Petugas menata beras fortifikasi di salah satu ritel modern di Jakarta, Selasa (26/8/2025). | Republika/Prayogi

Ekonomi

Fortifikasi Beras Jadi Senjata Efektif Lawan Kelaparan Tersembunyi

Fortifikasi pangan dinilai menjadi pendekatan yang paling realistis dan efisien.

 

JAKARTA -- Ancaman kekurangan gizi mikro atau yang kerap disebut sebagai "kelaparan tersembunyi" masih membayangi jutaan masyarakat Indonesia. Meski tidak selalu tampak secara kasat mata, kondisi ini berkontribusi terhadap tingginya angka anemia, gangguan tumbuh kembang anak, menurunnya produktivitas tenaga kerja, hingga meningkatnya risiko komplikasi kesehatan pada ibu hamil.

Para pakar gizi menilai salah satu solusi paling efektif untuk mengatasi persoalan tersebut adalah memperluas fortifikasi beras secara massal. Sebagai makanan pokok yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk Indonesia, beras dinilai menjadi kendaraan paling strategis untuk menyalurkan zat besi dan berbagai mikronutrien penting kepada masyarakat.

Isu tersebut mengemuka dalam forum "Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market" yang digelar di Jakarta, Rabu (24/6/2026). Pertemuan itu mempertemukan pelaku industri penggilingan padi, ritel modern, organisasi pembangunan, serta pegiat gizi untuk membahas langkah memperluas akses beras fortifikasi agar tidak hanya dinikmati kelompok tertentu, tetapi dapat menjangkau masyarakat secara luas.

Direktur Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) Nina Sardjunani mengatakan Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman panjang dalam program fortifikasi pangan. Garam beryodium, tepung terigu yang diperkaya zat besi dan seng, hingga minyak goreng yang diperkaya vitamin A menjadi contoh intervensi yang terbukti mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Namun, menurut Nina, tantangan berikutnya adalah memperluas fortifikasi pada komoditas yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, yakni beras. "Yang paling cost-effective adalah fortifikasi," kata Nina.

Ia menjelaskan, selama ini upaya mengatasi kekurangan mikronutrien dilakukan melalui tiga pendekatan utama. Pertama, diversifikasi pangan dengan mendorong masyarakat mengonsumsi makanan yang lebih beragam. Namun pendekatan ini tidak mudah diterapkan karena daya beli masyarakat masih berbeda-beda.

Pendekatan kedua adalah suplementasi melalui pemberian vitamin atau zat gizi tambahan. Meski relatif sederhana, efektivitasnya kerap terhambat oleh rendahnya kepatuhan masyarakat dalam mengonsumsi suplemen secara rutin.

Karena itu, fortifikasi pangan dinilai menjadi pendekatan yang paling realistis dan efisien. Berbeda dengan dua pendekatan lainnya, fortifikasi tidak menuntut perubahan perilaku masyarakat.

Nina menjelaskan sekitar 95 persen penduduk Indonesia mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok setiap hari. Dengan memperkaya beras menggunakan zat besi dan mikronutrien lainnya, manfaat gizi dapat menjangkau populasi yang sangat besar tanpa mengubah pola makan masyarakat.

"Masyarakat tetap makan nasi seperti biasa, tetapi mendapatkan tambahan zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh," ujarnya.

Menurut dia, keuntungan lain dari fortifikasi beras adalah biaya tambahan yang relatif kecil dibanding manfaat kesehatan yang dihasilkan. Dengan tambahan biaya produksi yang diperkirakan sekitar Rp 1.000 per kilogram, fortifikasi berpotensi menghasilkan dampak perbaikan gizi yang sangat besar pada tingkat populasi.

Persoalan anemia menjadi salah satu alasan mengapa fortifikasi beras semakin mendesak. Defisiensi zat besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada perempuan usia produktif, ibu hamil, dan anak-anak. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menurunkan produktivitas ekonomi dan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Meski menawarkan manfaat besar, pengembangan beras fortifikasi dalam skala nasional menghadapi sejumlah tantangan. Anggota Advisory Committee Millers for Nutrition Budianto Wijaya mengatakan struktur industri penggilingan padi Indonesia yang sangat tersebar menjadi salah satu hambatan utama.

Indonesia memiliki ribuan unit penggilingan padi dengan skala usaha yang sangat beragam, mulai dari industri besar hingga penggilingan kecil di tingkat desa. Kondisi tersebut membuat penerapan standar mutu, pengawasan kualitas, hingga distribusi produk fortifikasi menjadi lebih kompleks dibanding komoditas pangan lainnya.

"Sektor penggilingan padi kita sangat terfragmentasi sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk memperluas fortifikasi beras," katanya.

Saat ini, beras fortifikasi masih lebih banyak dipasarkan sebagai produk premium dengan harga yang relatif tinggi dan umumnya dijual di ritel modern. Akibatnya, kelompok masyarakat yang justru paling membutuhkan tambahan zat gizi sering kali belum menjadi konsumen utama produk tersebut.

Karena itu, sejumlah pihak menilai perlu ada strategi untuk memperluas pemanfaatan beras fortifikasi melalui berbagai program pemerintah. Salah satu peluang yang dinilai potensial adalah memasukkan beras fortifikasi ke dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Budianto, saat ini beberapa komponen dalam program MBG seperti garam dan minyak goreng sudah menggunakan produk fortifikasi. Karena itu, beras fortifikasi dinilai dapat menjadi langkah lanjutan yang logis untuk memperkuat kualitas gizi penerima manfaat program tersebut.

Selain persoalan distribusi dan produksi, tantangan lain yang dihadapi adalah persepsi masyarakat. Nina mengatakan masih rendahnya literasi publik mengenai fortifikasi pangan membuat masyarakat rentan terhadap berbagai informasi yang menyesatkan.

Ia mencontohkan maraknya hoaks mengenai "beras plastik" yang pernah beredar beberapa tahun lalu dan sempat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap produk beras yang diproses menggunakan teknologi tertentu.

Menurut dia, edukasi publik menjadi faktor penting agar masyarakat memahami bahwa fortifikasi bukan mengubah beras menjadi produk sintetis, melainkan menambahkan zat gizi yang memang dibutuhkan tubuh.

Untuk memperluas pasar beras fortifikasi, pelaku industri juga mengusulkan penguatan industri Fortified Rice Kernel (FRK), yaitu butiran beras yang telah diperkaya mikronutrien dan dicampurkan ke dalam beras konsumsi biasa. Pengembangan industri ini dinilai penting untuk menjamin pasokan bahan baku fortifikasi dalam negeri sekaligus menekan biaya produksi.

Program Manager TechnoServe Indonesia sekaligus pelaksana inisiatif Millers for Nutrition, Evelyn Djuwidja mengatakan kolaborasi antara penggilingan padi dan ritel modern menjadi kunci agar beras fortifikasi dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

"Forum ini telah membuka peluang besar bagi rekan-rekan penggilingan padi dan ritel modern untuk saling bekerja sama," ujarnya.

Ia menambahkan Millers for Nutrition akan terus mendampingi pelaku penggilingan padi dalam menjaga kualitas gizi produk, meningkatkan efisiensi produksi, serta membangun kemitraan bisnis yang berkelanjutan dengan jaringan ritel.

Para pemangku kepentingan menilai keberhasilan fortifikasi beras tidak hanya akan berdampak pada perbaikan status gizi masyarakat, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Dengan menjangkau jutaan masyarakat melalui makanan pokok sehari-hari, fortifikasi beras berpotensi menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat terbesar dan paling efektif dalam menghadapi persoalan kelaparan tersembunyi yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat