Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

09 Jan 2022, 04:04 WIB

RI-001 Seulawah Pernah Ditembaki Pemberontak Birma

Dakota RI-001 pernah diberondong tembakan oleh pemberontak Birma yang telah menguasai lapangan udara.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Garuda Indonesia Airways (GIA) sedang mempunyai masalah keuangan. Desember 2021, pengadilan mengabulkan gugatan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sehingga memberikan ruang bagi GIA bernegosiasi dengan kreditur. Pada Januari 2022 ini GIA mengintensifkan komunikasi dengan kreditur untuk penundaan PKPU itu.

GIA dulu berdiri dengan nama Indonesian Airways yang berganti nama menjadi GIA pada awal masa pemerintahan Soeharto. Pesawat pertama yang dimilikinya adalah RI-001 Seulawah.

Hanya dalam tiga bulan, Indonesian Airways bisa membeli lagi pesawat dakota yang diberi nama RI-007. Lalu, mengoperasikan juga dakota sewaan yang diberi nama RI-009. Nama RI-008 dicadangkan untuk nama dakota yang nanti akan dibeli lagi oleh Indonesian Airways.

Dengan tiga pesawat dakota itulah Indonesian Airways beroperasi hingga menghasilkan keuntungan. Kemampuan keuangannya bahkan bisa membantu membiayai 20 kadet penerbang untuk belajar di Flying School of United Province di India.

Kemudian, membiayai dua tentara AURI sekolah di Far Eastern Aero Technical Institut di Filipina. Juga, membantu membiayai Perwakilan RI di Birma (sekarang Myanmar), India, dan Pakistan.

Untuk mendukung operasionalnya, ada kendaraan Station Wagon untuk mengangkut awak pesawat, Power Wagon untuk membawa ground crew. Ada pula Jeep Willys.

Sebuah rumah di 6 Ady Road, Birma, dikontrak untuk ditinggali 12 awak pesawat. Berkat usaha Perwakilan RI di Birma, Indonesian Airways saat itu mendapat kontrak dari militer Birma, sehingga beroperasi di Birma melayani angkutan udara untuk operasi militer Birma. Pembayarannya selalu tunai.

 
Berkat usaha Perwakilan RI di Birma, Indonesian Airways saat itu mendapat kontrak dari militer Birma.
 
 

Namun, selama beroperasi bukannya tanpa ada masalah. Dakota RI-001 pernah diberondong tembakan oleh pemberontak Birma yang telah menguasai lapangan udara. Itu terjadi pada pertengahan Januari 1949 di Lapangan Udara Mingladon. Lapangan udara ini memang sering menjadi sasaran serbuan pemberontak, sehingga banyak maskapai memindahkan operasinya ke Bangkok.

Yang dialami Dakota RI-001, saat parkir tiba-tiba dihujani mortir. Peristiwa ini tentu saja memunculkan kepanikan. Untungnya, tidak ada yang mengenai badan pesawat.

photo
Salah satu donatur pesawat pertama Indonesia Nyak Sandang mengunjungi replika pesawat RI 001 Seulawah di Blangpadang, Banda Aceh, Aceh, beberapa waktu lalu. Nyak Sandang salah seorang donatur yang memiliki bukti berupa selembar obligasi atau surat pernyataan utang dari pemerintah yang dikeluarkan tahun 1950 saat ayahnya Ibrahim bersama warga lainnya menyerahkan bantuan untuk membeli pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang merupakan cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama di Indonesia. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/aww/18. - (ANTARA FOTO)

Tetapi di kali lain, sepulang dari mengedrop perbekalan militer, Dakota RI-001 pulang dengan lubang-lubang di badan pesawat. “Tidak kurang ada pada body pesawat terdapat 11 lubang dan banyak lagi srempetan-srempetan peluru mengenai badan pesawat,” kutip buku Sejarah Perjuangan Indonesia Airways dengan RI-001 “Seulawah” yang diterbitkan oleh Dinas Sejarah TNI AU.

