Analisis
Omikron Sebagai Jalan Keluar
Kalau disuruh memilih tertular varian omikron versus delta, pasti umumnya orang memilih omikron.
Oleh IMAN SUGEMA
OLEH IMAN SUGEMA
Mayoritas dari kita mungkin memandang varian omikron sebagai sebuah masalah yang harus dihadapi. Minimal kita beranggapan bahwa varian tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pandemi Covid-19.
Memang itulah kenyataannya. Tapi mungkin, kita perlu mempertimbangkan cara berpikir yang sedikit berkebalikan dari itu. Yang akan saya bicarakan di bawah ini murni strategi ilmiah yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana.
Baru-baru ini Parlemen Inggris menyatakan bahwa sudah saatnya memberikan kebebasan bagi warganya untuk beraktivitas kembali secara normal. Masyarakat diberi hak untuk menentukan berdasarkan pertimbangan rasional masing-masing untuk mengikuti atau tidak mengikuti protokol kesehatan. Masyarakat diberi kebebasan untuk tidak memakai masker dan beraktivitas sosial seperti sebelum pandemi.
Pemerintah juga menganggap bahwa pandemi sudah berubah status menjadi endemi. Secara implisit, Pemerintah Inggris menyatakan bahwa pandemi Covid-19 sudah usai. Namun tentunya, dengan kata-kata yang terdengar sangat bijak.
Adalah sudah menjadi hukum alam, virus flu akan terus bermutasi menjadi virus yang memiliki daya sebar yang lebih tinggi, tetapi tingkat keparahan kesehatannya makin melemah. Daya sebar makin tinggi, tetapi makin loyo, begitu mungkin bahasa sederhananya. Terus apa hubungannya dengan omikron sebagai jalan keluar?
Adalah sudah menjadi hukum alam, virus flu akan terus bermutasi menjadi virus yang memiliki daya sebar yang lebih tinggi, tetapi tingkat keparahan kesehatannya makin melemah.
Bisa jadi Parlemen Inggris sepakat dengan pandangan para ahli di negeri tersebut, yang memandang bahwa sudah saatnya untuk mengubah cara pandang. Covid-19 memang merupakan sesuatu yang paling menyeramkan bagi penduduk di muka bumi ini selama dua tahun terakhir.
Sekarang tiba-tiba ada varian omikron yang begitu cepat menular sehingga sangat sulit untuk dikendalikan. Jangankan untuk dikendalikan, setiap negara mengalami kesulitan untuk memprediksi kapan dan di mana akan terjadi ledakan kasus. Di lain pihak, varian ini tidak menimbulkan masalah kesehatan separah varian sebelumnya seperti varian delta.
Ledakan kasus terjadi begitu cepat, tetapi masalah kesehatan tetap tertangani dengan baik. Para ahli menyebutnya sebagai favourable outcome. Sebuah keluaran yang ditunggu-tunggu dengan penuh harap. Itulah cara pandang para epidemiolog saat ini.
Bagaimana dengan logika pengambil keputusan dalam kebijakan publik di Inggris? Tentunya mereka memiliki dua skenario yang harus dipilih salah satunya. Skenario pertama adalah tetap melakukan pengetatan mobilitas dan protokol kesehatan. Tentu tujuannya adalah untuk memperlambat penyebaran varian omikron. Ada dua hal yang menyebabkan skenario ini sulit untuk berhasil.
Ledakan kasus terjadi begitu cepat, tetapi masalah kesehatan tetap tertangani dengan baik. Para ahli menyebutnya sebagai favourable outcome.
Pertama, lebih dari 90 persen penyebaran adalah melalui interaksi dengan orang tanpa gejala. Itu berarti bahwa hanya kurang dari 10 persen yang akan teridentifikasi melalui testing, tracing, dan treatment. Dari sini bisa diduga bahwa pengendalian terhadap omikron hampir bisa dipastikan akan gagal.
Kedua, dengan cara memperlambat perluasan omikron berarti pada saat yang sama kita membiarkan varian lainnya untuk tetap berkembang dan menjadi ancaman bagi kesehatan. Dari sudut pandang kesehatan, lebih mudah untuk menangani omikron daripada varian delta dan sejenisnya.
Dalam bahasa gamblangnya, kalau orang disuruh memilih untuk tertular varian omikron versus delta, pasti umumnya orang memilih varian omikron. Tentu semua orang pasti inginnya tidak pernah tertular varian apa pun. Itu adalah situasi yang ideal, tapi hampir tak mungkin untuk diwujudkan.
Skenario kedua adalah skenario yang pada akhirnya dipilih oleh Pemerintah Inggris dengan narasi yang lebih bijak. Skenario tersebut adalah membiarkan varian omikron untuk berkembang luas sesuai dengan kecepatan alamiahnya. Tentu hal ini dilandasi dengan asumsi bahwa pada akhirnya, semua orang akan tertular Covid-19.
Sekali lagi dari sudut beban medis, lebih baik tertular varian omikron daripada varian lainnya. Lagi pula, orang yang sudah tertular sebuah varian akan memiliki kekebalan secara alamiah terhadap varian apa pun. Vaksin dan vaksinasi massal tidak lagi menjadi isu.
Namun, ada satu prasyarat yang harus dipenuhi untuk mencegah skenario ini menjadi bencana kemanusiaan. Jumlah tenaga dan fasilitas medis harus tersedia secara memadai.
Dalam hal ini, negara maju seperti Inggris tentunya memiliki kelengkapan yang jauh lebih baik dibandingkan negara-negara terbelakang. Ketersediaan dan kesiapan layanan kesehatan merupakan hal paling utama untuk mencegah terulangnya tragedi kemanusiaan seperti yang pernah terjadi di India tahun lalu.
Namun, ada satu prasyarat yang harus dipenuhi untuk mencegah skenario ini menjadi bencana kemanusiaan. Jumlah tenaga dan fasilitas medis harus tersedia secara memadai.
Bagaimana dengan Indonesia? Kita kemungkinan akan mengambil langkah yang lebih konservatif. Berbagai bentuk pengetatan kegiatan masyarakat tetap akan menjadi bagian dari solusi.
Pengetatan akan tetap dilakukan di sekolah, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan ruang publik. Tujuannya hanya satu, yaitu mencegah agar limit pelayanan kesehatan tetap terjaga dengan baik.
Kita tahu bahwa varian omikron akan meledak dalam waktu yang tidak lama lagi. Tetapi, kita harus tetap berupaya agar ledakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa yang terlalu besar. Jangan sampai tragedi Sungai Gangga terulang di Indonesia.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
