Jiwa mudanya membuat Susanti semakin antusias dan jatuh cinta dengan sains. | DOK Pribadi

Uswah

19 Dec 2021, 03:04 WIB

Jihad Sains Penyintas Kanker

Jiwa mudanya membuat Susanti semakin antusias dan jatuh cinta dengan sains.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Menjadi seorang penyintas kanker tak lantas membuat Susanti patah arang. Dosen Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Jawa Tengah, ini bahkan berkontribusi dalam Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 global melalui startup di bidang farmasi bernama Pathgen.

Kiprah Susanti dalam bidang sains dan teknologi tak lepas dari perjalanan panjangnya dalam bidang penelitian. Secara akademik, Susanti memang telah lama bergelut dalam bidang penelitian atau riset. Dia bahkan memulai penelitian tersebut sejak berseragam putih abu-abu.

“Saya kan suka pelajaran biologi-kimia, suka sains. Maka begitu kuliah S1, saya ambil Fakultas Farmasi di UGM. Dari situ sepertinya, hampir separuh waktu saya, ya, kerja di lab (laboratorium),” kata Susanti saat dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Perjalanan akademik Susanti dalam bidang sains juga pernah ditempa di Australia. Saat itu, ia berkesempatan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Australia untuk bersekolah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Negeri Kanguru tersebut. Di situlah Susanti mulai meneliti tentang pembuluh darah baru yang dapat mendukung penyebaran kanker.

Di Australia, dia bertemu dengan mentor dan senior yang inspiratif dan dedikatif dalam membimbing risetnya. Ketika itu, jiwa mudanya membuat Susanti semakin antusias dan jatuh cinta dengan sains.

Namun siapa sangka, saat hendak kembali ke Australia untuk menempuh studi S3 pada Januari 2014, dia terdiagnosa kanker stadium tiga. “Jadi tertunda semua S3-nya, akhirnya saya lakukan treatment pengobatan kanker,” kata Susanti.

 
Tertunda semua S3-nya, akhirnya saya lakukan treatment pengobatan kanker
 
 

Meski sempat bersedih karena terdiagnosa kanker, Susanti dengan cepat meyakini bahwa itu adalah cara lain bagi Allah untuk menempanya menjadi pribadi yang lebih bertawakal. Rangkaian pengobatan dan kemoterapi yang diikuti lambat laun menghasilkan perkembangan positif bagi  Susanti.

Setelah hampir dua tahun melakukan perawatan kanker, Susanti pun memutuskan untuk melanjutkan studi S3 pada Oktober 2015. Keputusan itu tak lepas dari dukungan suami dan anak-anaknya.

“Sebenarnya saya sudah nggak mau sekolah lagi, mau di rumah saja urus suami dan anak. Tapi ternyata, suami saya bilang bahwa ketika melihat saya bekerja di laboratorium itu sudah menjadi jiwa saya,” kata dia.

Berjihad lewat sains

Saat pertama kali terdiagnosa kanker, Susanti sempat mempertanyakan kepada Allah mengapa dirinya yang diberikan ujian tersebut. Setelah melakukan perenungan mendalam, dia menyadari bahwa setiap hal yang menimpa setiap makhluk pasti ada maksud tertentu dari Allah SWT.

Dia pun meyakini kontribusinya di dunia penelitian dapat memberikan manfaat seluas-luasnya. 

“Saya ingin memanfaatkan sisa umur saya dengan hal-hal yang saya sukai. Jadi drive-nya untuk kemanfaatan saya pribadi, keluarga—dalam hal ini anak saya—yang suatu saat mereka bisa bilang, ‘Mamah saya tidak pernah menyerah’. Dan kalau bisa bermanfaat untuk masyarakat, kenapa tidak? Saya tidak mampu berjihad lewat dakwah, tapi mudah-mudahan saya bisa berjihad lewat ilmu pengetahuan,” kata Susanti.

 
Saya tidak mampu berjihad lewat dakwah, tapi mudah-mudahan saya bisa berjihad lewat ilmu pengetahuan.
 
 

Bagi Susanti, kanker bukanlah akhir dari segalanya. Buktinya, di tengah kesibukannya menempuh studi patologi molekuler dan genetika di University of Nottingham, Inggris, dia mampu mengambil peran dalam penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Saat kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi di Indonesia, dia menawarkan diri ikut serta dalam mengambil peran. Namanya kemudian dimasukkan sebagai anggota Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19. Bersama tim peneliti Nottingham-Indonesia Collaboration for Clinical Research and Training (NICCRAT), mereka membantu pelatihan menjalankan tes PCR dan tes sequencing.

Susanti juga dikenal sebagai orang yang membesut start-up bernama Pathgen Diagnostik Teknologi. Dia mengembangkan produk tes genetik untuk pasien kanker usus yang berbiaya terjangkau.

Dia berharap, tes tersebut dapat digunakan secara luas di Indonesia maupun negara berkembang lainnya. Yakni dalam membantu menguatkan deteksi dini dan pencegahan kanker usus di Indonesia.

 

PROFIL

Nama lengkap: Susanti

Riwayat pendidikan: S1 di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, S2 di The John Curtin School of Medical Research, Australian National University (ANU) 2009-2011, PhD in Medical Oncology, School of Medicine, The University of Nottingham, UK 2015-2020.

Riwayat aktivitas: aktif di sejumlah riset sains dan teknologi. Founder/CEO PathGen Diagnostik Teknologi (2020-sekarang).

Prestasi: sejumlah prestasi ditorehkan Susanti, salah satunya adalah peraih piagam penghargaan dari PP Muhammadiyah di bidang ilmu pengetahuan.


×