Ilustrasi impor barang. | ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Ekonomi

18 Jan 2022, 02:54 WIB

Impor Terus Melonjak

Kenaikan impor juga terjadi pada barang konsumsi.

JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terdapat kenaikan signifikan terhadap impor khususnya bahan baku penolong pada tahun lalu. Tingginya impor bahan baku dinilai sebagai tanda pemulihan ekonomi dalam negeri.

Kepala BPS Margo Yuwono menyampaikan, total nilai impor sepanjang 2021 mencapai 196,20 miliar dolar AS. Angka itu tumbuh 38,59 persen (year on year/yoy). Khusus impor bahan baku tercatat mencapai 147,3 miliar dolar AS, naik 42 persen (yoy).

"Kenaikan impor bahan baku dan barang modal mengindikasikan ekonomi domestik sudah membaik," kata Margo dalam konferensi pers, Senin (17/1).

Selain impor bahan baku dan barang modal yang mengalami kenaikan signifikan, kenaikan impor juga terjadi pada barang konsumsi. BPS mencatat impornya mencapai 20,1 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat sebesar 37,73 persen (yoy).

BPS menilai, meningkatnya barang konsumsi turut menunjukkan indikator positif ekonomi nasional. Menurut dia, itu menandakan ada perbaikan dari daya beli masyarakat sehingga mampu meningkatkan konsumsi terhadap barang.

"Peningkatan impor barang konsumsi menunjukkan daya beli masyarakat semakin membaik," ujarnya.

Sementara itu, kinerja impor sepanjang Desember 2021 mencapai 21,36 miliar dolar AS. Margo menyampaikan, nilai impor tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang masa.

"Secara nilai, impor pada Desember 2021 tertinggi sepanjang sejarah," kata Margo.

Secara lebih detail, impor selama Desember tahun lalu tercatat naik 47,93 persen (yoy). Berdasarkan penggunaan barang, seluruhnya menunjukkan kenaikan. Impor barang konsumsi mencapai 2,49 miliar dolar AS, meningkat 45,27 persen (yoy).

Sementara itu, impor bahan baku penolong tembus hingga 15,63 miliar dolar AS, naik 53,3 persen (yoy). Impor barang modal nilainya sebesar 3,24 miliar dolar AS atau tumbuh 27,95 persen (yoy).

Berdasarkan negara asal impor, BPS mencatat, impor tertinggi berasal dari Cina yang naik 456,8 juta dolar AS. Sementara itu, penurunan nilai impor terbesar dari Jepang yang tercatat anjlok 136,1 miliar dolar AS.

Secara keseluruhan, BPS mencatat surplus dagang Indonesia sepanjang 2021 tembus mencapai 35,54 miliar dolar AS. Capaian itu merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

"Harapannya, tren ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan sehingga akan berdampak pada rencana pemerintah terkait pemulihan ekonomi dengan cepat," kata Margo.

Margo menjelaskan, total nilai ekspor selama 2021 sebesar 231,54 miliar dolar AS, meningkat 41,88 persen (yoy). Ia mengatakan, ekspor selama 2021 memang mengalami peningkatan tajam baik untuk nilai ekspor keseluruhan maupun ekspor nonmigas. Kinerja ekspor tertinggi pada 2021 terjadi pada November dengan nilai tembus 22,84 miliar dolar AS.

"Kinerja ekspor tahun ini cukup menggembirakan dan semoga ini kembali terjadi pada 2022," kata Margo.

Capaian surplus dagang selama 2021 diprediksi sulit untuk dapat kembali terjadi pada 2022. Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, tanda penurunan ekspor dan kenaikan permintaan mulai terlihat pada akhir 2021. Hal itu menunjukkan akan terjadi penyeimbangan perdagangan pada tahun ini.

"Kita sedang mengalami fase rebalancing yang tadinya ekspor naik sekarang giliran impor. Jadi, neraca dagang akan surplus, tapi kemungkinan ada penurunan pada 2022," kata Bhima.

Penurunan ekspor secara bulanan terjadi mulai Oktober hingga Desember 2021. Khusus pada Desember lalu, nilai ekspor turun 2,04 persen dari bulan sebelumnya. Sementara itu, impor mengalami kenaikan konsisten pada periode yang sama. Pada Desember 2021, impor tembus 21,36 miliar dolar AS atau naik 10,51 persen dibandingkan November 2021.

Bhima mengatakan, tantangan kinerja perdagangan pada tahun ini akan berbeda dari tahun sebelumnya. Menurutnya, saat adanya perbaikan ekonomi dunia dan Indonesia, permintaan barang konsumsi, termasuk dari pemenuhan impor akan mengalami peningkatan.

Sementara itu, kenaikan harga komoditas mentah yang menguntungkan Indonesia sepanjang 2021 dan membuat nilai ekspor meningkat pesat tak bisa diharapkan kembali terwujud.

"Jika berharap pada booming harga komoditas, kita belum tahu apakah sampai akhir 2022 masih terjadi sementara banyak ketidakpastian. Gangguan rantai pasok masih terjadi," kata dia. 


×