Tetyana Tomenko, penduduk lokal, menangis di depan rumahnya yang hancur dibombardir di Novognativka, Ukraine, Ahad (20/2/2022). Separatis pro-Rusia disebut dibalik pengeboman tersebut. | AP Photo/Evgeniy Maloletka

Kabar Utama

22 Feb 2022, 03:45 WIB

Jokowi: Akhiri Ketegangan di Ukraina

Barat menyiapkan sanksi pada perusahaan dan individu Rusia bila menggelar invasi ke Ukraina.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka suara mengenai ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Presiden mendorong semua pihak yang terlibat untuk menahan diri dan berkontribusi pada perdamaian.

Pernyataan Presiden Jokowi ini kedua kalinya dalam sepekan yang berkomentar mengenai kemungkinan perang di Ukraina. “Rivalitas dan ketegangan di Ukraina harus dihentikan sesegera mungkin. Semua pihak harus menahan diri dan kita semua harus berkontribusi pada perdamaian. Perang tidak boleh terjadi,” kata Jokowi melalui akun Twitter-nya, pada Senin (21/2).

Jokowi menekankan, dunia saat ini harus bersinergi dan berkolaborasi menghadapi pandemi Covid-19 serta bersama-sama memulihkan perekonomian. Hal itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kelangkaan pangan dan mencegah kelaparan.

“Saatnya dunia bersinergi dan berkolaborasi menghadapi pandemi. Saatnya kita memulihkan ekonomi dunia, mengantisipasi kelangkaan pangan, dan mencegah kelaparan,” ujar dia.

Sebelumnya, dalam sambutannya pada the 1st Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting, Kamis (17/2), Presiden Jokowi juga menekankan agar tak terjadi rivalitas antarnegara yang dapat mengganggu pemulihan ekonomi dunia akibat pandemi Covid-19. Ia tak ingin terjadi ketegangan baru yang bahkan bisa membahayakan keselamatan dunia, seperti yang terjadi di Ukraina.

“Bukan saatnya membuat ketegangan baru yang mengganggu pemulihan dunia, apalagi yang membahayakan keselamatan dunia, sebagaimana yang terjadi di Ukraina saat ini. Saat ini, semua pihak harus menghentikan rivalitas dan ketegangan,” ujar Jokowi.

Jokowi mengingatkan, semua negara harus memfokuskan perhatian untuk bersinergi serta berkolaborasi menyelamatkan dan membangkitkan dunia. Hal itu agar semua negara bisa bangkit dan pulih dari pandemi. 

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi sebelumnya telah melakukan panggilan telepon dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov dan Menlu Ukraina Dmytro Kuleba pada pertengahan pekan lalu. Menlu Retno membicarakan berbagai isu, termasuk perdamaian kedua negara di tengah ketegangan yang sedang berlangsung.

photo
Seorang perempuan dan cucunya menunggu dievakuasi ke Rusia dari Donetsk, wilayah yang dikuasai separatis pro-Rusia, Sabtu (19/2/2022). Evakuasi yang dilakukan kelompok separatis itu dinilai menandakan akan segera terjadinya invasi Rusia ke Ukraina. - (AP/Alexei Alexandrov)

Retno menyampaikan pesan perdamaian kepada kedua menlu. Retno berpesan agar Rusia dan Ukraina dapat menahan diri dari situasi yang tengah berkembang dan memberikan kesempatan bagi dialog dan diplomasi untuk bekerja dalam situasi sulit ini.

"Semua negara bertanggung jawab untuk menyampaikan pesan perdamaian. Sebab, konflik tidak ada manfaatnya dan energi dunia saat ini harus diarahkan untuk mengatasi pandemi dan pemulihan ekonomi dunia," kata Retno.

Retno juga menyampaikan bahwa rakyat dunia tidak menginginkan konflik, apalagi perang. Jika perang terjadi, kata dia, itu akan berpengaruh pada upaya global untuk mengatasi pandemi dan pemulihan ekonomi.

Dalam sebulan terakhir, negara-negara Barat, termasuk Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO), melaporkan tentang kemungkinan serangan Rusia ke Ukraina. Agresi Rusia disebut dapat terjadi kapan saja, bahkan segera.

Rusia telah berulang kali membantah tuduhan tersebut. Kepemimpinan Vladimir Putin mengaku tidak memiliki rencana itu terhadap Ukraina. Adapun mengenai pengerahan lebih dari 100 ribu tentara ke perbatasan Ukraina, Moskow menyebut itu hanya untuk keperluan latihan.

