Cover Islam Digest edisi Ahad 9 Januari 2022. Pelita Ilmu Masa Tabiin. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

16 Jan 2022, 04:39 WIB

Pelita Ilmu Masa Tabiin

Rasulullah SAW menegaskan dirinya sebagai guru bagi umat manusia.

OLEH HASANUL RIZQA

Generasi pasca-sahabat Nabi SAW memunculkan banyak penerus dakwah. Yang terkemuka di antaranya ialah Said bin al-Musayyib. Dialah tokoh ulama senior dari kelompok tabiin. 

Sepintas Ihwal Pendidikan Nabi

Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW keluar dari kamarnya untuk menuju masjid. Sesampainya di tujuan, Rasulullah SAW mendapati dua kelompok sahabat. Masing-masing duduk membentuk lingkaran.

Kumpulan yang pertama sedang membaca Alquran serta berdoa dan berzikir kepada Allah SWT. Adapun yang kedua menyelenggarakan halakah keilmuan.

Nabi SAW bersabda, “Masing-masing kelompok berada dalam kebaikan. Terhadap yang sedang membaca Alquran dan berdoa, maka Allah akan mengabulkan doa mereka jika Dia menghendaki. Begitupun sebaliknya. Doa mereka tidak akan diterima jika Dia tidak berkenan mengabulkan. Mengenai golongan yang sedang belajar dan mengajarkan ilmu, maka (ketahuilah) sesungguhnya aku pun diutus untuk menjadi seorang pengajar.”

Sesaat kemudian, beliau pun bergabung dengan para sahabatnya yang sibuk mempelajari dan mengajarkan ilmu di sana.  

Hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Majah itu menunjukkan, majelis ilmu lebih diridhai Rasulullah SAW daripada yang selainnya. Bahkan, beliau bersedia menjadi bagian dari halakah tersebut.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Sebagai seorang mualim atau guru, Nabi SAW merupakan contoh yang sempurna. Dalam mendidik kaum Muslimin, beliau menggunakan pelbagai metode yang efektif. Dengan begitu, para sahabat dapat memahami dan juga mengamalkan ilmu-ilmu agama yang disampaikan beliau secara baik.

Salah satu metode pendidikan ala Rasulullah SAW ialah bercerita atau memberikan gambaran ilustratif. Sebagai contoh, cerita Nabi SAW saat hendak mengajarkan tentang keutamaan tobat. Beliau mengilustrasikan seorang laki-laki yang kehilangan unta dan bekal di tengah gurun. Setelah sekian lama mencari-cari, pengembara itu menjadi putus asa.

Pria itu lantas bersandar pada sebuah pohon. Dalam keadaan patah-arang, pengelana ini tiba-tiba mendapati unta yang tadi dicari-carinya itu sedang berjalan mendekatinya.

Karena hatinya begitu gembira, lisannya tak sengaja berucap, “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.” Rasulullah SAW menjelaskan, Allah sangat gembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan lelaki dalam kisah tersebut.

Metode lainnya ialah menjawab pertanyaan yang diajukan para sahabat. Begitu pula sebaliknya. Nabi SAW kadang kala mengajukan pertanyaan secara retoris kepada umatnya. Dengan teknik itu, beliau menstimulus keingintahuan dan perhatian mereka. Cara tersebut pernah dialami Mu’adz bin Jabal.

Saat sedang menempuh perjalanan, Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Maukah engkau aku beri tahukan tentang pokok, tiang, dan puncak amal?” Mu’adz pun mengiyakan. Lantas, beliau meneruskan penjelasannya, “Pokok amal adalah Islam. Tiang-tiangnya adalah shalat. Puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”

Tidak hanya sampai di situ. Rasulullah SAW kembali bertanya retoris, “Maukah engkau aku beri tahu tentang kunci perkara itu semua?” Mu’adz mengangguk. Maka, beliau menyentuh lidahnya dengan ujung jari, “Jagalah ini (lisan).”

