ILUSTRASI Masjid Nabawi di Madinah. Sesudah hijrah, seorang menantu Rasulullah SAW akhirnya mantap memeluk Islam. | DOK PXHERE

Tema Utama

16 Jan 2022, 05:51 WIB

Pembesar Para Tabiin

Said bin al-Musayyib merupakan yang paling berpengaruh di antara Tujuh Fuqaha Madinah.

OLEH HASANUL RIZQA

Cahaya ilmu dan agama Islam yang bermula sejak Nabi Muhammad SAW terus memancar, dari generasi ke generasi. Rasulullah SAW tatkala masih membersamai kaum Muslimin sudah memikirkan dan menerapkan diseminasi pendidikan.

Terutama setelah peristiwa Pembebasan Makkah (Fathu Makkah), pengutusan sahabat-sahabat Nabi SAW kian gencar dilakukan. Banyak di antaranya yang menjadi dai di kota-kota yang jauh.

Sesudah Rasul SAW wafat, mereka terus mengajarkan Alquran dan Sunnah kepada masyarakat lokal. Bermukimnya kalangan sahabat itu di kota-kota yang berlainan lantas menimbulkan pemikiran hukum Islam atau fikih yang berbeda-beda pula.

Di Makkah dan Madinah, misalnya, timbul mazhab Hijazi. Di Damaskus, tumbuh pula Mazhab Syami. Begitu pun dengan Irak, para sahabat yang berdakwah di sana mengembangkan Mazhab Iraqi.

Ilmu yang mereka ajarkan lalu diteruskan oleh para muridnya, yakni generasi tabiin. Para tabiin lalu mengembangkan ijtihad hukum tersendiri untuk berbagai masalah yang dihadapi di lokalitas masing-masing.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Dari generasi tabiin, terdapat seorang alim yang fenomenal. Nama lengkapnya ialah Said bin al-Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb. Ibnu al-Musayyib, itulah panggilan akrabnya walaupun tidak sedikit buku biografi tentangnya menyebutnya sebagai Ibnu al-Musayyab. Abu Muhammad juga menjadi sapaan hangat baginya.

Seperti tokoh ahli ilmu dari Madinah, dirinya mendapat pengaruh yang kuat dari para sahabat besar setempat, terutama Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abdullah bin Umar, ummul mu`minin ‘Aisyah binti Abubakar, serta sekretaris Nabi SAW, Zaid bin Tsabit. Sesudah mereka berpulang ke rahmatullah, syiar Islam di wilayah mazhab Hijazi dilanjutkan oleh para tabiin, termasuk Ibnu al-Musayyib.

Said bin al-Musayyib termasuk ke dalam jajaran Tujuh Fuqaha Madinah. Adapun enam nama selainnya ialah al-Qasim bin Muhammad dan Urwah bin Zubair—keduanya merupakan cucu Abu Bakar ash-Shiddiq. Di samping itu, maula ummul mu'minin Maimunah, yakni Sulaiman bin Yasar. Kemudian, ada putra Zaid bin Tsabit, yaitu Kharijah bin Zaid. Adapun sisanya ialah Ubaidillah bin Abdullah dan Abu Bakar bin Abdurrahman.

Di antara semua fuqaha kenamaan itu, Said bin al-Musayyib sering kali dianggap sebagai yang paling berpengaruh. Bahkan, Ibnu al-Musayyib disebut sebagai Pembesar Para Tabiin. Hal itu disebabkan kedalaman ilmu yang dimiliki sosok dari suku Quraisy tersebut. Al-Qasim bin Muhammad pernah berkata kepada muridnya, “Ikutilah pendapat Said bin al-Musayyib karena dialah guru dan pembesar kami.”

photo
ILUSTRASI Masjid Nabawi di Madinah. Sesudah hijrah, seorang menantu Rasulullah SAW akhirnya mantap memeluk Islam. - (DOK PXHERE)

Kalangan sejarawan berbeda pendapat mengenai tahun kelahirannya. Adz-Dzahabi menyatakan, Said bin al-Musayyib lahir ketika dua tahun pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab berlangsung. Namun, riwayat lain menyebutkan, sang alim dilahirkan dua tahun sebelum era amirul mukminin tersebut.

