Berburu rumah idaman (ilustrasi) | Pexels/Jeffrey Czum

Inovasi

22 Dec 2021, 18:27 WIB

Gaya Milenial Berburu Hunian

Rumah tapak masih merupakan tipe properti yang paling diminati.

Ayla Dimitri, seorang selebgram dan content creator, punya jurus sendiri untuk menemukan rumah idaman untuknya dan keluarga. Ia mengaku, sering berkeliling mencari rumah dan mengatakan kepada suaminya ingin rumah yang bisa untuk melakukan berbagai hal dengan anak-anaknya kelak. 

"Saya ingin anak-anak bisa bermain, punya tetangga yang sehat, bisa bersosialisasi dan melakukan aktivitas keluarga utuh. Hanya sesimpel olahraga bareng, jalan-jalan sore. Kita ingin kualitas hidup terpenuhi, serta keamanan dan kenyamanan. Penting banget," ujar dia dalam satu ajang pertemuan virtual bulan lalu.

Selain itu, untuk investasi properti juga sebaiknya pertimbangkan lokasi dan fasilitas di sekitarnya serta kemu dahan akses. "Kita menuju ke masa depan. Masa depan perlu hal-hal yang perlu dipenuhi untuk mencapai keseimbangan kehidupan, kita ingin dekat dengan alam, ingin semua serbapraktis, ingin kebutuhan mendasar semua terpenuhi. Grocery dekat, melakukan aktivitas olahraga mudah. Makin ke sini memilih sebuah hunian itu ceklis makin banyak karena ingin hidup saya seimbang," ungkapnya.

Country Manager Rumah123, Maria Herawati Manik, mengungkapkan, data tren pasar properti mengenai intensitas kepemilikan properti ditemukan bahwa rumah tapak masih merupakan tipe properti yang paling diminati, yaitu sekitar 88 persen. "Berdasarkan data portal Rumah123 dan hasil survei konsumen yang menunjukkan hasil serupa," ujarnya dalam ajang pertemuan virtual bulan lalu.

Sedangkan, data properti yang diminati cukup menarik, yaitu terjadi peningkatan sekitar 36,9 persen untuk permintaan ruko. "Ruko sekarang sedang mengalami peningkatan, orang mulai ingin mempunyai usaha sekaligus tempat tinggal," ujarnya.

Untuk harga properti yang diminati, properti harga di bawah Rp 1 miliar memang masih paling diminati sekitar 40 persen. Sedangkan, properti seharga Rp 1 miliar sampai Rp 3 miliar cukup diminati, yaitu sekitar 28 persen. Ia juga menyebutkan masih ada pasar untuk pro perti seharga Rp 5 miliar sampai Rp 10 miliar, yaitu lebih sekitar 8,2 persen. Sisanya peminat properti di atas Rp 10 miliar.

Selain harga, konsumen juga melihat lokasi. Menurutnya, terjadi pertumbuhan minat properti di Jawa Timur, bahkan melampaui daerah Jakarta, Jawa Barat, juga Banten.

Dari data-data tersebut, bisa disimpulkan bahwa pertimbangan pembelian properti meliput harga, lokasi, desain, dan fasilitas. Sementara itu, tiga teratas adalah harga, lokasi, dan fasilitas menjadi pertimbangan konsumen membeli properti.

Menurut Maria, finansial juga menjadi pertimbangan dalam membeli properti. Maria menambahkan, kalau dilihat dari tren pasar, metode pembayaran kredit bank masih jadi pilihan utama konsumen saat membeli hunian. Namun, pembayaran tunai juga ada 38 persen.

photo
Rumah tapak masih menjadi pilihan utama kaum milenial (ilustrasi). - (Pexels/Micah Eleazar)

Sementara itu, insentif pembayaran dari pengembang adalah promosi yang paling dicari oleh konsumen. Konsumen tertarik pada promo menarik dari pengembang, seperti adanya diskon atau cash back, yaitu sebanyak 55 persen, ada juga yang menyukai keringanan uang muka (down payment), bahkan ada DP nol persen. "Biasanya milenial senang sekali DP nol persen, tanpa DP bisa memiliki rumah dan bisa mencicil,'' kata dia.

Maria mengatakan, konsumen saat ini senang mencari properti yang multifungsi, rumah yang bisa digunakan untuk kerja karena sebagian bekerja dari rumah, bisa untuk olahraga karena semua aktivitas di rumah. Hal lainnya yang juga dilirik adalah teknologi rumah tersebut.

"Apalagi kaum milenial, pasangan muda, sekarang semua tentang gawai, di rumah senang smarthome. Wi-Fi merupakan hal penting saat ini karena WFH. Mau masuk rumah keyless, senang semua yang berhubungan dengan teknologi," paparnya.

Hal lain yang juga jadi pertimbangan adalah fasilitas baik transportasi maupun fasilitas lainnya. "Fasilitas bukan lagi mal, tapi concern terhadap fasilitas yang bisa out door activities, perubahan tren consumer saat ini, khususnya pandemi."

