Seorang nasabah Bukopin Syariah melakukan transaksi keuangan di kantor KB Bukopin Mataram di Mataram, NTB, Kamis (14/10/2021). Bank KB Bukopin Syariah (KBBS) membuka Layanan Syariah Bank Umum (LSBU) di kantor Bank KB Bukopin Mataram guna ikut mensukseskan | ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Ekonomi

21 Dec 2021, 10:55 WIB

Musim Kolaborasi Digital Perbankan Syariah

Digital menjadi instrumen pengembangan perbankan syariah

Kolaborasi perbankan syariah dengan platform digital diyakini akan semakin kuat pada tahun depan. Sejumlah bank syariah ataupun perusahaan tekfin juga sudah menyampaikan komitmen tersebut guna mendukung penetrasi pasar dan penguatan digitalisasi.

PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk adalah salah satu bank yang sedang menjajaki kerja sama dengan platform digital. Direktur Utama Panin Dubai Syariah, Bratha Widjaja, mengatakan, salah satu platform digital tersebut bergerak untuk segmen ultramikro dan mikro.

"Kami sudah menandatangani nota kesepahaman untuk berkolaborasi dengan salah satu platform digital untuk segmen ultramikro dan mikro dan saat ini masih berproses," kata Bratha kepada Republika, Senin (20/12).

Bratha mengatakan, kolaborasi ini bertujuan meningkatkan penyaluran pembiayaan terhadap segmen tersebut. Menurutnya, upaya ini dapat membantu pencapaian target penyaluran pembiayaan untuk UMKM yang akan meningkat menjadi 30 persen pada 2024.

Bank Indonesia telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 23/13/PBI/2021 tentang Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM). Dalam aturan itu, perbankan harus memenuhi RPIM UMKM bertahap hingga mencapai 30 persen pada Juni 2024.

"Tentunya kolaborasi bank syariah dengan platform digital adalah salah satu cara untuk mempercepat pencapaian rasio UMKM tersebut," katanya.

Bratha menyampaikan, kolaborasi tersebut juga salah satu cara Panin Dubai Syariah untuk melakukan digitalisasi. Arah pengembangan digital bank akan lebih menyasar pada segmen ritel.

Ia meyakini, digitalisasi menjadi angin segar bagi industri. Dengan kemudahan yang diberikan melalui perbankan digital, bank syariah dapat memperbesar pasar yang selama ini dikuasai oleh perbankan konvensional.

Pengamat ekonomi syariah Indef, Fauziah Rizki Yuniarti, menyampaikan, potensi kolaborasi perbankan syariah sangat besar didorong era 4.0 dan pandemi. Menurutnya, digitalisasi saat ini menjadi sangat krusial. Meski begitu, digitalisasi membutuhkan modal yang tidak kecil dan perbankan syariah memiliki keterbatasan permodalan. Sehingga, kolaborasi menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan tersebut.

"Kita lihat saja nanti strategi-strategi bank syariah yang ada apakah akan 100 persen digital, partially digital, atau pura-pura digital," kata Fauziah.

Dia menilai, pasar akan merespons dengan cepat atas perubahan positif bank syariah yang menerapkan digitalisasi atau kolaborasi dengan tekfin.  Dengan dukungan digitalisasi, dia meyakini akan sangat efektif dalam membantu meningkatkan penetrasi pasar.

"Digitalisasi memang big investment, tapi untuk jangka panjang akan sangat bermanfaat," katanya.

Menurut Fauziah, bank syariah kecil yang memiliki keterbatasan modal untuk digitalisasi dapat menggenjot kolaborasi. Selain itu, sektor keuangan sosial syariah atau zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) juga telah merasakan manfaat kolaborasi dengan mengoptimalkan pembayaran digital melalui perbankan, marketplace, dompet elektronik, asuransi, dan lainnya. Sehingga, penghimpunan lebih masif dan diharapkan dampaknya bisa lebih besar.

“Jadi, sinergi dan kolaborasi sangat krusial sebagai strategi pengembangan keuangan syariah nasional baik keuangan komersial seperti pasar modal, perbankan, dan industri keuangan nonbank maupun keuangan sosial,” ujarnya.


×