Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

16 Jan 2022, 06:53 WIB

Eijkman dan Kisah Kepala yang Diduga Dipengggal Jepang

Pada awal Juli 1945, isu yang beredar, Prof Mochtar dipenggal oleh tentara Jepang.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Pada pertengahan Januari 1945, Prof Djoehana Wiradikarta dibebaskan dari penjara tentara pendudukan Jepang setelah menjalani penahanan selama 3,5 bulan. “Ia dibebaskan dalam kondisi mengenaskan,” tulis sang anak, Akky Djoehana, yang dimuat di NRC Handelsblad edisi 16 Agustus 1985.

Namun, kolega Prof Djoehana, Prof dr A Mochtar, tidak selamat. Pada awal Juli 1945, isu yang beredar, Prof Mochtar dipenggal oleh tentara Jepang. Prof Mochtar adalah kepala Lembaga Eijkman di Batavia.

Bersama Mochtar, ditangkap pula Prof Djoehana dan dua orang dokter dan beberapa analis di Lembaga Eijkman. Lembaga Eijkman yang kantornya satu kompleks dengan Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ, kini RSCM) merupakan laboratorium patologi anatomi dan bakteriologi.

Selain itu, ditangkap pula Prof Asikin dari CBZ, Kepala Dinas Kesehatan drg Marzuki, dan beberapa dokter lainnya. Jumlah yang ditangkap ada 15 orang. Mengapa mereka ditangkap?

Mula kata adalah adanya wabah yang menimpa para pekerja romusha di Klender. CBZ lalu menurunkan tenaganya untuk melakukan penyelidikan medis. CBZ menyimpulkan, gejala yang dialami para pekerja romusha itu merupakan karakteristik infeksi tetanus. Mereka yang jatuh sakit, sebelumnya telah divaksinasi disentri, tifus, dan kolera.

Namun, Jepang kemudian menangkapi tenaga medis Indonesia di CBZ itu dan Ketua Lembaga Eijkman Prof Mochtar beserta stafnya. Saat itu, Lembaga Eijkman-lah yang memegang urusan vaksin. “Mereka didakwa melakukan konspirasi pro-Sekutu dan menyabotase bahan vaksin yang digunakan,” tulis Akky Djoehana.

 
Mereka didakwa melakukan konspirasi pro-Sekutu dan menyabotase bahan vaksin yang digunakan
 
 

Tentu saja, itu dakwaan yang aneh. Sebab, produksi vaksin adalah tanggung jawab Institut Pasteur, Bandung, yang ada di bawah pengawasan Jepang. Sedangkan, mereka yang ditangkap itu tak mempunyai akses ke produksi vaksin. Di Institut Pasteur itu tak ada tenaga spesialis orang Indonesia.

Akky Djoehana pada 1980-an berusaha menguak kasus ini dengan mewawancarai mereka yang dulu ditahan Jepang dalam kasus “Drama Kedokteran Terbesar” itu. Kasus yang menimpa Prof Mochtar dan kawan-kawan tidak sendirian.

Di Pontianak, ribuan orang tak berdosa juga dibunuh Jepang dengan alasan konspirasi yang sama sekali tidak berdasar. Ada 1.342 orang dibunuh Jepang pada akhir 1943 dan lebih dari 1.200 orang dibunuh Jepang pada 1944. Selama pendudukan Jepang, ada 270 ribu orang Indonesia yang dijadikan sebagai pekerja romusha, tapi hanya sekitar 70 ribu yang kembali.

Dalam kasus “Drama Kedokteran Terbesar”, Prof Mochtar sampai akhirnya menerima hukuman mati dari Jepang setelah ia menandatangani “pengakuan” yang disiapkan Jepang. Kesediaan dia menandatangani “pengakuan” itu didasari harapan bisa menyelamatkan kolega-kolega dia yang ditahan.

Ketika mereka dibebaskan, tak ada penjelasan dari pihak Jepang tentang alasan penahanan terhadap mereka. Kasus ini saat itu mendapat protes dari mahasiswa kedokteran dan para dosen.

Sebelumnya, belum pernah terdengar kasus muncul wabah akibat vaksinasi. Yang ada justru vaksinasi dilakukan untuk menghentikan wabah, seperti saat muncul wabah pes, kolera, dan flu Spanyol di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

 
Pes merupakan wabah yang paling lama di Hindia Belanda. Wabah yang juga terjadi di negara-negara lain itu juga menimpa Belanda.
 
 

Pes merupakan wabah yang paling lama di Hindia Belanda. Wabah yang juga terjadi di negara-negara lain itu juga menimpa Belanda. Wabah muncul tiba-tiba dan berhenti tiba-tiba pula, seperti kasus-kasus tertentu yang terjadi di Tanah Air saat ini selama wabah Covid-19.

Tiba-tiba pasien membeludak, sehingga rumah sakit penuh, dan tiba-tiba mereda sehingga rumah sakit kosong.

Pada 17 Juni 1911, Kongres Kesehatan di Rotterdam, Belanda, juga membahas wabah pes itu. Ada Prof C Eijkman yang berbicara di kongres itu. “Menurut Prof Eijkman, akhir yang tiba-tiba ini tidak boleh dikaitkan dengan tindakan pengendalian yang dilakukan manusia,” tulis De Telegraaf, 18 Juni 1911.

Eijkman inilah yang kemudian namanya diabadikan sebagai nama Lembaga Eijkman mulai 15 Januari 1938, menggantikan nama Laboratorium Medis yang dibuat sejak awal abad ke-20 di kompleks CBZ. Penggantian nama itu berbarengan dengan renovasi gedung Laboratorium Medis. Sekitar 40 ribu gulden dari anggaran Laboratorium Medis pada 1938 disisihkan untuk renovasi gedung.

Dengan renovasi ini, Lembaga Eijkman nantinya mempunyai laboratorium yang lebih luas. Saat itu, laboratorium yang dimilikinya sangat kecil, sehingga hewan sakit dan hewan sehat yang diuji ada dalam satu tempat.

Beruntung, tak muncul wabah baru dari kondisi laboratorium seperti itu. Setelah renovasi, hewan sakit dan hewan sehat yang diuji akan memiliki tempat yang terpisah.

Di Hindia Belanda, pes dipahami berasal dari tikus. Kutu tikus kemudian menggigit manusia. Tikus banyak berdiam di atap rumah atau di sela dinding bambu dan juga di dipan-dipan bambu.

Ketika tikus mati, kutu tikus akan berpindah ke tikus lain atau ke manusia. Sehingga, bongkar rumah untuk memburu tikus menjadi salah satu upaya memutus rantai wabah. Vaksin pes baru ditemukan di Hindia Belanda oleh dokter Otten pada dekade 1930-an setelah wabah pes berlangsung puluhan tahun.

Di Belanda, menurut laporan De Telegraaf tentang Kongres Kesehatan itu, pemahaman pes berasal dari tikus, sempat memunculkan keraguan. Sebab wabah masa lalu di Eropa biasanya berasal dari binatang lain seperti sapi, unggas, dan hewan piaraan lainnya yang menular ke manusia melalui saluran pernapasan. Lukisan-lukisan tua memperlihatkan hal itu, yaitu gambar manusia yang menutup hidung dan mulut dengan tangan mereka agar terhindar dari wabah.


×