Menurut Syekh Ahmad Farid dalam buku 60 Biografi Ulama Salaf, Ibnu al-Musayyib memiliki sifat-sifat yang utama sebagai seorang alim. Tokoh tersebut sangat kuat dalam menghafal Alquran maupun hadis-hadis Nabi SAW.

Ia pun cerdas, berhati-hati (warak), serta berani memperjuangkan kebenaran. Seorang sahabat Rasul, Abdullah bin Umar, memuji budi pekertinya, “Seandainya Rasulullah SAW melihatnya, niscaya beliau akan merasa senang.”

Seperti namanya, Sa’id yang berarti ‘bahagia’, ulama kelahiran Kota Nabi itu selalu merasa bahagia apabila tetap dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Salah satu manifestasi takwa yang teguh dilakukan menantu Abu Hurairah itu hingga akhir hayatnya ialah menuntut ilmu-ilmu agama.

Dalam kitab Ats-Tsiqat, Ibnu Hibban mengenang Ibnu al-Musayyib, “Ia termasuk pembesar tabiin karena kefakihan, kewarakan, ibadah dan kemuliaannya. Ia merupakan ulama fikih yang paling terkenal di negeri Hijaz, dan yang paling bisa diterima pendapatnya oleh khalayak umum.”

Konsistensinya dalam memuliakan ilmu Islam ditunjukkan selalu. Karena itu, tidak sedikit pun rasa gentar dialaminya walaupun di hadapan penguasa. Umpamanya, ketika Dinasti Umayyah berkuasa.

Ibnu al-Musayyib tidak mau keluar dari majelis ilmu atau masjid jika hanya untuk memenuhi panggilan Khalifah Abdul Malik bin Marwan atau putranya, Khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Saat keduanya berkuasa, sang alim pernah dipenjara dan disiksa karena tidak mau tunduk pada kemauan rezim yang zalim.

photo
ILUSTRASI Gambar kaligrafi Nabi Muhammad SAW. Biografi tentang Rasulullah SAW disebut sebagai Sirah Nabawiyah. - (dok piqsels)

Lintas zaman

Said bin al-Musayyib hidup di zaman tiga khalifah khulafaur rasyidin, yakni Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dari ketiganya, ia pun mendapatkan banyak hadis Nabi SAW. Lebih lanjut, dirinya pun menerima banyak keterangan tentang sunnah dari sahabat Rasul yang akhirnya menjadi mertuanya, yakni Abu Hurairah.

Imam Syafii memandang hadis-hadis mursal yang berasal dari Ibnu al-Musayyib sebagai hadis hasan. Bahkan, tidak sedikit pakar fikih dari abad ketiga Hijriyah menilai semua hadis yang diriwayatkan oleh ulama tersebut sahih adanya. Imam Hambali menegaskan, “Kalaulah riwayat Said dari Umar bin Khattab tidak diterima, siapa lagi yang dapat diterima?”

Ibnu al-Musayyib merasakan langsung penerapan syariat pada masa Khalifah Umar. Tidak hanya itu, ia pun mencermati dan menghafalkan kebijakan-kebijakan al-Faruq yang berkaitan dengan urusan umat dan agama. Karena itu, ulama dari kelompok tabiin tersebut kerap dijuluki sebagai Periwayat Umar atau Rawiyatul ‘Umar.

Sejak menapaki usia baligh, Ibnu al-Musayyib telah bertekad untuk menjadi pembelajar ilmu-ilmu agama. Ia berguru kepada banyak sahabat Nabi SAW. Beberapa di antaranya ialah Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar.

Di samping itu, dia juga menimba ilmu dari para istri Rasul SAW, seperti Sayyidah ‘Aisyah dan Ummu Salamah. Guru-gurunya yang lain ialah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abu Dzar al-Ghifari, Zaid bin Tsabit, Shuhaib, Muhammad bin Maslamah, dan Abu Hurairah.

Begitu menjadi seorang pemuka agama Islam di Madinah, Ibnu al-Musayyib menggelar majelis ilmu. Forum yang dipimpinnya selalu dihadiri banyak jamaah. Di antara murid-muridnya ialah Ibnu Syihab al-Zuhri, Salim bin Abdullah bin Umar, Abu Zinad, Sa’ad bin Ibrahim, Amr bin Murah, Abu Ja’far al-Baqir, dan Urwah bin Zubair. Ibnu Syihab kelak memiliki murid yang bernama Imam Malik, yang akhirnya menjadi guru bagi Imam Syafii.

Hingga wafatnya pada tahun 94 Hijriyah, Ibnu al-Musayyib selalu menjadi rujukan kaum Muslimin, terutama yang ingin mendapatkan fatwa dari Ahlul Madinah. Hidup melintasi zaman tiga orang khulafaur rasyidin, ia sangat memahami perkara-perkara ijtihad yang dilakukan para khalifah serta sahabat Nabi SAW.

Perannya dalam membimbing umat kian terasa sesudah satu per satu sahabat Rasul berpulang ke rahmatullah, baik akibat faktor usia, sakit, maupun gugur di pertempuran. Sepeninggalan mereka, kaum Muslimin mendapatkan pemahaman keislaman dari Ibnu al-Musayyib. Fatwanya diterima tidak hanya oleh penduduk Madinah atau Hijaz, melainkan juga seluruh kawasan dunia Islam.

Penakwil mimpi

Tidak hanya ahli dalam bidang ilmu hadis atau fikih, Said bin al-Musayyib juga masyhur sebagai seorang penakwil mimpi. Keahliannya itu dijelaskan oleh adz-Dzahabi. Menurutnya, “Said bin al-Musayyib adalah orang yang paling berkompeten dalam menafsirkan mimpi. Said mempelajari (takwil mimpi) dari Asma binti Abu Bakar. Adapun Asma sendiri mempelajari hal itu dari ayahnya.”

Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat menuturkan beberapa penafsiran mimpi yang dilakukan Ibnu al-Musayyib. Seseorang mengaku pernah mimpi bertemu dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Lantas, dalam mimpinya itu lelaki tersebut mendorong sang khalifah hingga tersungkur ke tanah dan melukainya. Penguasa tersebut kemudian diikat dengan tali sebanyak empat ikatan.

Said bin al-Musayyib lalu berkata, “Aku tidak akan memberitahukannya (tafsiran mimpi itu) kepadamu walaupun engkau telah memberitahukan perihal mimpi ini kepadaku.” Selang beberapa waktu kemudian, Ibnu Zubair juga mengaku bermimpi yang persis seperti mimpi si lelaki tersebut.

Akhirnya, Ibnu al-Musayyib mengungkapkan takwilnya. “Jika memang mimpinya benar seperti apa yang engkau utarakan, maka Ibnu Zubair akan dibunuh oleh Abdul Malik bin Marwan. Adapun Abdul Malik sendiri akan melahirkan empat orang putra yang semuanya kelak menjadi khalifah.” Ketika tafsiran mimpi itu sampai ke telinga Abdul Malik, raja dari Dinasti Umayyah itu sangat senang.

Cucu Rasulullah SAW, Hasan bin Ali, pernah bermimpi, seolah-olah terdapat tulisan “Qul Huwallahu Ahad” pada kedua matanya. Lantas, cerita tentang mimpi itu disampaikan kepada Ibnu al-Musayyib.

Sang alim pembesar tabiin itu berkata, “Jika memang mimpinya benar seperti yang diceritakan itu, katakanlah kepadanya (Hasan) bahwa dirinya tidak akan hidup lebih lama lagi.” Benar saja, beberapa hari sesudah mengalami mimpi itu saudara Husain bin Ali tersebut meninggal dunia.

photo
ILUSTRASI Kubah hijau pada Masjid Nabawi menandakan letak makam Baginda Nabi Muhammad SAW. Sirah Nabawiyah kian berkembang seiring dengan pembukuan hadis. - (DOK PXHERE)

Memilih Akhirat daripada Dunia

Said bin al-Musayyib mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada kaum Muslimin tidak hanya melalui lisan, tetapi juga perbuatan. Ia memberikan contoh teladan dalam hal ketaatan kepada Allah SWT.

