Suasana saat pekerja beraktivitas di tempat penumpukan sementara batu bara, Muarojambi, Jambi, Rabu (1/7/2020). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat volume ekspor batu bara Indonesia periode Januari - Mei 2020 turun 10 persen dibandi | Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO

Ekonomi

13 Jan 2022, 08:52 WIB

ESDM Tunggu Kepastian Pasokan Batu Bara

Pasokan batu bara untuk PLN juga sudah membaik.

JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan, larangan ekspor batu bara belum dibuka. Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan, ekspor komoditas tambang itu baru akan diizinkan kembali apabila PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara resmi sudah menyatakan stok di pembangkit aman. 

"Kami masih tunggu declare dari PLN. Kalau mereka sudah bilang aman, baru kita buka," ujar Arifin di kantor Kementerian ESDM, Rabu (12/1).

Arifin mengatakan, pihaknya juga akan memprioritaskan pemberian izin ekspor kepada perusahaan batu bara yang sudah memenuhi kewajiban memasok ke pasar dalam negeri atau domestic market obligation (DMO). Sebelumnya, Kementerian ESDM menetapkan pelarangan ekspor batu bara ke luar negeri pada 31 Desember 2021 lalu. Aturan itu berlaku mulai 1-30 Januari 2022 dengan alasan untuk mengamankan pasokan batu bara ke pembangkit listrik nasional.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaludin mengakui, PLN sudah menyatakan pasokan batu bara untuk pembangkit dalam kondisi aman. Kendati demikian, Ridwan menyebut, hal itu baru jaminan berupa kontrak. Menurutnya, hingga Selasa (11/1) malam, PLN masih menanti batu bara sampai ke pembangkit.

"Yang kita tunggu sekarang adalah pengirimannya. Yang sudah diamankan itu kontraknya, artinya volumenya. Sudah ada alokasi tapi kapalnya belum bergerak," ujar Ridwan.

Ridwan menyampaikan, pasokan batu bara untuk PLN juga sudah membaik. Berdasarkan kontrak yang ada saat ini, stok batu bara di PLN sebesar 15 hari operasi (HOP).

"Pasokan untuk PLN sudah membaik. Kebutuhan PLN yang tadinya berpotensi mematikan pembangkit sekarang sudah 15 HOP," ujar Ridwan.

Sebelumnya, PLN telah memastikan pasokan listrik di seluruh sistem kelistrikan dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Keandalan pasokan ini dapat terus terjaga selama suplai batu bara terpenuhi.

"Kami memastikan pasokan daya listrik cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik siang maupun malam hari, meskipun di beberapa daerah mengalami peningkatan konsumsi listrik seiring dengan pulihnya perekonomian nasional," kata Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN Agung Murdifi.

Agung menyebutkan, khusus di regional Jawa, Madura, dan Bali (Jamali), terjadi kenaikan beban puncak sebesar 300 megawatt (MW) dari 26,9 gigawatt (GW) menjadi 27,2 GW, sementara daya mampu pasok mencapai 28,2 GW sehingga masih terdapat cadangan sekitar 1 GW.

Namun, PLN juga masih memiliki pembangkit darurat 2,8 GW yang siap dinyalakan bila sewaktu-waktu diperlukan. "Begitu pula dengan sistem kelistrikan di luar Jamali saat ini masih dalam kondisi aman dengan cadangan yang cukup,” ujar Agung.

Intervensi pemerintah melalui kebijakan larangan ekspor batu bara telah memberikan dampak positif terhadap pasokan batu bara ke pembangkit PLN. Hingga kini, PLN telah mendapatkan komitmen pasokan dari tambang untuk menjaga keamanan produksi listrik.

Total kebutuhan batu bara untuk mencapai HOP ideal minimal 20 hari berkisar antara 16 sampai 20 juta metrik ton (MT) sesuai tingkat kesuksesan pengiriman batu bara yang dipenuhi dari kontrak reguler maupun penugasan khusus dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM.

Kebutuhan ini secara bertahap akan dipenuhi sampai dengan 31 Januari 2022. Selain itu, kebutuhan armada angkut untuk memenuhi HOP minimal 20 hari sampai dengan akhir Januari 2022 ini sebanyak 130 vessel shipment dan 711 tongkang shipment mulai terpenuhi secara bertahap dan akan segera merapat ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sesuai waktu dan lokasi yang telah ditentukan. 


×