Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI KH. Noor Achmad memberikan pengahargaan kepada Wakil Pemimpin Redaksi Republika Nur Hasan Murtiaji dalam acara Baznas Award 2022 di Jakarta, Senin (17/1/2022). Republika mendapatkan pengargaan Baznas Award 2022 | Prayogi/Republika.

Khazanah

19 Jan 2022, 03:41 WIB

Baznas Siapkan Delapan Terobosan

Baznas berencana mendigitalisasi semua sektor layanan.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo meminta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) melakukan lebih banyak terobosan dan mengembangkan berbagai cara baru untuk menarik minat masyarakat dalam berzakat. Hal itu karena Indonesia memiliki potensi zakat yang sangat besar dan belum tergali.

Arahan Presiden tersebut disampaikan di acara penganugerahan Baznas Award 2022, Senin (17/1). Merespons hal itu, Ketua Baznas, Prof Noor Ahmad mengatakan, Baznas akan melakukan inovasi dengan delapan terobosan.

 "Kami menyimak betul arahan Bapak Presiden, yang menegaskan Baznas harus banyak inovasi membuat terobosan-terobosan dalam pengelolaan zakat," kata Noor Ahmad kepada Republika, Selasa (18/1).

Ia menjelaskan, terobosan pertama yang akan dilakukan Baznas, yakni digitalisasi di semua sektor layanan, baik itu terkait dengan pengumpulan maupun pendistribusian zakat. Hal itu didukung oleh perencanaan yang sesuai dengan visi, misi, dan rencana strategis.

Dilakukan pula, pengendalian dan evaluasi secara transparan serta akuntabel. Hal ini pun, menurut Noor Ahmad, didukung dengan aplikasi digital untuk seluruh Baznas di Indonesia.

 "Kedua, kami juga akan bekerja sama dengan semua kementerian dan lembaga, khususnya dengan Kementerian BUMN dan Perindustrian untuk perusahaan-perusahaan swasta,’’ katanya.

Sementara itu, terobosan ketiga, yakni melakukan literasi zakat yang lebih informatif, tapi sederhana  untuk para muzaki dan calon muzaki, yang didukung dengan kemudahan membayar zakat. Keempat, Baznas akan melakukan kajian dan pemetaan yang lebih detail mengenai potensi zakat di bidang pertanian, perikanan, peternakan, pertambangan, perindustrian,  dan pasar saham.

Tak ketinggalan, yakni potensi zakat yang baru, seperti youtuber, para pelaku start-up,  dan operator aplikasi digital, khususnya yang beroperasi di Indonesia. Kajian dan pemetaan ini, menurut Noor, rencananya dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.

"Kelima, kami akan bentuk Lembaga Pengelola Dana Abadi untuk Pendidikan dan Bencana dengan mengumpulkan dana dari infak, sedekah, DSKL (dana sosial keagamaan lainnya), dan CSR (corporate social responsibility) dari perusahaan-perusahaan,’’ katanya.

Kemudian, terobosan Baznas yang keenam, yakni meningkatkan kerja sama dengan lembaga-lembaga social funding,  khususnya luar negeri. Lalu, terobosan ketujuh, yaitu memperkuat sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan kapasitas dan spesifikasinya masing-masing.

"Kedelapan, kami juga terus kerja sama dengan dunia industri dan perguruan tinggi untuk menambah wawasan pengelolaan," ujar dia.

Lebih lanjut dalam sambutannya di acara penganugerahan Baznas Award 2022, Presiden berharap, Baznas bisa menjadi motor utama dalam menyejahterakan umat. Namun, ia mengingatkan agar penyaluran zakat dilakukan tepat sasaran sehingga memberikan dampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan umat, peningkatan aktivitas ekonomi, serta membantu dalam mengatasi berbagai masalah sosial, juga mengentaskan masyarakat dari masalah kemiskinan.

Dalam tujuh tahun terakhir ini, Presiden menyampaikan, pemerintah fokus untuk mengurangi pengangguran dan membuka lapangan kerja baru sebanyak-banyaknya. Hal ini diharapkan, berdampak signifikan dalam menekan angka ketimpangan sosial serta menurunkan angka kemiskinan ekstrem, yang saat ini berada di kisaran empat persen atau 10,4 juta.

Ia menargetkan, angka kemiskinan ekstrem ini akan turun hingga nol persen pada 2024. Karena itu, Presiden berharap, Baznas mampu menciptakan program zakat yang relevan sesuai kebutuhan penguatan ekonomi umat.

Pengamat Zakat sekaligus Ketua Umum Forum Zakat, Bambang Suherman, menegaskan dukungannya terhadap harapan Presiden untuk memberikan ruang bagi lembaga zakat agar ikut berperan menyejahterakan umat.

 “Harapan besar kami sebenarnya adalah negara, dalam hal ini sektor kementerian, itu bisa melihat apa produk-produk dari program zakat di masyarakat, sehingga bisa digunakan sebagai model dalam kegiatan pengelolaan program-program sektor tersebut, misalnya program di Kemenpar, Kemenkes, Kemensos, Kemenko PMK, Kementerian PPPA, dan lainnya,” kata Bambang. 


×