Pedagang menata cabai merah di Pasar Raya Padang, Sumatra Barat, Senin (7/3/2022). Harga cabai merah di pasar tersebut naik dari Rp 40.000 per kilogram menjadi Rp 56.000 per kilogram akibat berkurangnya pasokan sejak sepekan terakhir. | ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi/WS/rwa.

Kabar Utama

08 Mar 2022, 03:50 WIB

Produksi dan Distribusi Bahan Pokok Terganggu Cuaca

Kenaikan harga bahan pokok dipicu faktor cuaca yang menyebabkan turunnya produksi dan gangguan distribusi.

BANDAR LAMPUNG – Harga sejumlah bahan pokok, seperti cabai dan bawang, terus bergerak naik di berbagai daerah. Kenaikan harga dipicu faktor cuaca yang menyebabkan turunnya produksi dan gangguan distribusi. 

Di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, kenaikan harga terjadi pada cabai merah dan rawit, bawang, serta telur dan daging sapi. Kenaikan harga komoditas dapur tersebut sudah terjadi sejak pertengahan Januari.

Berdasarkan pantauan di pasar Pasir Gintung, Bandar Lampung, harga cabai rawit saat ini telah berada di kisaran Rp 45 ribu per kg dari biasanya Rp 35 ribu per kg. Sedangkan harga daging sapi bergerak naik dari sebelumnya Rp 130 ribu per kg menjadi Rp 132 ribu per kg. 

Seorang pedagang cabai dan bawang di Pasar Pasir Gintung, Darmin mengatakan, kenaikan harga kebutuhan dapur juga disebabkan masalah transportasi pengiriman barang dari Jawa ke Sumatra. Cabai dan bawang dikirim dari Jawa karena stok bawang dan cabai lokal sedikit.

photo
Pedagang sayur mengambil cabai rawit saat melayani pembeli di Pasar Induk Rau, Serang, Banten, Senin (7/3/2022). Harga sejumlah komoditas sayur melonjak tajam sejak sepekan terakhir akibat pasokan berkurang seperti harga cabai rawit naik dari Rp 60 ribu menjadi Rp 80 ribu perkilogram. - (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/hp.)

“Sekarang banyak masalah di jalan. Banyak jalan ditutup akibat kondisi pandemi. Selain itu, penyeberangan Merak–Bakauheni terganggu cuaca, sehinga pengiriman menjadi lama," kata Darmin, Senin (7/3). 

Selaku pengecer bawang dan cabai, ia terpaksa menyesuaikan dengan harga yang dijual agen atau distributor. “Kalau mereka naik, kami juga terpaksa menaikkan karena modal juga naik,” ujarnya.

Usman, seorang agen cabai dan bawang di Pasar Pasir Gintung, juga menyebut kenaikan harga disebabkan masalah transportasi. Menurut Usman, pasokan bawang dan cabai masih tersedia, tapi biaya perjalanan membengkak karena masalah penyeberangan dan juga jalan-jalan yang tutup. “Karena itu, ongkos di jalan jadi membengkak,” katanya.

Di Surabaya, Jawa Timur, harga cabai rawit di sejumlah pasar juga mengalami kenaikan. Pada awal Januari 2022, harga komoditas ini berada di kisaran Rp 55 ribu per kilogram. Saat ini, harganya berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per kg. 

Di Pasar Genteng, contohnya, harga cabai rawit mencapai Rp 65 ribu per kg dan di Pasar Wonokromo Rp 60 ribu per kg. Berdasarkan Sistem Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Pemprov Jawa Timur, harga rata-rata cabai rawit Rp 58.914 per kilogram. Harga tertinggi di Kota Kediri, yakni Rp 69.333 per kg. Adapun harga terendah terpantau di Kabupaten Lumajang, yaitu Rp 40.333 per kg. 

"Kenaikan harga disebabkan curah hujan tinggi, sehingga bunga rontok juga kualitas rendah yang mengakibatkan produktivitas menurun," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo, Senin (7/3).

Menurut Hadi, ketersediaan cabai rawit mulai Desember 2021 hingga Februari 2022 berdasarkan prognosa sebenarnya selalu surplus. Pada Desember 2021, jumlah produksi mencapai 50.899 ton dengan konsumsi hanya 5.531 ton. Artinya, ada surplus mencapai 45.368 ton.

Selanjutnya, produksi Februari 2022 diperkirakan mencapai 11.707 ton dengan jumlah konsumsi 5.693 ton atau surplus 6.014 ton.

photo
Pedagang menjual ayam potong di Pasar Keputran Selatan, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (4/3/2022). Kenaikan harga daging ayam dari harga Rp 28 ribu menjadi Rp 32 ribu per kilogram disebabkan permintaan konsumen yang tinggi dan terbatasnya stok ayam pada peternak. - (ANTARA FOTO/Rizal Hanafi)

Pada akhir Maret, lanjut Hadi, diperkirakan panen raya cabai rawit di Kabupaten Kediri, Blitar, Tuban, Lamongan, dan Banyuwangi seluas kurang lebih 12 ribu hektare. Hasil panen diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan saat Ramadhan.

"Di Kabupaten Malang, pada akhir April diperkirakan panen cabai rawit seluas 1.600 hektare untuk membantu memenuhi kebutuhan saat Hari Raya Idul Fitri," ujarnya.

Memberatkan 

Konsumen dan pedagang mengeluhkan kenaikan harga berbagai komoditas pangan. Apalagi, masyarakat saat ini juga masih dihadapkan dengan permasalahan pasokan minyak goreng. 

photo
Warga antre membeli minyak goreng murah saat operasi pasar minyak goreng di kompleks kantor kecamatan Bansari, Temanggung, Jateng, Senin (7/3/2022). Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan setempat sejak sepekan terakhir telah menjual sedikitnya 15 ribu liter minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu per liter guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan menstabikan harga minyak goreng di pasaran. - (ANTARA FOTO/Anis Efizudin/rwa.)

Di Pasar Pagi Kota Cirebon, Jawa Barat, kenaikan harga di antaranya terjadi pada ayam potong dari Rp 28 ribu per kilogram menjadi Rp 30 ribu hingga Rp 32 ribu per kg. ''Naiknya sudah dari pemasoknya,'' kata seorang pedagang ayam potong, Sutrisno, Senin (7/3).

Selain ayam potong, harga telur ayam juga naik. Pada Ahad (6/3), telur ayam masih dihargai Rp 23 ribu per kg. Namun pada Senin, harganya naik menjadi Rp 24.500 per kg. 

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas cabai. Untuk cabai rawit merah, harganya kini sudah mencapai Rp 70 ribu per kg. Padahal sebelumnya, harga komoditas tersebut hanya di kisaran Rp 40 ribu per kg.

Pedagang sayuran di pasar tersebut, Ilah, mengatakan kenaikan harga itu membuat modal yang harus dikeluarkannya menjadi bertambah besar. "Sedangkan penjualan kepada konsumen menurun karena mereka mengurangi pembeliannya," katanya. 

Ibu rumah tangga asal Majasem, Kota Cirebon, Hidayah mengungkapkan, kenaikan harga bahan pangan memberatkan masyarakat. Dia berharap pemerintah bisa menjaga agar kenaikan harga bahan pangan tidak terlalu tinggi.

''Naiknya harga barang-barang di pasar membuat pengeluaran jadi bertambah besar,'' keluh Hidayah. 

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Tommy Nugraha sebelumnya menjelaskan, produksi cabai pada bulan ini berdasarkan early warning system (EWS) Kementan mencapai 104.115 ton dan surplus.

Adapun pada April 2022, produksi diperkirakan mencapai 112.490 ton dan defisit sekitar 2.248 ton. Namun, posisi surplus diharapkan terjadi pada Mei dengan perkiraan produksi 120.354 ton.

"Sekarang kan banyak hujan dan banjir sehingga memang ada kekurangan pasokan, tetapi setelah dideteksi ada lokasi siap panen menjelang Lebaran," kata dia. 

Impor sapi 

Pemerintah membuka peluang untuk melakukan impor sapi bakalan selain dari Australia, yang saat ini menjadi pemasok tunggal bagi Indonesia. Diversifikasi negara pemasok ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap Australia yang menerapkan pembatasan ekspor.

photo
Los daging tampak kosong akibat aksi mogok pedagang di Pasar Palmerah, Jakarta, Senen (28/2/2022). Para pedagang daging sapi di pasar tersebut melakukan aksi mogok jualan sebagai bentuk protes atas tingginya harga daging sapi yang mencapai sekitar Rp 140 ribu per kilogram sehingga mereka kesulitan menjualnya. - (Prayogi/Republika)

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Makmun, menjelaskan, sejak 2016, pemerintah sejatinya telah memilih Meksiko sebagai negara pemasok sapi bakalan selain Australia. Namun, harga sapi masih cukup tinggi ketika tiba di Indonesia, sehingga pemasukan sapi bakalan Meksiko belum bisa bersaing di Indonesia.

"Saat ini, yang sedang berproses kajiannya (negara pemasok) adalah Amerika Serikat, Spanyol, Chile, dan beberapa negara lainnya," kata Makmun kepada Republika, Senin (7/3).

Fungsional Medik Veteriner Ahli Utama Direktorat Kesehatan Hewan Kementan Fadjar Sumping menjelaskan, Amerika Serikat dan Spanyol sudah memenuhi syarat karena terbebas dari penyakit mulut dan kuku sehingga terjamin keamanannya. "Tinggal pelaku usahanya (importir sapi) apakah bisa mendapatkan penyuplai sapi bakalan di sana," kata Fadjar.

Ia menuturkan, pemerintah sudah pernah melakukan pertemuan dengan asosiasi peternak di Negara Bagian Virginia, AS. Mereka, menurut Fadjar, berminat untuk ekspor, tetapi meminta adanya keberlanjutan kerja sama karena harus berinvestasi untuk fasilitas ekspor sapi bakalan ke Indonesia.

photo
Los daging tampak kosong akibat aksi mogok pedagang di Pasar Palmerah, Jakarta, Senen (28/2/2022). Para pedagang daging sapi di pasar tersebut melakukan aksi mogok jualan sebagai bentuk protes atas tingginya harga daging sapi yang mencapai sekitar Rp 140 ribu per kilogram sehingga mereka kesulitan menjualnya. - (Prayogi/Republika)

"Mereka meminta jaminan impor Indonesia yang berkelanjutan karena khawatir ketika (populasi sapi) Australia sudah memungkinkan lagi, mereka akan ditinggal," ujar Fajdar.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nisrina Nafisah menilai, pemerintah perlu mengevaluasi regulasi impor daging sapi supaya dapat merespons kebutuhan pasar dengan cepat. Harga daging sapi mengalami kenaikan tajam sejak awal tahun, dan ini perlu segera diatasi sebelum memasuki Ramadan dan Idul Fitri. 

“Regulasi perlu direvisi untuk menyederhanakan proses dalam mendapatkan izin impor. Proses tersebut seharusnya cukup hanya fokus pada pemeriksaan kualitas dan identifikasi impor secara cepat dan wajar,” kata Nisrina, Senin (7/3).

Menurut dia, salah satu regulasi yang perlu dievaluasi adalah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 59 Tahun 2016 Pasal 10 ayat 1 dan Pasal 11. Permendag tersebut mewajibkan importir untuk memiliki izin impor sebelum mengimpor daging sapi dan hewan ternak di Indonesia.

Izin tersebut baru keluar setelah importir melengkapi lima dokumen, yaitu Surat Izin Usaha Perdagangan, Sertifikasi Registrasi Kepabeanan, Angka Pengenal Impor, Rekomendasi dari Menteri Pertanian, dan Persetujuan Impor dari Menteri Perdagangan. Waktu yang dibutuhkan, mulai dari pengajuan hingga keluarnya izin impor relatif lama, yaitu satu hingga tiga bulan. "Hal ini membuat para importir sering kali kehilangan momen yang tepat untuk mengimpor daging dengan harga murah," katanya. 

Harga daging sapi nasional berfluktuasi dan cenderung tinggi sepanjang Januari-Februari 2022. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan, harga rata-rata bulanan daging sapi nasional pada Januari 2022 mencapai Rp 124.500 per kilogram.

Harga meningkat pada Februari dengan rata-rata nasional mencapai Rp 125 ribu per kg dan rata-rata harga tertinggi di pasar modern sebesar Rp 160.650 per kilogram.  ';

×