Inovasi | Freepik.com

Inovasi

12 Mar 2019, 21:33 WIB

Wujudkan Wanita Berdaya DI ERA TEKNOLOGI

Perempuan juga bisa punya peran yang sama dengan laki-laki di industri digital.

Teknologi biasa diidenti fika sikan dengan peralatan yang canggih, mahal, dan diperlu kan usaha tertentu untuk bi sa menguasainya. Teknologi juga biasa diasosiasikan dengan kema juan zaman yang serbamodern.Perlahan, stereotipe tentang teknologi pun terbentuk, salah satunya bahwa laki- la ki dianggap lebih menguasai teknologi di bandingkan perempuan. Padahal, sebenarnya perempuan juga menghabiskan waktu yang lebih kurang sama dengan laki-laki di depan layar gawainya. Hal ini tentu bisa menggambarkan bahwa teknologi bukanlah milik laki-laki.

Menurut Think Web yang merupakan Digital Marketing and Brand Agency dan ber fokus pada pemberdayaan perem puan, anak-anak, difabel, dan entrepreneur, salah satu permasalahan terbesar dalam dunia digital adalah teknologi lebih sering diidentikkan dengan laki-laki.

Hal ini kemudian makin berdampak pada makin jauhnya gap kesetaraan untuk perempuan dalam dunia digital. "Apabila perempuan mempunyai peran besar dalam keluarga yang sama besarnya dengan peran besar laki-laki, sebenarnya pe rempuan juga bisa punya peran yang sa ma dengan para laki-laki di dalam industri digital," kata Public Relations Think Web, Shinta Maruto.

Apalagi, lanjut dia, dengan minimnya talenta pada industri digital di Indonesia, ditambah identifikasi gender yang ada, akan makin memperluas lubang pada industri digital Indonesia. Potensi ekonomi digital yang digadang-gadang pemerintah pun menjadi kian rapuh dan Indonesia berpotensi makin jauh tertinggal dari negara lainnya, seperti India. Padahal, ada berbagai peluang beserta profesi baru yang terbuka lebar pada era digital. Saat ini, tak sedikit anak Indonesia yang memupuk mimpi ingin menjadi Youtuber, kreator konten, gamerprofesional, ataupun pemilik usaha rintisan berskala Unicorn.

Menurut Shinta, kini sudah saatnya pe rempuan makin terbuka untuk membahas berbagai peluang yang ada pada era digital saat ini bersama ayah dan ibunya. Skeptisme yang menganggap perempuan gagap teknologi pun perlu segera ditanggalkan.

Karena, lanjutnya, jika tidak secara ma tematika, jumlah talenta digital hanya akan terbatas pada laki-laki dan keberlangsungan industri digital tidak punya masa depan yang baik. "Hal-hal inilah yang membuat keberadaan perempuan pada ekonomi digital adalah kunci," ujar Shinta.

Hasilnya, perempuan lebih sedikit terpenetrasi internet dibandingkan laki- laki, dengan perbandingan 55 persen dan 45 persen.



Fokus pada pemberdayaan
Masih terjadinya kesenjangan penguasa an teknologi antara laki-laki dan perempuan juga ditemukan dalam survei yang dilakukan PT XL Axiata Tbk (XL). Group Head XL Axiata Tri Wahyuningsih mengungkapkan, pada 2017 XL melakukan survei di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Makassar untuk mengetahui seberapa besar tingkat penetrasi internet terhadap para perempuan di Indonesia.

Hasilnya, perempuan lebih sedikit terpenetrasi internet dibandingkan laki- laki, dengan perbandingan 55 persen dan 45 persen.

Ada banyak faktor yang mem buat perempuan memiliki tingkat literasi digital di bawah laki-laki, ujar wanita yang biasa disapa Ayu ini.

Di antaranya, laki-laki dirasa lebih cepat memahami teknologi. Hal ini tak lepas dari pola budaya dan kebiasaan sejak kecil. Selain itu, ada pula faktor para perempuan kerap merasa kesulitan untuk mendapatkan informasi demi meningkatkan pemahaman teknologinya hingga ada pula rasa malu untuk bertanya. Kalau bertanya dengan anak atau suami, banyak responden yang takut dibilang gaptek. Mereka mengungkapkan lebih nyaman kalau bertanya kepada sesama perem puan, kata Ayu.

Oleh karena itu, belum lama ini, dengan menggandeng Kementerian Komuni kasi dan Informatika (Komenkominfo), XL menginisiasi wahana belajar Pojok Pintar Sisternet. Pojok Pintar Sisternet ini bisa ditemui di kantor Komenkominfo, Jakarta Pusat.

Di sini, dengan mengusung konsep sebagai `rumah singgah', para perempuan bisa belajar, berbagi, dan memperluas wa wasan mengenai berbagai isu pemberdayaan perempuan. Termasuk juga, bagaimana mengembangkan peluang sosial ekonomi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kom info Rosarita Niken Widiastuti menjelaskan, teknologi haruslah diman faatkan perempuan untuk lebih berdaya dan mengembangkan potensi diri. Mulai dari mengonsumsi informasi yang berkualitas hingga dimanfaatkan untuk menambah penghasilan untuk meningkatkan ekonomi, ujarnya.

Menurut dia, Kemenkominfo juga meng harapkan agar perempuan Indonesia saat ini lebih melek digital.Apalagi, mengingat banyaknya informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dalam bentuk berita bohong.

photo


Senada, Direktur Jaringan XL Axiata Yessie D Yosetya mengatakan, era digital saat ini membuka kesempatan luas bagi siapa saja untuk meningkatkan kemampuan dengan memberdayakan potensi diri.

Termasuk bagi semua perempuan In donesia. Apalagi, dengan keberadaan ja ringan data yang semakin meluas hingga pelosok-pelosok daerah, tidak ada alasan lagi bagi perempuan untuk tidak menjadi setara secara akses ke sumber- sumber edukasi dan memperbesar peluang ekonomi, katanya.

Menurut Yessie, wahana belajar digital menjadi wujud nyata ekosistem komunikasi dan informatika dalam mengakselerasi kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat dengan teknologi digital.Pojok Pintar merupakan bagian dari upaya kami mendorong kaum perempuan Indonesia untuk makin maju secara sosial dan ekonomi, ujarnya.

Mulai 5 Maret 2019, aktivitas di Pojok Pintar sudah mulai bisa diakses. Setiap bulannya akan ada kelas Sister Berbicara dengan beragam materi, mulai dari digital parenting, kewirausahaan, literasi digital, dan fotografi jurnalistik. Setiap materi akan dibawakan ahli di bi dang terkait yang akan memandu peserta mengetahui lebih dalam setiap tema.

Termasuk bagaimana memanfaat kan sarana digital untuk mendapatkan hasil maksimal terkait materi yang telah dipelajari. Diluncurkan empat tahun yang lalu, Sisternet telah berbagi dengan lebih dari 14 ribu orang kaum perempuan melalui 10 ribu konten dan lebih dari 100 kelas. (ed: setyanavidita livikacansera) ';

×