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina sudah berlangsung sejak 2014 ketika Moskow mencaplok Krimea. Pertempuran antara milisi pro-Rusia dan pasukan Ukraina berlangsung di Donbass. Konfrontasi bersenjata telah menyebabkan lebih dari 13 ribu korban jiwa. Hingga kini, Donbass masih menjadi titik panas.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden dilaporkan siap bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas krisis Ukraina. Jika terlaksana, pertemuan mereka dipandang sebagai upaya terakhir diplomasi agar Rusia dan Ukraina tak jatuh ke dalam peperangan.

Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki mengungkapkan, pertemuan puncak antara Biden dan Putin bisa terlaksana setelah Menlu AS Antony Blinken bertemu dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov. Pertemuan keduanya diagendakan berlangsung akhir pekan ini.

“Seperti yang telah berulang kali dijelaskan Presiden (Biden), kami berkomitmen untuk melakukan diplomasi sampai saat invasi dimulai. Presiden Biden pada prinsipnya menerima pertemuan dengan Presiden Putin setelah keterlibatan itu, sekali lagi, jika invasi tidak terjadi. Kami selalu siap untuk diplomasi,” kata Psaki, Ahad (20/2), dikutip dari laman CNBC.

Kabar mengenai kesediaan Biden bertemu Putin muncul setelah Gedung Putih memperingatkan bahwa serangan Rusia ke Ukraina bisa terjadi kapan saja. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga telah mengusulkan pertemuan antara dirinya dan Putin.

“Saya tidak tahu apa yang diinginkan Presiden Rusia. Untuk alasan ini, saya mengusulkan agar kita bertemu,” kata Zelensky saat menghadiri forum keamanan internasional di Muenchen, Jerman, Sabtu (19/2).

Sebelumnya, Putin membuka kemungkinan untuk bertemu Zelensky. “Mengenai pertemuan dengan Zelensky, tidak ada yang menolak ide ini secara apriori,” kata Dmitry Peskov, sekretaris Pers untuk Presiden Rusia, pada 8 Februari lalu, dikutip dari laman kantor berita Rusia, TASS.

Peskov mengatakan, jika pertemuan Putin dan Zelensky dapat membantu meredakan ketegangan, Moskow siap melakukannya. "Pertama, kita perlu melihat mengapa (presiden Rusia dan Ukraina) perlu bertemu, hal-hal apa yang diharapkan akan dibahas dan hasil apa yang ingin mereka capai. Sejauh ini, tidak ada pemahaman seperti itu,” ucapnya.

photo
Tangkapan citra satelit yang dilansir Maxar Technologies pada Jumat (18/2/2022) menunjukkan 32 pesawat tempur Su-25 buatan Rusia, sejumlah helikopter, dan unit pertahanan udara S-400, serta pesawat tanpa awak, terparkir di Lapangan Udara Luninets sekitar 50 kilometer dari perbatasan utara Ukraina. - (AP/Maxar Technologies)

Badan keamanan Rusia, FSB, melaporkan, peluru dari wilayah Ukraina menghancurkan pos penjaga perbatasan di wilayah Rostov, Rusia. Pada Senin (21/2), kantor berita Interfax melaporkan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

Interfax mengutip FSB yang mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar 150 meter dari perbatasan Rusia dan Ukraina. Sejak Kamis (16/2), baku tembak antara pasukan Ukraina dan separatis pro-Rusia di timur negara itu semakin intensif.

Suara pertempuran kembali terdengar pada Senin kemarin, termasuk ledakan di Kota Donetsk yang dikuasai separatis. Penyebab ledakan itu belum diketahui.

Kantor berita Rusia, RIA, melaporkan, pemberontak menyebut dua warga sipil tewas tertembak oleh pasukan Rusia. Media Rusia melaporkan, sekitar 61 ribu warga dievakuasi dari timur Ukraina yang berseberangan dengan Rusia.

Ukraina menuduh pasukan separatis pro-Rusia menembak sendiri wilayahnya agar mereka dapat menyalahkan pasukan Pemerintah Ukraina.

Negara-negara Barat mengatakan sudah menyiapkan sanksi pada perusahaan-perusahaan dan individu Rusia bila Moskow memutuskan menggelar invasi. Seorang sumber mengatakan, salah satu sanksinya adalah melarang institusi finansial AS memproses transaksi bank-bank besar Rusia. ';

×