Warga dibantu personel TNI membersihkan bangunan rumahnya yang rusak di Sumur, Pandeglang, Banten, Sabtu (15/1/2022). Sebanyak 1.231 rumah dengan rincian 226 rusak berat, 290 rusak sedang, 715 rusak ringan, dan 14 puskesmas di tiga daerah di Banten rusak | ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Nasional

17 Jan 2022, 03:45 WIB

Frekuensi Gempa Susulan di Banten Menurun

Selain frekuensi, kekuatan gempa susulan di Banten juga menurun.

JAKARTA -- Kepala Badan Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, terdapat 39 kali gempa susulan usai gempa utama magnitudo 6,6 mengguncang Banten pada Jumat (14/1) lalu. Setelah dua hari berselang, frekuensi gempa susulan itu perlahan menurun.

Daryono menjelaskan, 39 gempa susulan itu tercatat sejak gempa utama terjadi Jumat pukul 16.05 WIB hingga hari ini (16/1) pukul 03.39 WIB. Dari 39 gempa susulan itu, hanya lima di antaranya yang guncangannya terasa.

"Susulan terbesar berkekuatan 5,7 magnitudo," kata Daryono ketika dikonfirmasi, Ahad (16/1).

Daryono memerinci rentetan gempa susulan itu. Sebanyak 16 gempa susulan terjadi Jumat antara pukul 16.05 WIB hingga 21.59 WIB. Sebanyak 10 gempa susulan terjadi pada Jumat pukul 22.00 WIB hingga Sabtu (15/1) pukul 03.39 WIB. Lalu, tujuh gempa susulan pada Sabtu pukul 4.00 WIB sampai 09.59 WIB.

Setelahnya gempa susulan konstan terjadi sebanyak dua kali setiap enam jam hingga Ahad pukul 03.59 WIB. Lalu pada Ahad pukul 04.00 WIB sampai 08.30 WIB sudah tidak ada lagi gempa susulan.

"Tampak tren frekuensi kejadian gempa susulan sudah meluruh. Semoga segera stabil dan normal kembali," kata Daryono.

Daryono menjelaskan, secara umum, gempa susulan memang polanya semakin lama semakin menurun dan habis. Tetapi, tak tertutup kemungkinan gempa susulan kembali terjadi.

"Iya (polanya semakin lama semakin turun), tapi kita kan tidak tahu apa nanti muncul lagi atau tidak," ujarnya.

Untuk diketahui, gempa utama yang melanda Banten berpusat sekitar 52 km barat daya Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Gempa ini berdampak pada Kabupaten Pandeglang sebagai yang terparah, lalu Lebak, Serang, dan Tangerang.

photo
Petugas sekolah melihat kondisi ruang kelas yang rusak akibat gempa di SDN Kerta Mukti, Sumur, Pandeglang, Banten, Sabtu (15/1/2022). BPBD Provinsi Banten mencatat sebanyak 25 bangunan sekolah rusak akibat gempa berkekuatan 6,7 SR yang terjadi pada Jumat (14/1) sehingga sebagian kegiatan belajar mengajar (KBM) terpaksa diliburkan. - (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten Nana Suryana mengatakan, dua hari pascagempa, warga terdampak sudah tidak ada lagi di tenda pengungsian. Di sisi lain, jumlah rumah yang rusak mencapai 1.741 unit.

Nana menjelaskan, semua warga terdampak di empat kabupaten telah meninggalkan posko pengungsian. "Pengungsi tidak ada (karena) sudah kembali ke rumah masing-masing, atau ke rumah tetangga/keluarga terdekat bagai warga yang rumahnya rusak berat," kata Nana kepada Republika, Ahad (16/1).

Nana tak menyebutkan berapa banyak warga yang sebelumnya sempat mengungsi akibat gempa bumi berkekuatan 6,6 magnitudo pada Jumat (14/1) itu. Dia hanya bilang bahwa gempa tersebut mengakibatkan dua warga Kabupaten Lebak mengalami luka ringan. "Sedangkan korban jiwa tidak ada," ujarnya.

Dia menyebut kondisi di lokasi terdampak kini sudah berangsur kondusif. Tetapi, dia tetap meminta masyarakat untuk waspada.

Nana menjelaskan, gempa yang berpusat sekitar 52 km barat daya Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang itu berdampak terhadap empat kabupaten. Mulai dari Kabupaten Pandeglang sebagai yang terparah, lalu Lebak, Serang, dan Tangerang.

Secara keseluruhan, kata dia, gempa itu mengakibatkan 1.741 rumah rusak. Rumah yang rusak mayoritas berada di Kabupaten Pandeglang, yakni 1.543 unit. "Dari keseluruhan rumah yang rusak di empat kabupaten, sebanyak 300 di antaranya rusak berat dan 416 rumah rusak sedang," kata Nana.

Terdapat pula 20 sekolah, 14 puskesmas, dan sembilan fasilitas ibadah yang rusak. Kerusakan lainnya terjadi pada empat kantor pemerintahan dan tiga tempat usaha. Nana menambahkan, berbagai bantuan sudah diterima warga terdampak. Bantuan salah satunya datang dari Kementerian Sosial.

Kemensos diketahui mengirimkan bantuan berupa makanan siap saji sebanyak 1.200 paket, air minum kemasan 100 dus, selimut sebanyak 200 lembar, tenda gulung 300 lembar, kasur 200 lembar, tenda 6 unit, matras 200 lembar, popok bayi 200 paket, pembalut wanita 300 pak, tenda keluarga 50 unit, dan genset. Bantuan dikirim pada Sabtu (15/1) malam.

photo
Warga melihat kondisi rumah yang rusak akibat gempa di Kadu Agung Timur, Lebak, Banten, Jumat (14/1/2022). - ( ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.)

Pada Sabtu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto melakukan peninjauan lokasi terdampak gempa di wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten. Dalam peninjauan di lokasi tersebut, Suharyanto melihat kondisi gedung fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan khususnya di bagian langit-langit dan beberapa dinding retak di lantai dua.

Suharyanto berharap agar kerusakan tersebut dapat segera diperbaiki sehingga pelayanan kesehatan masyarakat dapat segera dilakukan. Tentunya perbaikan tersebut harus lebih baik dan memperhatikan faktor keamananan dari guncangan gempabumi. “Kami berharap dapat segera dibenahi, agar pelayanan kesehatan masyarakat dapat dilaksanakan,” jelas Suharyanto. 


×