IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

14 Feb 2022, 03:45 WIB

Jantung Arab Dikoyak Kekuatan Asing

Sayangnya, Suriah kini dikoyak perpecahan, dikavling oleh kekuatan atau negara asing.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Sejumlah pengamat tentang Timur Tengah menyebut Suriah sebagai jantung dunia Arab. Bukan hanya karena posisi geografisnya, melainkan juga peran sentral Suriah dalam perjalanan sejarah Arab dan perkembangan Islam.

Suriah, tepatnya Damaskus, pernah menjadi ibu kota Kekhalifahan Umayyah yang memerintah dari 661 hingga 750 Masehi. Kekhalifahan Umayyah merupakan kekhalifahan Islam pertama setelah periode Khulafaur Rasyidin. Pada masa kekhalifahan yang didirikan Muawiyah bin Abi Sufyan inilah Islam berkembang ke Afrika Utara, lalu menyeberang ke Spanyol hingga Kordoba.

Sayangnya, Suriah kini dikoyak perpecahan, dikavling oleh kekuatan-kekuatan atau negara asing. Pemerintahan Presiden Bashar Assad pun tidak kuasa tegak mandiri. Ia menyandarkan diri pada kekuatan asing.

Intervensi asing terakhir berupa operasi militer Amerika Serikat di Idlib, provinsi di barat laut Suriah, awal Februari lalu. Operasi ini dilakukan pasukan khusus AS untuk mengejar dan menangkap pemimpin tertinggi ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) Abu Ibrahim al Hashemi al Qurashi.

Pengganti Abu Bakar al Baghdadi —pendiri dan pemimpin pertama ISIS— ini terbunuh bersama sejumlah warga sipil lain yang tinggal di gedung, tempat al Qurashi bersembunyi. Versi AS, sang pemimpin organisasi teroris terbunuh karena meledakkan diri sendiri, sementara Washington menginginkan ia bisa ditangkap hidup-hidup. Al Qurashi diduga sebagai orang Irak atau Turkmenistan. Ia bukan warga Suriah.

 
Sayangnya, Suriah kini dikoyak perpecahan, dikavling oleh kekuatan-kekuatan atau negara asing.
 
 

Operasi militer AS di Idlib tentu bukan yang terakhir. Ia hanya satu dari serangkaian intervensi militer asing yang dimulai sejak lebih dari 10 tahun lalu.

Menurut Fayez Sarah, kolumnis dan jurnalis senior Suriah, intervensi asing ini di satu sisi telah menyasar rakyat Suriah. Misalnya, yang terjadi dengan berbagai serangan militer Rusia untuk mendukung tegaknya kekuasaan Presiden Bashar Assad. Korbannya kebanyakan rakyat sipil.

Namun, di sisi yang lain, intervensi militer asing ini juga kerap menjadikan negara itu sebagai medan pertempuran di antara mereka sendiri. Misalnya, operasi militer Israel yang menyasar berbagai objek militer Iran di Suriah. Juga operasi militer Turki terhadap milisi ‘Qasd’ yang digerakkan Partai Persatuan Demokratik Kurdi (OYD). Pun operasi militer AS untuk menangkap al Qurashi.

Ada daftar panjang kekuatan asing yang terlibat dan ikut mengoyak Suriah. Dari negara-negara besar yang utama adalah Rusia dan Amerika. Sedangkan dari kawasan regional, antara lain, Israel, Turki, dan Iran.

Daftar ini masih ditambah lagi dengan kelompok-kelompok teroris, seperti Alqaidah, ISIS, Jabhatu an Nusra, dan lainnya, yang para anggotanya kebanyakan adalah orang asing. Ini belum termasuk kelompok lain yang menjadikan Suriah sebagai medan operasi, seperti kelompok Kurdi Turki, gerombolan tentara bayaran dari Rusia (Wagner), Sudan, dan lainnya.

Berbagai kekuatan asing yang ikut bermain di Suriah bisa dibagi dalam dua kelompok besar. Pertama, mereka yang mendukung rezim Presiden Bashar Assad kemudian bersekutu dengannya untuk membangun pengaruh geopolitik di kawasan Timur Tengah. Mereka, antara lain, Rusia dan Iran. Kedua, pihak-pihak yang menentang rezim Bashar Assad.

 
Ada daftar panjang kekuatan asing yang terlibat dan ikut mengoyak Suriah. Dari negara-negara besar yang utama adalah Rusia dan Amerika.
 
 

Pembagian dua kelompok ini tidak rigid atau kaku, bahkan sering kali cair, bergantung kepentingan dan perkembangan di lapangan. Dua kelompok terkadang bisa berlawanan, dan kadang dapat bekerja sama.

