Sejumlah anggota Komisi VII DPR berada di atas bendungan saat kunjungan kerja ke PLTA Sulewana di Poso, Sulawesi Tengah, Jumat (1/10/2021). Kunjungan kerja Komisi VII DPR ke PLTA yang dikelola PT Poso Energy itu untuk mendapatkan masukan terkait penyusuna | ANTARAFOTO/Basri Marzuki

Ekonomi

28 Feb 2022, 08:57 WIB

Terima Kasih telah Memberikan Cahaya ke Desa Kami

Sebanyak 388 unit lampu tenaga surya dipasang di pedalaman Yahukimo.

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM meresmikan pemasangan 388 unit lampu tenaga surya hemat energi (LTSHE) di pedalaman Kabupaten Yahukimo dan Lanny Jaya, Papua.

"Salah satu wilayah yang menjadi lokasi pemasangan LTSHE pada 2021 adalah Kabupaten Lanny Jaya dan Yahukimo, dengan total 388 unit. LTSHE ini sebagai program praelektrifikasi sebelum nantinya jaringan PT PLN masuk. Ke depannya, juga bisa dibangun PLTS terpusat ataupun melalui pemanfaatan sumber EBT lainnya," ujar Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur EBTKE Kementerian ESDM Hendra Iswahyudi pada acara Peresmian Pemasangan LTSHE di Kabupaten Yahukimo dan Lanny Jaya di Wamena, Papua, pekan lalu.

Pemerintah terus menyediakan akses listrik bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya masyarakat di wilayah terluar dan sulit dijangkau oleh akses jaringan listrik PLN.

Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM melakukan koordinasi dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi terbarukan setempat untuk penyediaan listrik yang salah satu solusinya dengan LTSHE di wilayah-wilayah terluar.

Pemerintah berupaya agar pemanfaatan APBN dapat dirasakan langsung oleh rakyat. Untuk wilayah terluar dan terdepan, menurut dia, fokus pemerintah adalah menyediakan akses energi dengan memanfaatkan potensi sumber energi setempat.

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR Ina Elisabeth Kobak mengatakan bantuan penerangan LTSHE ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Lanny Jaya dan Yahukimo. Dengan akses terhadap listrik, lanjutnya, telah memberi warga harapan untuk kesejahteraan hidup yang lebih baik. "Saya senang karena hari ini 388 kepala keluarga di dua Kabupaten, Lanny Jaya dan Yahukimo sudah bisa merasakan terangnya lampu. Saya terharu dapat melihat orang-orang tua saya, kakak saya, adik saya yang ada di kampung bisa merasakan terangnya lampu dan sudah bisa beraktivitas pada malam hari," ujar Ina.

Apresiasi senada disampaikan Bupati Lanny Jaya Befa Yigibalom, yang pada peresmian diwakili Kepala Bagian ESDM Michael Alom. "Terima kasih kepada Bapak Presiden dan Kementerian ESDM khususnya Ditjen EBTKE atas pemasangan LTSHE ini. Ini program yang luar biasa berdampak langsung bagi masyarakat di desa kami. Terima kasih telah memberikan cahaya bagi anak-anak di desa kami, sehingga dapat belajar di malam hari," ujarnya.

Pemasangan LTSHE ini adalah bagian program pemasangan 1.095 unit LTSHE pada 2021, yang tersebar di empat provinsi dan delapan kabupaten dan dilaksanakan sesuai aspirasi Anggota Komisi VII DPR.

Program praelektrifikasi melalui LTSHE telah dilaksanakan Kementerian ESDM sejak 2017 dengan total pemasangan sebanyak 363.220 unit di 4.061 desa seluruh Indonesia.

Lampu LTSHE yang dibagikan memiliki beberapa keunggulan, yakni mudah dipasang (plug and play), lampu menggunakan LED sehingga lebih terang, bisa digunakan sebagai senter, pengaturan cahaya lampu LED secara otomatis, daya tahan lama, dan bisa digunakan sebagai pengisi daya telepon seluler.Satu set LTSHE terdiri atas satu modul surya 20 Wp, empat lampu LED <= 3 W beserta baterai litium, empat kabel lampu LED masing-masing sepanjang tujuh meter, satu kabel modul surya sepanjang 5 meter, satu hub, satu USB untuk pengisi daya telepon, dan satu tiang penyangga aluminium setinggi satu meter.

PLTA Poso dan Malea

Presiden Joko Widodo meresmikan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso dengan kapasitas total 515 megawatt (MW) dan PLTA Malea 90 MW di Poso, Sulawesi Tengah, Jumat (25/2).

