Pembatik perempuan mengerjakan pesanan batik tulis di Batik Darmo, Yogyakarta, Selasa (7/12/2021). | Wihdan Hidayat / Republika

Opini

08 Mar 2022, 03:45 WIB

Perempuan: Masa Depan Berkelanjutan

Setara memang tak harus sama. Kesetaraan gender hari ini untuk masa depan berkelanjutan.

ISTI LARASATI WIDIASTUTI, Statistisi Ahli Madya di Badan Pusat Statistik

Kebijakan “satu harga” minyak goreng menyisakan berbagai persoalan. Tak hanya mahal, minyak goreng selama beberapa bulan juga menghilang dari pasaran. Antrean panjang dan rebutan minyak goreng terjadi di sejumlah pasar swalayan.

Kelangkaan dan lonjakan harga tak kunjung teratasi, mulai memicu keresahan sosial. Sungguh ironis kasus minyak goreng ini jika dikaitkan posisi Indonesia sebagai produsen dan pengekspor CPO terbesar di dunia. Namun, kita tak berdaulat di negeri sendiri.

Perempuan, sebagian besar terdampak kelangkaan bahan pokok ini. Tak hanya minyak goreng, komoditas lain “sering” mengalami kasus serupa.  Bagaimana tidak, perempuan yang banyak menghabiskan kesehariannya mengurus rumah tangga, lekat dengan situasi ini.

 
Perempuan, sebagian besar terdampak kelangkaan bahan pokok ini. Tak hanya minyak goreng, komoditas lain “sering” mengalami kasus serupa. 
 
 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, dari 103,4 juta perempuan usia 15 tahun ke atas pada Agustus 2021 sebanyak 35,52 persennya berkegiatan mengurus rumah tangga. Walau beberapa dekade terakhir, peran perempuan di ranah publik meningkat.

Data Survei Angkatan Kerja Nasional BPS menyebutkan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan rata-rata tumbuh 1,48 persen per tahun pada periode Agustus 2015-Agustus 2021. Berbeda dengan kondisi TPAK laki-laki, turun 0,09 persen pada periode sama.

Walaupun dari sisi jumlah, laki-laki usia 15 tahun ke atas yang aktif secara ekonomi masih 1,54 kali lebih banyak daripada perempuan.

Perempuan yang aktif secara ekonomi memang meningkat, tetapi masih ada persoalan terkait upah. Data menunjukkan, perempuan merupakan pendukung utama perkembangan ekonomi dari pekerjaan tanpa upah, yaitu sebagai pekerja keluarga.

 
Perempuan yang aktif secara ekonomi memang meningkat, tetapi masih ada persoalan terkait upah. 
 
 

Kondisi Agustus 2021, sebanyak 24,36 persen perempuan bekerja berstatus pekerja keluarga (pekerja tak dibayar). Ini berdampak pada besarnya kontribusi perempuan dalam pendapatan rumah tangga.

Pada 2020, sumbangan pendapatan perempuan terhadap pendapatan rumah tangga 37,26 persen. Masih jauh dibandingkan sumbangan pendapatan laki-laki, tetapi perkembangannya cukup menggembirakan.

Peran perempuan di ranah politik pun meningkat. Keterlibatan perempuan di parlemen pada 2020 mencapai 21 persen. Artinya, perempuan memiliki peningkatan akses dan ruang untuk bersuara dan menjadi bagian penentu kebijakan politik.

Demikian halnya pengambilan keputusan pada pekerjaan. Hampir separuh perempuan bekerja sebagai tenaga profesional pada 2020 (48,76 persen). Namun, sering budaya patriarki membuat peran perempuan kerap tidak terlihat pada sistem ekonomi.

Di tengah capaian Indeks Pemberdayaan Gender 91,27 pada 2020, ternyata banyak tantangan perempuan guna mencapai masa depan setara. Di antaranya, kemiskinan, kekerasan, kesempatan kerja dan upah setara, peningkatan pengetahuan, dan keterampilan.

 
Di tengah capaian Indeks Pemberdayaan Gender 91,27 pada 2020, ternyata banyak tantangan perempuan guna mencapai masa depan setara.
 
 

Mengutip data hasil riset bertajuk Global Gender Gap Report 2021 dari World Economic Forum (WEF), pada 2021 Indonesia menempati peringkat 101 dari 156 negara. Angka ketimpangan gender Indonesia 0,688. Ini merefleksikan partisipasi perempuan perlu ditingkatkan.

McKinsey Global Institute memperkirakan, produk domestik bruto (PDB) nasional bisa naik 135 miliar dollar AS pada 2024 jika tiga kondisi terpenuhi. Pertama, bila partisipasi perempuan dalam angkatan kerja meningkat.

Kedua, bila lebih banyak perempuan bekerja penuh waktu. Ketiga, bila lebih banyak perempuan bekerja di sektor dengan produktivitas tinggi. Mencapai kondisi itu tak mudah, di tengah segala keterbatasan yang masih melingkupi perempuan.

Masih ada 16,09 persen perempuan usia 15 tahun ke atas pada 2021 tak punya ijazah (BPS). Masih ada penduduk perempuan buta huruf (5,35 persen) pada tahun yang sama.

Sebanyak 63,36 persen perempuan usia 15 tahun ke atas hanya memiliki ijazah SMP ke bawah (termasuk tidak memiliki ijazah). Pendidikan bisa menjadi pintu masuk utama dalam mengakselerasi partisipasi perempuan.

 
Afirmasi diperkuat agar perempuan khususnya di perdesaan, punya kesempatan lebih besar. 
 
 

Kesadaran atas kesetaraan gender semakin dalam dan luas. Indonesia memiliki potensi penduduk perempuan yang besar. Data proyeksi penduduk perempuan pada 2021 (BPS) menunjukkan 68,57 persen perempuan Indonesia penduduk usia produktif.

Untuk masa depan perempuan Indonesia, berbagai peluang perlu dioptimalkan. Perkuat pula akses, baik fasilitas maupun ruang bagi perempuan, khususnya di perdesaan.

Tak kalah penting, sosialisasi membangkitkan kesadaran semua pihak atas pentingnya perempuan aktif dalam pendidikan, di samping berbagai bantuan sosial pendidikan, khususnya bagi kelompok perempuan miskin ataupun rentan.

Afirmasi diperkuat agar perempuan khususnya di perdesaan, punya kesempatan lebih besar. Kita sadari, kesetaraan gender masih perlu terus diperjuangkan. Setara memang tak harus sama. Kesetaraan gender hari ini untuk masa depan berkelanjutan.


Bola Tanggung BTN Syariah

Wakafkan bank induknya, Bank BTN menjadi tower bank syariah BUMN yang kedua di Indonesia.

SELENGKAPNYA
×