Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

25 Jan 2022, 03:30 WIB

Memanfaatkan Waktu

Memanfaatkan waktu luang adalah ciri khas para salafusshalih.

 

OLEH AHMAD RIFAI

Manusia adalah sasaran beragam ujian. Ada  ujian yang cukup terasa dan mudah dideteksi, semisal musibah dan kesulitan. Namun, ada juga yang sangat samar unsur ujiannya.

Walhasil, terkadang kita gagal dalam menghadapinya. Salah satu ujian yang sangat samar itu adalah waktu luang. Beratnya ujian waktu luang telah diperingatkan oleh Nabi SAW.

Dalam hadis, Beliau bersabda yang artinya, “Ada dua kenikmatan yang banyak diantara manusia lalai di dalamnya, nikmat sehat dan waktu luang.” (HR Bukhari). Nasihat berharga ini adalah ajakan untuk mewaspadai waktu luang sekaligus motivasi untuk memanfaatkannya.

Dalam hadis lain, Nabi SAW berpesan yang artinya, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.” (Riwayat al-Hakim dan disahihkan oleh Albani).

Memanfaatkan waktu luang adalah ciri khas para salafusshalih. Mereka sangat disiplin dan juga ketat dalam menyalurkan waktunya. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Aku mendapati suatu kaum yang mereka lebih pelit terhadap waktunya daripada dirham yang dimilikinya.” (Aina nahnu min akhlaqissalaf, DR Ahmad Farid, hal. 129).

Para sahabat bahkan sangat terusik jika melihat seorang tidak memanfaatkan waktu yang dimiliknya. Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar marah kepada seseorang yang memiliki waktu kosong tapi tidak memanfaatkan dalam urusan dunia ataupun akhirat.” (Abu Nuaim, Hailyatul Auliya’ 1/130).

Spirit memanfaatkan waktu inilah yang merupakan rahasia dibalik karya para ulama yang sangat menakjubkan. Berjilid-jilid buku mereka hasilkan dalam keterbatasn pena dan kertas. Mereka dikenang dalam kebaikan, meski telah wafat ratusan tahun silam. Aliran doa tak pernah henti untuk mereka.

Fakta di atas membuktikan, memanfaatkan waktu luang menjadikan seseorang produktif dalam kebaikan. Keterbatasan dalam berbagai hal bukan penghalang untuk mengukir prestasi. Hanya saja memanfaatkan waktu luang bukanlah perkara mudah. Tantangan terberat bersumber dari diri sendiri yaitu hawa nafsu.

Hawa nafsu yang didukung oleh setan sangat gigih dalam mengajak kita untuk santai atau menunda suatu kebaikan. Apalagi, dengan beragam hiburan yang tersedia melalui kecanggihan tehnologi. Tak jarang porsinya berlebihan atau menjurus pada hiburan yang diharamkan.

Tantangan inilah yang mutlak ditaklukkan. Caranya, dengan menyelisihi keinginan hawa nafsu dan ajakannya dan bermunajat kepada Allah. Di awal pasti ada kesulitan. Namun, dengan berpadunya ikhtiar dan munajat, yang kesulitan akan berganti dengan kemudahan.

Semoga Allah memudahkan kita dalam memanfaatkan waktu luang.


×