Maria mengatakan, hunian yang pantas untuk investasi harus dilihat dari lokasi itu sendiri. "Properti untuk investasi bukan melihat jangka pendek. Melihat lima sampai sepuluh tahun ke depan," ujarnya.

Selain lokasi yang jadi salah satu faktor pertimbangan, apa yang terbangun di sekitarnya juga patut dipertimbangkan. Jangan lupa lihat pula siapa pengembangnya. "Karena, nanti pembangunan terhadap perumahan di sekitarnya tersebut sangat mendukung nilai properti tersebut saat dijual," ujarnya.

Selain itu, fasilitas pendukungnya juga perlu dilihat, seperti sekolah, pusat perbelanjaan, dan transportasi. Kita juga harus tahu bahwa tidak mungkin orang hanya tinggal di Jakarta, karena itu faktor transportasi akan menjadi sangat penting. "Karena orang akan tetap move. Kalau tidak ada jangkauan tranportasi kita akan sulit saat menjual properti tersebut," paparnya.

General Manager Sales & Marketing Alam Sutera, Wikhen Rusli, menambahkan, mobilitas juga perlu dipertimbangkan, antara satu titik ke titik lainnya berapa lama dijangkau. Misalnya, layanan kesehatan sangat penting bagi usia senior. "Lingkungan kalau bagus, tapi kurang itu, kan percuma, akses ada, tapi jangkauannya seberapa dekat. Jadi, mobilitas antartitik sangat penting,'' ujar dia. 

 

 
"Saya ingin anak- anak bisa bermain, punya tetangga yang sehat, bisa bersosialisasi dan melakukan aktivitas keluarga utuh."
AYLA DIMITRI, Konten Kreator
 
 

 

Apresiasi di Masa Pandemi

photo
Progran Home for Heroes dari Rukita. - (Dok Rukita)

Pandemi covid-19 yang melanda Indonesia setahun belakangan, mendorong setiap masyarakat untuk tetap berjuang dan bertahan dalam menghadapi segala perubahan. Tak hanya para tenaga kesehatan yang menjadi pahlawan di garda terdepan, berbagai elemen masyarakat pun terjun langsung berkontribusi ke masyarakat meringankan beban akibat dampak pandemi.

Pandemi pun melahirkan banyak pahlawan yang memiliki inisiatif-inisiatif positif dalam membawa perubahan baik di sekitarnya. CEO Rukita Sabrina Soewatdy, menjelaskan berangkat dari kemunculan para pahlawan pandemi inilah, Rukita menggelar Program “Home For Heroes”, yakni program yang memberikan apresiasi kepada para ‘Pahlawan’ pandemi, yakni para milenial yang menjadi aktivis sosial. 

Mereka adalah penggagas inisiasi-inisiasi positif selama pandemi. Melalui program ini, Rukita memberikan apresiasi berupa kesempatan untuk tinggal di unit Rukita secara gratis selama enam bulan.

“Rukita sangat mengapresiasi para milenial yang memiliki inisiatif untuk berbuat baik terhadap sesama selama pandemi ini dan menginspirasi banyak orang. Untuk itu melalui program Home For Heroes ini kami memberikan kesempatan bagi para ‘Hero’ untuk tinggal di unit kami secara gratis. ” kata Sabrina dalam siaran pers yang diterima Republika

Sebelumnya di bulan November hingga Desember Rukita telah membuka pendaftaran secara terbuka lewat sosial media Rukita kepada para milenial yang ingin ikut serta program ini. Sekaligus Rukita juga menggandeng komunitas Turun Tangan untuk menominasikan kandidatnya. 

Kemudian, Rukita melakukan seleksi dan berhasil memilih tiga sosok “Pahlawan Pandemic” atau para inisiator program-program inspiratif di tengah Pandemi. 

Salah satu penerima program Home For Heroes, adalah Muhammad Alif Maulana, yang merupakan mahasiswa, inisiator program ‘Cebanan’ (Charity Tanpa beban) yang menerima unit Rukita RKBM Gandaria Jakarta Selatan. Melalui program ‘Cebanan’, ia mengajak rekan-rekannya di kampus dan lingkungan tinggalnya di Tangerang untuk bersama-sama mengumpulkan donasi untuk diberikan kepada orang-orang tidak mampu di sekitar Tangerang dan Jakarta. 

Donasi diberikan kepada para fakir miskin di jalanan, pemulung keliling, hingga panti asuhan yang disebarkan bersama teman-temannya. “Ke depannya saya ingin membuat program ‘Cebanan’ ini terus berkelanjutan tak hanya selama pandemi. Dan saya senang sekali dengan Program Home For Heroes ini, yang memberikan apresiasi kepada saya, yang kebetulan sangat membutuhkan hunian yang dekat dengan kampus saya. Saya berharap apa yang saya lakukan dapat menginspirasi teman-teman milenial lainnya,” ungkap Alif.


×