Ilustrasi usaha melawan buta aksara. | Antara Foto

Bodetabek

24 Jan 2022, 10:41 WIB

Tak Ada Kata ‘Senja’ dalam Melawan Buta Aksara

Berbekal alat tulis seadanya, para orang tua bersemangat belajar baca melawan buta aksara.

N a na m a ma, nama,” suara tersebut sayup-sayup terdengar dari salah satu sudut Kampung Warung Loa, Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. 

Suara itu berasal dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka. Di tengah dinginnya kaki Gunung Salak, enam orang ibu-ibu berusia senja dengan giat mengeja huruf dan suku kata menjadi kata. Mengikuti seorang wanita muda berjilbab yang mengajar mereka di depan kelas.

Tak hanya mengeja, sang perempuan muda pun meminta mereka menulis satu kata dari setiap huruf alfabet dari A sampai Z di buku tulis masing-masing. Ibu-ibu pun langsung berkutat dengan tugasnya, sambil mengoceh memikirkan kata apa yang akan ditulis. Sesekali beberapa di antaranya terkekeh karena masih kerap tertukar mengeja huruf P dengan F.

Salah seorang di antaranya, Arniati (52 tahun), merupakan tokoh sejarah dari Gerakan Berantas Buta Aksara (Geberbura) yang digagas TBM Lentera Pustaka. Ingatan Arniati terbang pada 2018, saat dia sedang memandangi spanduk TBM Lentera Pustaka yang sedang merayakan ulang tahun pertamanya.

Di depan spanduk besar, penggagas dari TBM Lentera Pustaka, Syarifudin Yunus, menghampiri Arniati yang sedang melamun. Dari situlah Arniati meminta tolong kepada Syarif agar TBM Lentera Pustaka tidak hanya dibuat untuk anak-anak membaca. Namun, juga untuk ibu-ibu di Desa Sukaluyu yang masih buta aksara.

Melalui program Geberbura, permintaan Arniati pun dikabulkan Syarif. Sejak 2018 hingga kini, Arniati dan delapan ibu lain sudah bisa mengeja huruf, suku kata, dan mengubahnya menjadi kata.

“Alhamdulillah, lega hati saya. Biarkan sudah tua, menuntut ilmu itu enggak kenal waktu. Saya mau bisa baca, menulis, dan menghitung biar enggak dibohongin orang,” kata Arniati kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Tak hanya Arniati, murid tertua di Geberbura, Euis Suhaerni atau Eeh (67 tahun), terlihat bersemangat belajar membaca di TBM Lentera Pustaka. Eeh mengeja lebih cepat dibandingkan ibu-ibu lain. Bahkan, beberapa kata di antaranya berasal dari bahasa Inggris.

Setiap Kamis dan Ahad, Eeh berjalan kaki sejauh 50 meter dari rumahnya ke TBM Lentera Pustaka. Berbekal pensil, penghapus, dan beberapa buku tulis di tas kecilnya. Eeh yang terakhir menginjak bangku sekolah pada kelas III SD, mengaku ingin pintar sehingga sangat semangat untuk belajar membaca.

“Sekarang saya sudah bisa membaca ensiklopedi anak-anak, tapi yang hurufnya besar-besar ya. Kalau kecil-kecil enggak bisa,” kata Eeh sambil menunjukkan buku kesukaannya.

Pendiri TBM Lentera Pustaka, Syarifudin Yunus (51 tahun) atau Syarif, telah mendirikan taman bacaan ini sejak 2017. Garasi rumah seluas sekitar 4x6 meter diubahnya menjadi taman bacaan berdinding buku, dengan koleksi buku sebanyak 6.500 buku.

Saat ini, ada lima pengajar atau wali baca yang siap mendampingi anak-anak dan mengajar para ibu-ibu belajar membaca. Ditambah dengan 18 orang relawan yang rutin datang tiap akhir pekan.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor, 81 persen warga Desa Sukaluyu memiliki tingkat pendidikan SD dan sembilan persen di antaranya memiliki tingkat pendidikan SMP. Dari situ Syarif menyimpulkan, angka putus sekolah di desa ini cukup tinggi.

“Akhirnya, saya tidak menggunakan uang untuk menekan angka putus sekolah, saya menggunakan mindset supaya anak anak itu kira-kira dia bisa lanjut sekolah. Saya menggunakan buku,” ujar dosen Universitas Indraprasta PGRI ini.

Pada November 2017, TBM Lentera Pustaka diresmikan. Dari jumlah warga baca 14 orang, saat ini tercatat ada 140 warga baca yang aktif belajar membaca di taman bacaan tersebut. Bahkan, mereka berasal dari tiga desa, yaitu Desa Sukaluyu, Desa Tamansari, dan Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.


×