“Apakah setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban dari ucapan-ucapannya?” tanya sang sahabat.

photo
Umat Islam beribadah di area saf Raudhatun Jannah/Raudhah (Taman Surga) di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Senin (6/5/2019). Raudhah menjadi area favorit para jemaat untuk melakukan amalan ibadah kepada Allah SWT yang diyakini menjadi tempat mustajab berdoa. ANTARA FOTO/Aji Styawan/foc. - (ANTARA FOTO)

“Semoga engkau selamat. Tidaklah manusia dicampakkan ke dalam neraka dengan cara diseret pada wajahnya atau dahinya kecuali disebabkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh mulut mereka,” sabda Rasul SAW.

Di samping berkisah atau tanya-jawab, beliau juga menggunakan pengajaran yang variatif. Metode tersebut dilakukan untuk menghindari rasa bosan yang mungkin saja muncul dari rutinitas. Selain itu, cara berselang-seling juga berfungsi membuat para pendengar lebih terkesan.

Menurut kesaksian Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW memilih hari-hari tertentu untuk menyampaikan mau’idzah kepada para sahabat. “Sebab, beliau khawatir kami merasa bosan,” kata Ibnu Mas’ud. Mau’idzah itu dapat diartikan sebagai ceramah atau nasihat yang berisi peringatan kepada umat.

Rasulullah SAW juga memberikan keteladanan tentang pendidikan yang berempati. Karena itu, pengajaran yang beliau berikan mudah dipahami oleh umatnya sekalipun mereka memiliki daya tangkap yang berbeda-beda. Misalnya ketika beliau menghadapi seorang penggembala dari golongan Arab Badui yang mempertanyakan keadaan anaknya.

Putra lelaki itu lahir dengan warna kulit gelap, sedangkan kulitnya sendiri lebih terang. Nabi SAW kemudian mengajukan contoh yang mudah dipahami lawan bicaranya, yakni unta. “Apakah engkau memiliki unta?” tanya beliau.

“Ya,” jawab lelaki tersebut.

“Apa saja warnanya?”

“Merah,” jawabnya.

“Apakah ada wana abu-abu pada kulit unta milikmu itu?” tanya beliau lagi.

“Ya.”

“Mengapa bisa begitu?” selidik Nabi SAW.

“Warna itu didapatkan dari ras lain,” jawab si Arab Badui.

“Sepertinya (hitamnya anakmu) itu adalah tanda lahir yang dibawa dari garis istrimu,” terang Rasul.

Generasi emas

Dalam buku Sejarah Sosial Pendidikan Islam (2021) dijelaskan, perkembangan pendidikan pada zaman Nabi Muhammad SAW dapat dipilah menjadi dua, yakni fase Makkah dan Madinah. Periode Makkah merupakan awal turunnya wahyu pertama.

Pada masa itu, beliau masih melakukan dakwah atau pengajaran secara sembunyi-sembunyi. Maka mula-mula, Rasulullah SAW mendidik keluarganya, termasuk istri, anak-anak, serta sepupu dan pamannya. Begitu pula dengan orang-orang terdekatnya, semisal anak angkat atau sejumlah sahabat karibnya.

Masih pada fase Makkah, setelah tiga tahun berlangsung klandestin proses pendidikan dari Nabi SAW pun beralih kepada cara terang-terangan. Langkah itu diambil setelah beliau menerima wahyu dari Allah yang menginstruksikannya untuk mengabarkan ajaran tauhid kepada khalayak luas. Mulai saat itulah, beliau menghadapi pertentangan yang lebih frontal dari mereka yang memusuhi Islam.

Adapun fase Madinah dimulai dengan hijrahnya Nabi SAW dari kota kelahirannya ke Madinah—yang kala itu masih bernama Yastrib. Sejak itu, Islam memperoleh lingkungan baru yang lebih bebas dari penindasan kelompok musyrikin. Ayat-ayat Alquran yang turun dalam periode ini banyak mengajarkan tentang penerapan syariat dalam kehidupan sehari-hari.

Kebijakan Rasulullah SAW dalam mengajarkan Alquran, antara lain, ialah menganjurkan para sahabat untuk menghafalkan Kalamullah. Bahkan, beberapa Muslimin yang cakap literasi diarahkan untuk menuliskan ayat-ayat kitab suci, sebagaimana yang diajarkan beliau.

