Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken. | AP/Olivier Douliery/Pool AFP

Internasional

28 Jan 2022, 03:45 WIB

AS Jawab Proposal Rusia

AS maupun Rusia mengakui adanya peluang dialog.

WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS), Rabu (26/1), menyatakan, telah memetakan jalur diplomatik untuk menjawab proposal Rusia. Jawaban AS ini disampaikan secara langsung oleh Duta Besar AS untuk Rusia John J Sullivan.

Dalam jawaban tertulis, AS mengulangi komitmennya untuk menjunjung kebijakan keterbukaan yang diusung Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Namun, AS juga berjanji untuk menjalankan proses "evaluasi pragmatis dengan berpegang pada prinsip" untuk menanggapi kekhawatiran Rusia. 

"Dengan mengungkapkannya secara tertulis, cara terbaik untuk memastikan setepat mungkin dan agar Rusia memahami sikap kita, gagasan kita, sejelas mungkin. Saat ini, dokumen sudah di tangan mereka dan bola ada di tangan mereka," kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken, Rabu.

"Tidak ada perubahan, tidak akan ada," kata Blinken mengacu pada konsekuensi yang akan dihadapi Rusia jika menginvasi Ukraina.

Juru bicara Kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, mengatakan, respons AS tidak terlalu menjanjikan. Namun, ia mengakui, ada peluang bagi negosiasi. "Selalu ada prospek untuk melanjutkan dialog, jika itu menjadi kepentingan kami dan AS," katanya, Kamis (27/1).

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev mengatakan, Ukraina telah dijadikan “mainan” oleh Amerika Serikat (AS) dan NATO. Menurut dia, Kiev digunakan sebagai alat tekanan geopolitik terhadap Rusia.

"Sayangnya, Ukraina sampai taraf tertentu menjadi mainan di tangan NATO dan, terutama, AS, karena Ukraina digunakan sebagai instrumen tekanan geopolitik di Rusia," kata Medvedev, dikutip laman kantor berita Rusia, TASS, Kamis.

Dia pun meyakini, betapa pun fakta ini menyedihkan, Ukraina sebenarnya tak dibutuhkan oleh AS dan Eropa. "Tapi itu adalah argumen dalam permainan geopolitik melawan Rusia dan sampai batas tertentu bahkan melawan Cina. Jadi, ketegangan ini pertama-tama dan terutama terkait dengan ini. Di sisi lain, ketegangan ini terkait dengan arah yang telah ditentukan. dilaksanakan oleh otoritas Ukraina dalam beberapa tahun terakhir," ujar Medvedev.

photo
Foto lansiran Angkatan Udara Amerika Serikat enunjukkan prajurit menyusun bantuan senjata dan amunisi untuk Ukraina di Pangkalan Udara Dover, Delaware, Jumat (21/1/2022). - (Mauricio Campino/U.S. Air Force via AP))

Ketegangan di perbatasan Ukraina-Rusia kembali meningkat sejak Rusia dilaporkan mengerahkan lebih dari 100 ribu pasukannya ke zona terdepan. Moskow juga menempatkan ribuan tentaranya di perbatasan Ukraina di utara dengan Belarus.

AS dan NATO telah menuding Rusia memiliki intensi untuk melancarkan agresi ke Kiev. Namun, Rusia membantah tudingan tersebut. Moskow mengeklaim pengerahan pasukan itu hanya untuk keperluan latihan militer rutin.

Kendati demikian, AS dan NATO telah menyatakan dukungannya kepada Ukraina. Mereka pun sudah mengancam akan menjatuhkan sanksi jika Rusia melancarkan serangan.

Blinken dan Wang

Blinken dilaporkan berbicara dengan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi. Wang meminta semua pihak yang terlibat dalam krisis perbatasan Ukraina-Rusia untuk tetap tenang.

"Kami meminta semua pihak untuk tetap tenang dan menahan diri dari mengagitasi ketegangan dan krisis," kata Wang, Kamis.

Pada Blinken, Wang mengatakan, keamanan satu negara tidak bisa membebani keamanan negara lain. Selain itu, keamanan di kawasan tidak bisa dijamin dengan memperkuat atau memperluas blok militer.

"Untuk menyelesaikan isu Ukraina, kami harus kembali ke Minsk II, titik awalnya," kata Wang.

"Perjanjian Minsk yang baru yang disetujui Dewan Keamanan PBB merupakan dokumen fundamental yang diakui semua pihak dan harus diimplementasikan dengan efektif, sepanjang upaya sesuai dengan arah dan semangat perjanjian, Cina akan mendukungnya," tambah Wang.

"Menteri Blinken menyakinkan, ke depannya, deeskalasi dan diplomasi merupakan cara yang bertanggung jawab," kata Departemen Luar Negeri AS mengutip Blinken. 

Sumber : Reuters/Associated Press


×