Ahmad Farid dalam buku 60 Biografi Ulama Salaf menjelaskan, Ibnu al-Musayyib gemar berpuasa sunah. Selama 40 tahun, ia tidak pernah ketinggalan melakukan takbir pertama di Masjid Nabawi. Tidak pernah dirinya melihat punggung orang dalam shalatnya—yakni menjadi makmum masbuk—lantaran komitmennya untuk selalu mengisi shaf pertama.

Dengan reputasinya yang tinggi, wajar apabila namanya menjadi incaran penguasa. Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah berencana menikahkan seorang putranya dengan putri Ibnu al-Musayyib. Namun, ulama besar Madinah itu menolaknya.

Bukan putra raja. Sang alim justru menikahkan putrinya dengan seorang warga biasa dari keluarga yang serba berkekurangan. Keputusan itu diambil hanya karena dirinya lebih mementingkan aspek ukhrawi ketimbang duniawi.

Lelaki yang beruntung itu bernama Abu Wada’ah. Ia merupakan seorang murid Ibnu al-Musayyib. Nyaris tidak pernah dirinya lalai dari menghadiri halakah keilmuan yang digelar sang fakih.

Dikatakan “nyaris” karena pernah berhari-hari Abu Wada’ah absen dari majelis ilmu yang dipimpin Ibnu al-Musayyib. Majelis yang dipimpin ulama tersebut selalu penuh sesak oleh hadirin. Bagaimanapun, ulama yang akrab disapa Abu Muhammad itu tetap menyadari ketiadaan muridnya itu.

Maka, sesudah halakah usai Ibnu al-Musayyib bertanya kepada beberapa orang berita tentang Abu Wada’ah. Mereka tidak mengetahui apa-apa. Hingga akhirnya, Abu Wada’ah bisa kembali menghadiri majelis ilmu.

Begitu melihatnya, Ibnu al-Musayyib langsung memberi salam, dan bertanya, “Ke mana saja engkau?”

“Istriku meninggal sehingga aku sibuk mengurusnya, ya Syekh,” jawab sang murid.

Sesudah majelis selesai, sang syekh memanggil lagi muridnya itu. “Apakah engkau sudah berpikir untuk menikah lagi, wahai Abu Wada’ah?”

“Semoga Allah merahmati Tuan. Siapa orang tua yang bersedia menikahkan putrinya denganku? Aku hanyalah lelaki yang hidup serba pas-pasan. Hartaku tidak lebih dari dua atau tiga dirham saja,” ujar Abu Wada’ah.

“Dengar, aku akan menikahkan engkau dengan putriku,” kata ulama tersebut.

Betapa terkejutnya Abu Wada’ah mendengar penuturan gurunya itu. Singkat cerita, akhirnya berlangsung pernikahan antara putri Ibnu al-Musayyib dan duda miskin tersebut. Suatu ketika, ulama tersebut ditanya perihal alasannya tidak menjodohkan putrinya dengan putra Khalifah.

“Bagaimana menurut kalian kalau, misalnya, putriku pindah ke istana Umayah lalu bergelimang harta di atas ranjang dan perabotnya? Dayang-dayang mengelilingi di sisi kanan dan kirinya sehingga ia memandang diri sebagai istri raja? Bagaimana kira-kira keteguhan agamanya nanti?” terang Ibnu al-Musayyib, menyiratkan kekhawatiran bahwa putrinya akan terpengaruh fitnah dunia apabila menjadi bagian dari Istana.


Pelita Ilmu Masa Tabiin

Rasulullah SAW menegaskan dirinya sebagai guru bagi umat manusia.

SELENGKAPNYA
×