Dr. Matshidiso Moeti, perempuan pertama yang mengepalai WHO Afrika saat menghadiri pertemuan di markas WHO Afrika di Brazzaville, Kongo, Selasa (8/2/2022). | AP Photo/Moses Sawasawa

Kisah Mancanegara

Moeti, Perempuan Pertama Kepalai WHO Afrika

Di Afrika, wanita telah menderita secara tidak proporsional pada masa pandemi.

OLEH KAMRAN DIKARMA

Dr Matshidiso Moeti adalah figur terkemuka di Afrika. Sejak 2015, wanita berusia 67 tahun itu telah menjabat sebagai direktur regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Afrika. Ia memimpin Benua Hitam dalam mengatasi berbagai tantangan kesehatan, termasuk menghadapi wabah ebola dan Covid-19.

Moeti adalah wanita pertama yang memimpin kantor regional WHO di Afrika. Saat diangkat sebagai direktur regional pada 2015, ia sudah harus bergulat dengan wabah ebola di Afrika Barat. Kemudian, pada 2020, tepat pada awal masa jabatan keduanya, Moeti harus memimpin respons Afrika terhadap pandemi Covid-19.

"Saya tentu saja melakukan yang terbaik untuk berada di sana, tidak hanya sebagai teknisi dan manajer serta pemimpin, tapi juga sebagai wanita dari kawasan ini, dari benua ini. Saya merasa sangat istimewa," kata Moeti saat diwawancarai Associated Press, Rabu (9/3).

Afrika merupakan benua yang paling tertinggal dalam hal pengujian dan vaksinasi Covid-19. Moeti adalah salah satu tokoh yang vokal mendesak dunia untuk memberi pertimbangan lebih baik kepada rakyat Afrika. Dia secara khusus memberikan perhatian kepada kelompok wanita. Sebab, Moeti menilai mereka adalah kelompok yang paling terpukul oleh pandemi.

photo
Dr. Matshidiso Moeti, perempuan pertama yang mengepalai WHO Afrika saat menghadiri pertemuan di markas WHO Afrika di Brazzaville, Kongo, Selasa (8/2/2022). - (AP Photo/Moses Sawasawa)

Di Afrika, wanita telah menderita secara tidak proporsional. Tingkat vaksinasi di kalangan mereka lebih rendah. Banyak wanita kehilangan pekerjaan akibat penerapan karantina wilayah atau lockdown. Angka kehamilan melonjak dibarengi dengan peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga berbasis gender.

"Sering kali saya berpikir tentang orang-orang yang paling sering dirugikan dan dilewatkan oleh layanan kesehatan. Jenis remaja perempuan, orang yang sedang bertransisi dari anak-anak yang diasuh oleh layanan kesehatan anak menjadi seorang wanita usia subur dengan segala kerentanan yang tersirat di Afrika," kata Moeti.

Menurut Moeti, jalan keluar dari pandemi adalah dengan menjangkau para wanita tersebut dengan kampanye kesadaran dan bantuan ekonomi. Hal itu mendorong Moeti untuk terjun langsung ke lapangan setiap bulan. Dia sering bergabung dengan para pejabat pemerintah dan jurnalis.

Moeti memiliki pengalaman hampir 40 tahun di bidang kesehatan masyarakat. Namun, pandemi Covid-19 telah memberinya tantangan baru.

photo
Dr. Matshidiso Moeti, perempuan pertama yang mengepalai WHO Afrika saat menghadiri pertemuan di markas WHO Afrika di Brazzaville, Kongo, Selasa (8/2/2022). - (AP Photo/Moses Sawasawa)

"Kesulitannya benar-benar tentang mempelajari virus baru ini, beradaptasi dengan cepat, dan membantu negara-negara melakukan hal yang sama," ujarnya.

Menurut dia, Afrika menghadapi tantangan unik. Pada awal pandemi, hanya segelintir negara di benua itu yang dapat melakukan pengujian massal Covid-19. Namun, sekarang hampir setiap negara dapat melaksanakannya.

Di dalam WHO, Moeti berupaya meningkatkan kesetaraan gender. Selama masa jabatannya, Moeti mengaku bangga telah mengubah rasio pria dan wanita. Sekarang dia diapit empat direktur pria dan empat direktur wanita.

"Saya menantikan hari ketika tidak lagi menjadi perhatian saat ada seorang wanita memimpin sebuah organisasi, ketika itu akan menjadi bagian dari norma," ucap Moeti.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Perang Rusia-Ukraina: Sisi Muslim (1)

Pemerintah Indonesia seolah gagap merespons invasi Rusia ke Ukraina.

SELENGKAPNYA

AS Larang Impor Minyak dan Gas Rusia

Krisis pasokan LNG ke Eropa menguntungkan segelintir eksportir raksasa, termasuk asal AS.

SELENGKAPNYA