekuensi dari keputusan tersebut.

Dalam pengumumannya, Biden mengungkapkan, AS menargetkan arteri utama ekonomi Rusia sebagai respons atas langkah Rusia menyerang Ukraina. “Kami melarang semua impor minyak dan gas serta energi Rusia. Itu berarti minyak Rusia tidak lagi dapat diterima di pelabuhan AS dan rakyat Amerika akan memberikan pukulan kuat lainnya kepada Putin (Presiden Rusia Vladimir Putin—Red),” ujarnya, Selasa (8/3).

Biden mengatakan, keputusannya memberlakukan larangan impor terhadap minyak dan gas Rusia diambil dalam konsultasi erat dengan sekutu. “AS memproduksi jauh lebih banyak minyak di dalam negeri daripada gabungan seluruh Eropa. Kami adalah pengekspor bersih energi, jadi kami dapat mengambil langkah ini ketika yang lain tidak bisa,” ucapnya.

Kendati demikian, Biden tak menampik bahwa rakyat AS akan menanggung konsekuensi dari keputusan pelarangan impor minyak dan gas Rusia tersebut. Sebelumnya, Rusia telah mengancam akan melakukan embargo pasokan gas ke Barat. Langkah itu bakal diambil jika ada sanksi berupa larangan impor minyak dari negara tersebut.

"Sehubungan dengan tuduhan tidak berdasar terhadap Rusia mengenai krisis energi di Eropa serta pengenaan larangan Nord Stream 2, kami bisa saja memberlakukan embargo pada pemompaan gas melalui pipa gas Nord Stream 1. Namun, sejauh ini kami memilih jalan itu,” kata Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak, dikutip Sky News, Selasa.

Rusia merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dunia. Namun, ia menjadi pengekspor terbesar. Sebanyak 30 persen minyak dan 40 persen gas yang dipasok ke Uni Eropa berasal dari Rusia.

Di sisi lain, krisis pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke Eropa memberikan keuntungan bagi segelintir eksportir raksasa di bidang energi, termasuk dari AS. Sejak Rusia melancarkan serangan ke Ukraina pada 24 Februari lalu, harga LNG telah melonjak.

Perusahaan LNG yang berbasis di Houston, Texas, AS, Cheniere Energy Inc (LNG.A), termasuk diuntungkan oleh krisis pasokan gas ke Eropa. Dalam beberapa bulan terakhir, Cheniere Energy Inc dilaporkan menandatangani sejumlah kesepakatan jangka panjang untuk memasok LNG ke Benua Biru.

photo
Perempuan memberi minum bayi yang ikut mengungsi dari Ukraina di Medyka, Polandia, Senin (7/3/2021). - (AP/Markus Schreiber)

"AS dan produsen LNG-nya mendapatkan untung dari kekurangan gas di Eropa dan selanjutnya akan mendapatkan untung jika volume Rusia disetujui," kata seorang pedagang Eropa, dikutip Reuters, Rabu (9/3).

Saat ini, Eropa tengah mencanangkan upaya untuk mengurangi ketergantungan pasokan energi mereka dari Rusia. Sebanyak 45 persen pasokan gas di Benua Biru berasal dari Rusia.

McDonald's Ikut Bertindak

McDonald’s, Starbucks, Coca-Cola, Pepsi, dan General Electric menghentikan bisnis mereka di Rusia. Jenama global dan simbol perusahaan Amerika Serikat (AS) itu memutuskan untuk menghentikan sementara bisnis mereka sebagai respons atas invasi Rusia ke Ukraina.

"Berdasarkan nilai-nilai kami, kami tidak dapat mengabaikan penderitaan manusia yang seharusnya tidak terjadi di Ukraina," kata CEO McDonald Chris Kempczinski kepada karyawan, Selasa (8/3).

photo
Ratusan orang mengantre saat pembukaan perdana restoran McDonalds di Alun-Alun Pushkin, Moskow, pada 31 Januari 1990. Pembukaan gerai cepat saji itu menyusul runtuhnya Uni Soviet kala itu. - (Alexander Zemlianichenko/AP)

Perusahaan waralaba raksasa asal Chicago itu mengatakan, 850 gerainya di Rusia akan ditutup. Namun, perusahaan tetap menggaji 62 ribu pegawainya di sana. Langkah serupa diambil Starbuck, yaitu menutup sementara 130 gerainya di Rusia.

Coca-Cola Co juga mengumumkan akan menangguhkan bisnis mereka di Rusia, tapi tidak memaparkan detailnya. Pepsi Co dan General Electric mengumumkan akan menangguhkan sebagian bisnis mereka di Rusia.

Namun, Pepsi akan melanjutkan produksi susu, susu formula, dan makanan bayi. Ini sebagai upaya membantu 20 ribu pegawainya di Rusia dan 40 ribu pekerja perkebunan Rusia yang bagian dari rantai pasokan.

"Kini, lebih dari sebelumnya, kami harus mempertahankan aspek kemanusiaan pada bisnis kami," kata CEO Pepsi Co Ramon Laguarta dalam surat terbukanya kepada karyawan. ';

Perang Rusia-Ukraina: Sisi Muslim (1)

Pemerintah Indonesia seolah gagap merespons invasi Rusia ke Ukraina.

SELENGKAPNYA

Kamboja: KTT ASEAN-AS Ditunda

Pembicaraan ASEAN banyak menitikberatkan pada isu tentang Myanmar sebagai anggotanya.

SELENGKAPNYA

Moeti, Perempuan Pertama Kepalai WHO Afrika

Di Afrika, wanita telah menderita secara tidak proporsional pada masa pandemi.

SELENGKAPNYA
×