TULUNGAGUNG, 9/10 - HARI SURAT MENYURAT INTERNASIONAL. Beberapa siswa Taman Kanak Kanak memasukkan surat ke kotak surat yang akan dikirim di Kantor Pos Indonesia, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (9/10). | ANTARA

Jawa Barat

31 Oct 2019, 19:50 WIB

Disdik Kota Bekasi tak Bisa Bantu TK Pegayon

Pihak sekolah tidak ingin membebankan biaya renovasi tersebut kepada wali murid.

BEKASI -- Sebagian atap gedung Taman Kanak-Kanak (TK) Pegayon, Jalan Kompleks Puri Gading Vila Besakih Blok H1 Nomor 25, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, runtuh sejak tiga bulan lalu. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi diharapkan segera membantu renovasi sekolah tersebut.

Meskipun hanya runtuh sebagian di ujung ruangan, atap gedung sekolah tersebut harus segera direnovasi agar tidak membahayakan siswa karena kondisinya sudah lapuk. Kepala Sekolah TK Pegayon Tina Taurina mengatakan, atap sekolah dibiarkan belum direnovasi karena ketiadaan biaya. "Waktu itu sempat antisipasi pakai tiang penyangga, cuma tidak ketolong juga. Takut gentengnya malah merosot,, jadi sudah disiapin saja, tunggu biar sampai ambruk sendiri," kata Tina saat dikonfirmasi, Kamis (31/10).

Karena siswa telah memulai tahun ajaran pada Juli 2019, pihaknya terpaksa menggunakan bangunan sekolah seadanya. Pada tahun ini TK Pegayon menerima 11 siswa. Karena itu, proses belajar-mengajar harus terus berjalan. "Masih tetap belajar. Tapi, belajarnya ya di luar, di teras," kata Tina.

Dia menjelaskan, kekhawatiran memang kerap muncul ketika hujan tiba, yang membuat atap makin mudah lapuk. Tina mengatakan, keadaan tersebut dapat mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. "Iya kita enggak enak saja, murid-murid konsentrasinya juga terpecah. Enggak bisa konsentrasilah, apalagi anak-anak ya," ujar Tina.

Dia mengungkapkan, pihak sekolah tidak ingin membebankan biaya renovasi tersebut kepada wali murid. Dia beralasan, rata-rata siswanya berasal dari keluarga tidak mampu. Selain itu, selama ini pihak sekolah hanya mematok biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) kepada siswanya yang jumlahnya sangat terjangkau. "Kalau SPP Rp 60 ribu dan uang pangkal Rp 100 ribu. Selebihnya baju dan buku buat pribadi mereka sendiri. Kalau renovasi, kita paling butuh sekitar Rp 6 (juta) hingga Rp 7 juta," ucap Tina.

Kalau renovasi, kita paling butuh sekitar Rp 6 (juta) hingga Rp 7 juta.

Kendala lain yang dihadapi, dia menambahkan, status sekolah tersebut belum memiliki izin dari Disdik Kota Bekasi. Selama ini pihaknya masih menginduk ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) Asrorul Huda. Oleh karena itu, ijazah dan rapor juga berasal dari sekolah tersebut. "Kita bayar tiap bulan ke sana. Kalau guru, kita ada dua orang," ucapnya.

Kepala Disdik Kota Bekasi, Inayatullah, mengatakan, pihaknya telah mengutus pengawas pendidikan di wilayah Pondok Melati untuk mengunjungi sekolah tersebut. Berdasarkan laporan yang diterima, TK Pegayon memang benar belum berizin. Inayatullah mendorong pengelola sekolah untuk segera mengurus izin. "Itu TK yayasan (swasta), urus izin dulu. Masa, TK enggak ada izin. Nanti tinggal minta persetujuan warga, terus ke pemkot, enggak bayar," kata Inayatullah.

Disinggung bantuan renovasi, Inayatullah menegaskan, disdik tidak memiliki alokasi bantuan khusus untuk renovasi TK. Terlebih, sekolah tersebut milik swasta yang belum berizin. Adapun bantuan renovasi gedung dari Disdik Kota Bekasi hanya diperuntukkan bagi sekolah SD dan SMP negeri "Nanti kalau sudah ada izinnya, paling diberikan BOP (bantuan operasional pendidikan) atau beasiswa."

Direktur Pendidikan dan Sosial LSM Sapulidi, Tengku Imam Kobul Mohammad Yahya, mengatakan, pemda pada dasarnya tidak dapat memberikan bantuan bagi sekolah yang belum berizin. Dia pun mendorong Pemerintah Kota Bekasi untuk membantu pengurusan izin sekolah tersebut. "Soalnya, kalau dia enggak berizin, nanti siswanya gak ada nomor induk sekolahnya. Pasti selama ini mereka nginduk," kata Imam. n riza wahyu pratama ed: erik purnama putra


×