Lubang-lubang ditutup, keesokan harinya sudah terbang lagi. Akibat serangan pemberontak Birma pula, pesawat RI-001 Seulawah pernah mengalami rusak berat.

Pipa bahan bakar dan minyak hidraulis terkena tembakan saat mengantar seorang menteri Birma dari Rangoon ke Lokaw, sehingga pesawat kehilangan 500 liter bahan bakar. Pesawat tidak jadi mendarat, kembali ke Rangoon atas persetujuan sang menteri.

 
Akibat serangan pemberontak Birma pula, pesawat RI-001 Seulawah pernah mengalami rusak berat.
 
 

Bagaimana Indonesia yang baru merdeka saat itu bisa memiliki Dakota RI-001 Seulawah? Pesawat ini tiba di Tanah Air pada akhir Oktober 1948. Kedatangannya dilengkapi dengan sebuah mesin cadangan, minyak pelumas, aseton, tiner, dan sebagainya.

Panggalan Udara Maguwo di Yogyakarta menjadi pangkalan induk RI-001 Seulawah ini. Saat Belanda melakukan agresi militer kedua, suku cadang Seulawah menjadi sasaran rampasan militer Belanda.

Nomor registrasi RI-001 sebagai nomor VIP. Sedangkan, nama Seulawah yang berarti gunung emas diberikan untuk menghargai masyarakat Aceh yang telah menyumbang emas dan uang untuk pembelian pesawat in.

Adalah KSAU Komodor Udara S Suryadarma yang memiliki ide penggalangan dana dakota. Sebanyak 25 pesawat model (miniatur) dibuat untuk dibawa berkeliling Sumatra yang dipimpin Presiden Sukarno.

 
Sebanyak 25 pesawat model (miniatur) dibuat untuk dibawa berkeliling Sumatra yang dipimpin Presiden Sukarno.
 
 

Lampung, Bengkulu, Jambi, Pekanbaru, Bukittinggi, Tapanuli, dan Aceh menjadi daerah sasaran penggalangan dana. Presiden memberikan miniatur pesawat itu ke daerah-daerah yang dikunjungi. Saat itu, kondisi geografi Sumatra dinilai berpotensi besar untuk mendukung pengadaan pesawat.

Alam Sumatra kaya dan banyak orang Sumatra yang menjadi pedagang dan sudah berhubungan dagang dengan luar negeri. Sumatra juga sangat berpotensi untuk menyelundupkan barang dari luar negeri di tengah blokade yang dilakukan Belanda. Tanjungpinang merupakan titik yang tepat untuk melakukan penyelundupan.

Penggalangan dana ini telah membangkitkan semangat masyakarat Sumatra. Di Aceh, terbentuk panitia dana dakota saat Sukarno mengadakan pertemuan di Hotel Aceh di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada 16 Juni 1948. Namanya Panitia Dana Dakota di Aceh.

photo
Pengunjung bermain di monumen replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Aceh, Ahad (14/11/2021). Pesawat RI-001 merupakan jenis pesawat Dakota pertama sumbangan rakyat Aceh sebagai modal perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan sekaligus cikal bakal penerbangan nasional Garuda Indonesia. - (ANTARA FOTO/Ampelsa/foc.)

Dalam waktu dua hari, panitia ini berhasil mengumpulkan 130 ribu straits dollar. Opsir Udara II AURI Wiweko Supono lalu ditunjuk sebagai ketua misi pembelian dakota bekas di Singapura. Ia merupakan ahli teknik pesawat terbang.

“Pada tanggal 1 Agustus 1948, Saudara Djuned Jusuf dan beberapa orang lainnya menyusul ke Singapura dengan membawa uang dan 20 kilogram emas hasil pengumpulan dana dakota tersebut untuk diserahkan kepada Ketua Misi Pembelian Opsir Udara II Wiweko Supono.” Demikian yang ditulis di buku Sejarah Perjuangan Indonesian Airways.

Djuned Jusuf merupakan ketua Panitia Dana Dakota di Aceh. Wiweko dan timnya baru bisa menyelesaikan tugasnya setelah tiga bulan bernegosiasi.


×