Turki, misalnya. Pada awalnya, ia dikelompokkan sebagai pihak yang menentang kekuasaan Presiden Bashar Assad dan dekat dengan sikap sebagian besar negara-negara Arab dan Barat. Namun, pada perkembangannya Turki juga bekerja sama dan berkoordinasi secara erat dengan Rusia dan Iran, dua negara yang menjadi sekutu Presiden Assad.

Mereka — Turki, Rusia, dan Iran — membangun jalur komunikasi yang dikenal sebagai ‘jalur Astana’, untuk mengoordinasikan kepentingan dan kebijakan tiga pihak dalam masalah Suriah.

Intervensi asing di Suriah bermula pada 2011. Ketika itu muncul berbagai aksi unjuk rasa besar-besaran di sejumlah negara Arab melawan rezim penguasa diktator-otoriter, termasuk di Suriah. Revolusi rakyat yang dikenal dengan "the Arab Spring" itu berhasil menjatuhkan sejumlah penguasa Arab, tapi tidak di Suriah.

Rezim Assad masih bisa bertahan. Ia menolak mundur dan solusi politik apa pun di dalam negeri. Sebaliknya, ia justru mengundang Iran kemudian Rusia (2015) demi mencegah kejatuhan dan mengembalikan kendalinya terhadap Suriah, meskipun keputusan itu telah menyebabkan banyak korban, utamanya di pihak oposisi.

Bersamaan dengan undangan intervensi asing, rezim Assad ternyata tidak kuasa lagi mengontrol garis perbatasan Suriah. Mereka —rezim Assad yang disokong Rusia dan Iran— cukup menguasai wilayah-wilayah yang mereka yakini bisa mengendalikannya.

Kondisi Suriah yang seperti itulah yang kemudian memungkinkan siapa pun dan dari kelompok mana pun untuk masuk-keluar negara itu lewat perbatasan. Termasuk kelompok-kelompok teroris. Mereka bebas memasukkan orang, senjata, uang, atau apa pun ke Suriah.

Mereka juga bebas untuk mengorganisasikan diri, melakukan propaganda, merekrut orang, dan melancarkan aksi-aksi bersenjata. Hasilnya, kelompok teroris yang didirikan oleh Abu Bakar al Baghdadi itu sempat berkuasa di wilayah luas di Irak dan Suriah. Itulah sebabnya para teroris itu menyebut organisasi mereka sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah (Islamic State of Irak and Syria/ISIS).

 
Bersamaan dengan undangan intervensi asing, rezim Assad ternyata tidak kuasa lagi mengontrol garis perbatasan Suriah. 
 
 

Laiknya kelompok-kelompok teroris, seperti ISIS, Alqaidah, dan semacamnya, banyak negara asing yang juga memasukkan para intelijen dan pasukan mereka ke Suriah. Mereka -- antara lain Amerika dan negara-negara Barat -- berdalih keberadaan mereka di Suriah adalah untuk memerangi kelompok-kelompok teroris.

Yang mengherankan, keberadaan mereka — berbagai militer asing itu — seolah dibiarkan oleh rezim Assad. Bahkan, rezim Assad sepertinya sengaja mengambil keuntungan dari meningkatnya intensitas konflik dan kekerasan yang melibatkan kekuatan-kekuatan asing itu. Yang bermain di Suriah kini sudah tingkat global. Tidak ada gunanya lagi mencari solusi politik di dalam negeri karena Suriah sudah menjadi objek konspirasi global.

Bahkan, keberadaan kelompok-kelompok teroris seperti ISIS yang hingga kini masih eksis di Suriah pun bisa jadi dimanfaatkan oleh rezim Assad. Termasuk ketika kelompok-kelompok itu melakukan aksi terornya. Kini, rezim Assad sedang menghadapi kelompok teroris. Bukan kelompok oposisi yang sekadar menolak atau mengecam berbagai pebijakan pemerintah.

Apa pun, intervensi berbagai militer asing yang telah mengoyak Suriah itu telah mengakibatkan penderitaan rakyat Suriah. Penderitaan mereka akan semakin panjang dan tidak tahu kapan akan berakhir.

Apalagi, ada istilah ‘tidak ada makan gratis’. Keberadaan militer asing, baik yang mendukung maupun yang menolak terhadap rezim Assad, tentu butuh biaya yang besar. Biaya itu pastinya akan dibebankan kepada rakyat Suriah.

Berbagai aksi demonstrasi pun mulai bermunculan kembali di Suriah. Mereka tidak lagi menuntut pergantian rezim ataupun demokratisasi. Mereka hanya mengeluhkan kondisi hidup sehari-hari yang semakin berat: harga kebutuhan pokok terus meningkat, pekerjaan sulit, listrik sering padam, dan sistem pendidikan yang nyaris ambruk.

Jumlah orang miskin meningkat, menjadi imigran gelap sudah menjadi pilihan, dan mereka pun lebih senang jadi pengungsi. Lalu, kekuasaan itu sebenarnya untuk siapa?


×