Sejumlah anak-anak berada di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Rabu (10/11/2021). | ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Kabar Utama

25 Dec 2021, 04:57 WIB

Melangkahkan Kaki ke Masjid

Masjid merupakan tempat mulia di mana hamba bersujud.

OLEH A SYALABY ICHSAN

Masjid merupakan tempat mulia di mana hamba bersujud. Di masjid, shalat berjamaah didirikan Rasulullah SAW dan para sahabat berabad-abad silam sehingga diteladani umat Islam hingga sekarang.

Pencinta masjid menjadi satu dari tujuh golongan yang senantiasa dinaungi Allah Ta’ala pada hari ketika telah hilang naungan. Dialah yang disebut sebuah hadis riwayat Imam Muslim: Warajulun mu’allaqun bilmasjidi idzaa kharaja minhu hatta ya’uda ilaihi. Yang artinya, “Seseorang yang selalu terpaut pada masjid, jika keluar darinya sehingga dia kembali lagi ke sana.” 

Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, mu’allaqun berasal dari kata ta’liiq (bergantung). Dia menyerupakannya dengan sesuatu yang bergantung di masjid seperti lampu. Sebagai isyarat lamanya ketergantungan hatinya kepada masjid meski jasadnya berada di luar masjid. Padanan lainnya yang mungkin juga menjadi asal kata tersebut, yakni laaqah yang berarti kecintaan sangat dalam.

Hamba yang menyempurnakan wudhu dan menunaikan shalat di masjid bahkan membuat Allah SWT senang. Dalam kitab al-Imaamah fis Shalaah, rasa senang Allah karena orang itu bahkan dianalogikan bak senangnya keluarga yang kehilangan anggota keluarganya kemudian menemukannya kembali.

Ada banyak keutamaan ahli masjid di mata Allah SWT. Apalagi jika dia berjalan kaki. Amalannya itu akan meninggikan derajatnya, menghapuskan kesalahan, dan menghasilkan berbagai kebaikan.

“.. Yang demikian itu adalah jika salah seorang di antara kalian berwudhu lalu dia melakukannya dengan sebaik-baiknya kemudian dia berangkat ke masjid. Dia tidak berangkat selain untuk mengerjakan shalat. Tidaklah dia melangkahkan kaki satu langkah melainkan dengannya dia akan ditinggikan satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan.. “ (HR Bukhari dan Muslim).

photo
Jemaah melaksanakan ibadah shalat sunah di Masjid Raya Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Jumat (13/8). Ada banyak keutamaan ahli masjid di mata Allah SWT. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Para ahli masjid ini menjadi viral di langit. Menurut Sunan at-Tirmidzi, para malaikat mala’ul a’la (malaikat yang didekatkan) memperbincangkannya. Dia yang diam di masjid setelah shalat, berjalan kaki ke tempat shalat jamaah, dan menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai akan hidup dengan baik dan mati dengan baik. Dia akan terlepas dari kesalahan seperti saat dilahirkan ibunya.

Tidak hanya itu, Rasulullah SAW bahkan bersabda, "Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju tempat shalat, maka pahalanya sama seperti orang yang menunaikan haji yang berihram." (Sunan Abu Dawud).

Untuk menuju ke masjid, ada adab yang mesti diperhatikan. Pertama, berwudhu dan menyempurnakannya di rumah. Berikutnya, menghindari bau yang tidak sedap. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah dia menjauh dari kami atau menjauhi masjid kami dan hendaklah dia diam di rumahnya saja.”

Jamaah juga hendaknya berhias dan berpenampilan baik. Dengan berpakaian yang baik, kita juga bisa menjaga masjid bisa tetap bermartabat. Janganlah berpakaian sekadarnya saat hendak menghadap Allah. Tidakkah kita akan berpakaian yang pantas saat hendak bertemu dengan seorang kolega atau atasan?

Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam QS al-Araf:31. “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.”

 
Lafazkan doa ke luar rumah dan pergi dengan niat untuk menunaikan shalat.
 
 

Lafazkan doa ke luar rumah dan pergi dengan niat untuk menunaikan shalat. “Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi walaa haula walaa quwwata illaa billaah.” (Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan, hanya milik Allah."

Berjalan dengan penuh ketenangan dan khidmat. Melihat kedua terompah (sandal) sebelum masuk masjid. Jika melihat ada kotoran pada keduanya, hendaklah dia mengusapnya dengan tanah. Dia juga hendaknya tidak menjalinkan jemari saat menuju ke masjid dan saat shalat.

Kaki kanan juga hendaknya didahulukan saat masuk ke masjid. Langkah ini diiringi dengan ucapan doa. “Aku berlindung kepada Allah yang Mahaagung dan dengan wajah-Nya yang mulia serta kekuasaan-Nya yang abadi dari syaitan yang terkutuk.“ (Sunan Abu Dawud).

Ucapkan salam hingga terdengar para jamaah pada saat masuk masjid. Setelah itu, jika muazin telah mengumandangkan azan setelah masuk waktu shalat, hendaknya mengerjakan shalat sunah rawatib jika shalat fardhu yang dikerjakan itu memang ada shalat sunah sebelumnya.

Jika tidak, hendaknya dia mengerjakan shalat di antara dua azan. Dia juga bisa mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid. (Disarikan dari Ensiklopedi Shalat karya Dr Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani).

Wallahu a'lam.


×