Saat menyampaikan sambutan, Presiden Jokowi mengapresiasi pembangunan PLTA di sejumlah daerah di Tanah Air guna mendukung transformasi energi baru terbarukan (EBT). Presiden menyebut, Indonesia memiliki potensi besar di energi hijau baik dari hidro, geotermal, tenaga surya, angin, hingga panas permukaan air laut. 

Presiden menyambut baik mulai beroperasinya dua pembangkit yang menggunakan EBT ini. Ia menilai, dua PLTA ini bisa menjadi bukti kepada dunia bahwa Indonesia aktif dalam melakukan transisi energi.

Presiden mengatakan, potensi pengembangan EBT di Indonesia sangat besar, misalnya potensi hydropower dan geotermal yang bisa mencapai 418 GW. "Selain itu ada solar, angin, sampai ke arus laut. Semua ada di negara kita hanya bagaimana bisa menggeser dari batu bara ke energi hijau ini bukan pekerjaan yang mudah karena banyak sekali pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) kita," kata Presiden.

Dengan total kapasitas 515 MW, PLTA Poso yang berada di Poso, Sulawesi Tengah, merupakan pembangkit EBT terbesar di Indonesia Timur yang dibangun dan dioperasikan oleh PT Poso Energy, anak usaha Kalla Group. 

Sementara PLTA Malea berkapasitas 90 MW yang berada di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dikembangkan oleh PT Malea Energy, anak usaha PT Bukaka Teknik Utama. Dengan beroperasinya kedua PLTA tersebut, bauran EBT di sistem kelistrikan Sulawesi meningkat menjadi 38,38 persen.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, pengoperasian kedua pembangkit EBT ini menjadi bukti kolaborasi strategis antara PLN dengan produsen listrik swasta (IPP) dalam mempercepat transisi energi di Tanah Air.

"Dalam mengakselerasi pembangunan EBT, PLN tak bisa sendiri. Perlu adanya kolaborasi dan sinergi baik bersama BUMN maupun swasta. Kedua proyek ini menjadi bukti nyata dari kolaborasi apik pengembangan EBT dalam skala besar," kata Darmawan.

Rencananya, PLTA yang memanfaatkan arus sungai Poso ini akan dimaksimalkan sebagai pembangkit peaker yang akan dioperasikan selama waktu beban puncak, yaitu pukul 17.00- 22.00 WITA dengan Exclusive Commited Energy sebesar 1.669 gigawatt hour (GWh) per tahun. 

Pembangkit ramah lingkungan ini telah terinterkoneksi dengan saluran transmisi 275 kilovolt (kV) ke Provinsi Sulawesi Selatan. Tak hanya itu, PLTA Poso juga telah tersambung dengan saluran transmisi 150 kV dari pembangkit ke Palu, Sulawesi Tengah.

"Pengoperasian PLTA Poso sangat penting karena banyaknya industri smelter yang masuk ke Sulawesi, khususnya di Sulawesi Tengah. Smelter ini butuh pasokan listrik yang andal,” kata Darmawan.

PLTA Malea yang memanfaatkan arus Sungai Saddang akan menambah keandalan sistem kelistrikan Sulawesi Selatan. Masuknya PLTA Malea bersama dengan PLTA Poso akan membuat cadangan daya sistem Sulawesi Bagian Selatan sebesar 591,5 MW, dengan beban puncak sistem kelistrikan sebesar 1.517,6 MW dan daya mampu sebesar 2.109,1 MW.

"PLTA Poso dan PLTA Malea jadi bukti kontribusi aktif PLN dalam mencapai target bauran energi nasional dan target NDC dunia," kata Darmawan.

Dewan Penasihat Kalla Grup, Jusuf Kalla (JK), menilai, kerja sama antara Kalla Grup dan PLN dalam menciptakan energi bersih sangat diperlukan. Saat ini potensi EBT besar di Indonesia, salah satunya PLTA Poso yang memanfaatkan aliran sungai Poso. "Dan masih banyak lagi terkait potensi yang bisa kita kembangkan bersama," ujar JK.

JK mengatakan, Poso memiliki potensi dalam pengembangan PLTA dengan penggunaan aliran air langsung dari sungai (run of river). Dan model aliran sungai seperti ini, JK mengatakan, banyak di Sulawesi. “Kalau di luar Jawa, sungainya harus dibendung dulu,” kata JK. 

Potensi sungai-sungai di Poso, kata dia, sangat besar. Seperti Sungai Poso yang airnya itu terbuang saja ke laut. “Karena itu kita memutuskan membikin listrik di sini mempergunakan sistem run of river,” ujar Kalla.  ';

×