Pada waktu fase Makkah dahulu, proses belajar-mengajar berlangsung di rumah sejumlah Muslim yang aman dari gangguan kafir Quraisy. Begitu hijrah ke Madinah, Nabi SAW memusatkan kegiatan edukatifnya di masjid. Majelis yang diadakan beliau selalu diikuti kaum Muslimin dengan penuh antusias.

photo
RaudhahJamaah Haji asal Turki memotret Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah. Jamaah harus bergiliran untuk bisa berdoa ditempat yang mustajab doa ini - (Yogi Ardhi)

Pendidikan yang dilakukan Rasul SAW memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang Alquran, Sunnah, dan hikmah, baik melalui lisan maupun perbuatan. Semua yang disampaikan Rasulullah SAW adalah kebenaran. Tidak pernah sekalipun beliau menyampaikan apa-apa yang tidak diwahyukan oleh Allah kepadanya. Beliau selalu bersifat benar (shiddiq), tepercaya (amanah), komunikatif (tabligh), dan cerdas (fathonah) secara paripurna.

Maka dari itu, pendidikan ala Nabi SAW menghasilkan kaum Muslimin yang berakidah kuat serta tangguh dalam menyebarkan ilmu-ilmu agama. Para sahabat menjadi generasi emas dalam sejarah Islam. Beliau sendiri mengakuinya, “Yang terbaik dari kalian (umat Islam) adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabiin), kemudian orang-orang setelah mereka (at-tabiit taabi’in).”

Pendidikan Islam yang tumbuh pada zaman Nabi SAW diteruskan oleh generasi sahabat, khususnya mereka yang menjadi amirul mukminin selama era khulafaur rasyidin. Dalam buku Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam (2019) ditegaskan, Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama menjadikan pendidikan sebagai tameng untuk mempertahankan akidah umat.

Tonggak penting yang bermula pada era Khalifah Abu Bakar ialah pengumpulan mushaf Alquran. Walaupun pembukuan Alquran baru tuntas dikerjakan pada era Khalifah Utsman, kepemimpinan Abu Bakar sangat mendukung perkembangan pendidikan yang qurani.

photo
ILUSTRASI Masjid Nabawi di Madinah menjadi tempat Rasulullah SAW mendidik para sahabat. - (DOK ANTARA SAPTONO)

Di antara alasannya ialah, sang amirul mukminin menggencarkan pengiriman dai-dai ke pelbagai pelosok wilayah Islam. Di samping itu, ia pun berupaya menjaga situasi kondusif negara, semisal dengan cara memadamkan pemberontakan yang dicetuskan para penolak zakat atau golongan yang dipimpin nabi palsu.

Hingga era Khalifah Umar bin Khattab, keadaan cenderung membaik. Wilayah daulah Islam terus meluas hingga menguasai beberapa wilayah bekas Bizantium dan bahkan seluruh Persia. Sahabat bergelar al-Faruq itu juga membangun kota-kota baru di Irak. Banyak di antaranya yang menjadi kota-kota pendidikan, semisal Basrah atau Kufah. Seperti halnya Makkah atau Madinah, dari sana pula bermunculan para alim ulama kenamaan.

Memasuki era Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, umat mulai dilanda prahara. Berawal dari gugurnya sang khalifah ketiga, kaum Muslimin diuji oleh perpecahan politik. Kubu Ali berhadap-hadapan dengan ummul mu'minin 'Aisyah di Perang Jamal walaupun pada akhirnya kedua belah pihak menghindari konflik lebih lanjut. Yang lebih berkepanjangan ialah konfrontasi antara para pendukung Ali dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Praktis, pemerintahan Ali tidak sempat untuk memikirkan secara serius perkembangan pendidikan Islam yang diselenggarakan negara. Kondisi politik yang jauh dari stabilitas menjadi penyebabnya.

Bagaimanapun, kaum terpelajar Muslim secara swadaya terus menghidupkan semangat menuntut ilmu-ilmu agama. Hasilnya, generasi yang datang sesudah sahabat Nabi SAW pun tetap memunculkan ulama-ulama besar. Salah satunya yang berasal dari kelompok tabiin ialah Said bin al-Musayyib.


Pembesar Para Tabiin

Said bin al-Musayyib merupakan yang paling berpengaruh di antara Tujuh Fuqaha Madinah.

SELENGKAPNYA
×